Kisah Pahlawan Teror Inggris yang Dihantui Trauma Bom Bali

redaksi.co.id - Kisah Pahlawan Teror Inggris yang Dihantui Trauma Bom Bali Beberapa saat sebelum jarum jam menunjuk ke pukul 15.00, Rabu 22 Maret 2017 waktu Inggris,...

55 0

redaksi.co.id – Kisah Pahlawan Teror Inggris yang Dihantui Trauma Bom Bali

Beberapa saat sebelum jarum jam menunjuk ke pukul 15.00, Rabu 22 Maret 2017 waktu Inggris, sebuah mobil melaju cepat di Westminster Bridge. Kendaraan yang ugal-ugalan itu menabrak para pejalan kaki yang melintas di jembatan sebelum akhirnya menghantam pagar.

Setelah insiden tersebut, seorang pria — entah pelaku yang sama atau lainnya — mencoba memasuki gedung parlemen. Ia mempersenjatai diri dengan pisau panjang.

Pelaku kemudian menikam seorang polisi yang berjaga di halaman gedung dewan perwakilan rakyat.

Aksi pelaku dihentikan tembakan aparat lain. Namun, korban terlanjur rebah bersimbah darah. Ia dalam kondisi kritis.

Kemudian pertolongan datang. Seorang anggota parlemen dari Partai Konservatif Inggris, Tobias Ellwood bergegas menghampiri.

Ketika orang berlari menjauh untuk menyelamatkan diri, ia justru melawan arus, menghampiri korban.

Seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (23/3/2017), Ellwood memberikan pernapasan buatan pada korban dan menekan pembuluh yang robek untuk menghentikan darah yang mengucur.

Mantan tentara dengan pangkat terakhir kapten itu berusaha melakukan apa yang ia bisa sembari menunggu paramedis dan ambulans udara datang ke Parliament Square.

Namun, upayanya tak berhasil. Korban meninggal dunia. Serangan yang diyakini sebagai aksi teror itu menewaskan setidaknya empat orang, termasuk pelaku.

Sejumlah foto yang diambil dari lokasi kejadian menunjukkan, ada darah korban di dahi politikus tersebut, saat ia dikelilingi paramedis dan polisi.

Ia kemudian tertangkap kamera, dengan rembesan cairan merah di lengan kemeja dan jasnya.

Ketika ambulans datang, Ellwood bangkit dan kembali ke kantornya di Komisi Luar Negeri. Ia terlihat sedih. Sejumlah orang yang menyaksikan upayanya menghampiri, menepuk pundak sang politisi.

“Aku sudah mencoba menghentikan aliran darah dan memberikan pernapasan buatan sembari menanti paramedis datang. Tapi, menurutku, korban kehilangan terlalu banyak darah,” kata Tobias Ellwood.

“Ia menderita banyak luka, di bawah lengan dan punggung.”

Meski gagal menyelamatkan nyawa korban, sejumlah pihak memuji aksinya yang heroik. Ia dianggap sebagai salah satu pahlawan yang muncul di tengah teror Inggris.

“Apa yang dilakukan Tobias adalah apa yang Anda bisa harapkan dari seorang mantan anggota korps baju hijau (tentara),” kata politisi Tory, Adam Holloway yang juga pernah terjun di kemiliteran.

Pujian juga datang dari politisi Inggris lain, termasuk mereka yang tidak satu kubu.

Tobias Ellwood pernah bergabung dalam kesatuan Royal Green Jackets dari 1991 hingga 1996. Selama bertugas ia sempat ditempatkan di Irlandia Utara, Siprus, Kuwait, Jerman, Gibraltar, dan Bosnia.

Ia meninggalkan Angkatan Darat dengan pangkat kapten dan masih terdaftar sebagai tentara cadangan hingga akhirnya ia jadi anggota parlemen mewakili Bournemouth East pada 2005.

Insiden penyerangan diduga teror di Inggris terjadi tepat pada peringatan setahun aksi teroris di Brussels, Belgia pada 22 Maret 2016.

Ledakan tiga bom terkoordinasi di ibukota Belgia itu — dua di Bandara Brussels dan lainnya di stasiun metro Maalbeek –menewaskan lebih dari 300 orang.

Namun, bagi Ellwood ada kejadian teror yang selamanya tak akan lekang dari ingatan: Bom Bali 2002.

Ia kehilangan saudaranya, Jon dalam peristiwa bom Bali I pada Oktober 2002, yang menewaskan 202 orang termasuk 27 warga Inggris.

Pada peringatan 10 tahun Bom Bali, Ellwood pernah mengisahkan kesulitannya untuk merepatriasi jasad saudaranya.

“Kami hanya ingin membawa kembali jasad saudaraku ke Inggris. Sesederhana itu, tapi ternyata sama sekali tak sederhana,” kata dia pada 2012 lalu.

“Diperlukan sertifikat kematian dalam dua bahasa, sertifikat pembalseman, izin penyegelan. Semua proses ini membutuhkan waktu dan partisipasi banyak orang.”

“Saya harus melakukan banyak hal hingga ke titik di mana saya akhirnya terbaring di peti matiku sendiri.”

(red/ijayanto/W)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!