AS Makin Rajin Mengebor, Harga Minyak Tergelincir

redaksi.co.id - AS Makin Rajin Mengebor, Harga Minyak Tergelincir Harga minyak pada Senin jatuh karena berita meningkatnya kegiatan pengeboran Amerika Serikat, yang memunculkan kekhawatiran pasokan global...

34 0

redaksi.co.id – AS Makin Rajin Mengebor, Harga Minyak Tergelincir

Harga minyak pada Senin jatuh karena berita meningkatnya kegiatan pengeboran Amerika Serikat, yang memunculkan kekhawatiran pasokan global kembali bertambah.

Padahal negara-negara produsen minyak dunia tengah mencoba mematuhi perjanjian pemotongan poduksi untuk mengerek harga.

Patokan harga minyak berjanga West Texas Intermediate (WTI) turun satu persen di level 52,63 dollar AS per barel. Adapun patokan harga minyak Brent turun 32 sen di 55,2 dollar AS per barel.

Menurut data Baker Hughes, jumlah rig minyak aktif AS naik ke level tertinggi sejak November 2015. Peningkatan jumlah rig menunjukkan pengebor mengambil keuntungan di harga minyak di atas 50 dollar AS per barel.

Tiga faktor yang telah membebani harga adalah penguatan dollar, peningkatan stabil jumlah rig AS, serta data kepatuhan terbaru OPEC, kata analis minyak dari Landesbank Baden-Wuerttemberg, Frank Klumpp, dikutip dari CNBC.com, Selasa (31/1/2017).

OPEC dan negara produsen minyak dunia sepakat memotong produksi sebanyak 1,8 juta barel per hari (bph) di semester pertama tahun ini untuk menurunkan kelebihan pasokan global.

Analis energi dari CHS Minnesota Tony Headrick, setidaknya 75 persen dari target pemotongan akan terpenuhi.

Ada kekhawatiran seberapa besar pengurangannya dibandingkan peningkatn produksi minyak mentah AS, kata Headrick.

Analis komoditas utama di SEB Markets di Oslo, Bjarne Schieldrop memperkirakan jumlah rig AS akan terus bertambah tujuh rig per minggu selama semester pertama tahun ini.

Sementara itu JP Morga memperhitungkan, kemungkinan harga minyak bisa melampaui 60 dollar AS per barel pada 2018. Tetapi, hal itu harus didukung pengurangan produksi OPEC bahkan hingga kuartal-III 2017.

Penulis: Estu Suryowati

Editor: Bambang Priyo Jatmiko

Copyright Kompas.com

(red/ochman/rief/RA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!