Presiden Duterte Perintahkan Tentara Buru Pengedar Narkoba

redaksi.co.id - Presiden Duterte Perintahkan Tentara Buru Pengedar Narkoba Beberapa hari lalu Presiden Filipina Rodrigo Duterte memutuskan menghentikan sementara perang melawan narkoba yang dikobarkannya.Alasan Duterte, kepolisian...

20 0

redaksi.co.id – Presiden Duterte Perintahkan Tentara Buru Pengedar Narkoba

Beberapa hari lalu Presiden Filipina Rodrigo Duterte memutuskan menghentikan sementara perang melawan narkoba yang dikobarkannya.

Alasan Duterte, kepolisian negeri itu diketahui masih korup dan butuh waktu untuk membersihkan lembaga tersebut.

Namun, pada Kamis (2/2/2017), Duterte mencanangkan akan melanjutkan perang melawan narkoba dan akan membunuh lebih banyak pengedar narkoba.

Caranya, dia akan mengerahkan tentara untuk memburu para bandar, pengedar, dan pecandu narkotika.

“Saya akan melibatkan angkatan bersenjata Filipina dan menjadikan masalah narkoba sebagai ancaman keamanan nasional. Jadi saya akan minta tentara untuk membantu,” kata Duterte dalam pidatonya.

Kepolisian Filipina menangguhkan perang melawan narkoba sampai personel kepolisian yang “korup” di negara itu telah dibersihkan.

Sebelumnya, kepala Kepolisian Filipina, Ronald dela Rosa menegaskan, kesatuan antinarkoba akan dibubarkan.

Langkah itu ditempuh setelah Dela Rosa menerima perintah Presiden Rodrigo Duterte untuk membersihkan organisasi itu terlebih dahulu.

“Kami akan membersihkan korps kami lalu mungkin setelah itu, kami bisa melanjutkan peperangan terhadap narkoba,” kata Dela Rosa kepada wartawan di Manila.

Kebijakan perang melawan narkoba yang dikobarkan Presiden Duterte menuai kritik dari berbagai kelompok pembela hak asasi manusia dan negara-negara Barat, meski di dalam negeri Duterte mendapat sokongan kuat dari rakyat.

Pada awalnya dia berjanji menuntaskan masalah narkoba hingga Desember 2016, tapi setelah tenggat berlalu, dia memperpanjangnya sampai Maret 2017. Kini, keputusan itu kembali diralat.

“Saya akan memperpanjangnya sampai akhir masa jabatan saya Maret tak lagi berlaku,” kata Duterte, yang menjabat hingga 2022.

Senator Leila De Lima, lawan politik Duterte yang terkenal vokal, menilai presiden dan kepala kepolisian seharusnya memberi perintah mengakhiri pembunuhan.

“Pembubaran kesatuan antinarkoba di tubuh kepolisian berarti mereka tahu bahwa rekan-rekan mereka terlibat dalam operasi anti-narkoba … terlibat dalam kegiatan ilegal di balik kedok perang melawan narkoba,” kata De Lima kepada stasiun televisi ANC.

Berdasarkan data pemerintah Filipina, lebih dari 7.000 orang tewas sejak peperangan terhadap narkoba dan pengedarnya dimulai sejak Duterte menyandang jabatan presiden.

Salah seorang yang tewas adalah pebisnis asal Korea Selatan, Jee Ick-joo. Dia tewas di markas kepolisian pada Oktober 2016 lalu setelah diculik dari rumahnya dan dibunuh pasukan anti-narkoba.

Departemen Kehakiman belakangan menyatakan, Jee diculik dengan alasan terlibat perdagangan narkoba.

Setelah mencekiknya, pembunuhnya berpura-pura Jee masih hidup untuk meminta uang tebusan ke keluarga pengusaha itu. Insiden tersebut membuat berang Duterte.

“Anda polisi adalah yang paling korup. Anda korup hingga ke akar-akarnya,” kata Duterte, seraya menambahkan bahwa 40 persen polisi terbiasa melakukan korupsi.

Sebelumnya, Duterte membenarkan aksi tembak di tempat terhadap pengedar narkoba. Dia menegaskan akan membela polisi yang membunuh pelaku kejahatan dan warga sipil demi tugas.

“Ketika saya mengatakan saya akan melindungi polisi, saya akan melindungi polisi. Namun, saya tidak akan melindungi kebohongan,” ujarnya.

Editor: Ervan Hardoko

Sumber:

Copyright Kompas.com

(red/ega/wi/riesta/VDA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!