Konsep "Mati Sajroning Urip" yang Jadi Bekal Djarot Hadapi Cacian…

redaksi.co.id - Konsep "Mati Sajroning Urip" yang Jadi Bekal Djarot Hadapi Cacian... Pertemuan dengan para pendukung sering dimanfaatkan calon wakil gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat,...

53 0

redaksi.co.id – Konsep "Mati Sajroning Urip" yang Jadi Bekal Djarot Hadapi Cacian…

Pertemuan dengan para pendukung sering dimanfaatkan calon wakil gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, untuk curhat dan memberi pesan-pesan.

Ketika bertemu dengan seniman wayang orang dan ketoprak misalnya, Djarot bercerita tentang penolakan yang dia terima selama ini, salah satunya penolakan ketika dia menghadiri pengajian di Kramat.

Djarot mengatakan, orang yang menggelar pengajian itu diminta untuk membubarkan pengajian.

“Untungnya yang punya rumah lebih berani, jadi pengajiannya tetap lanjut,” kata Djarot di Sunter Agung, Jakarta Utara, Rabu (22/3/2017).

FOTO: Cawagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat bersama KH Salahudin Wahid atau Gus Sholah dan kakak Menteri Agama, Gus Adib Saifuddin, di Jalan Bangka, Rabu (22/3/2017).KOMPAS.com/JESSI CARINA

Djarot juga bercerita tentang bendera-bendera kuning yang menyambutnya saat dia datang ke Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk.

Bendera kematian itu dipasang di sepanjang jalan dan satu tiang dengan bendera PDI-P. Padahal, tidak ada yang meninggal di jalan itu.

Djarot mengatakan, dia hanya bisa bersabar. Untuk menghadapi semua ini, Djarot menerapkan konsep “mati sajroning urip”. Sebuah ungkapan Jawa yang bermakna “mati di dalam hidup”.

“Apa yang dimatikan dalam hidup? Nafsu, amarah, dendam, benci, kita matikan,” ujar Djarot.

Ia berupaya mematikan segala emosi negatif yang ada pada dirinya. Dengan cara itulah, dia mencoba bersabar dan menoleransi perbuatan tidak menyenangkan itu.

Menurut Djarot, orang yang menghalangi atau mencoba mengganggu aktivitasnya tidak “mati sajroning urip”.

“Dia justru hidup dikuasai nafsu angkara murka. Nafsu untuk mengolok, membenci, menistakan. Padahal ini yang harusnya kita matikan agar Jakarta sejuk,” ujar Djarot.

Pesan ke pendukung

Djarot pun meminta para pendukungnya ikut menerapkan konsep “mati sajroning urip” itu. Djarot tidak ingin mereka marah lalu membalas perbuatan itu.

Salah seorang seniman pendukungnya tiba-tiba “nyeletuk”. “Pak, tapi kita dikafir-kafirkan,” ujar dia.

“Tidak apa-apa, saya juga dikafirkan, dibilang najis, maafkan saja,” jawab Djarot.

Ia pun terkenang peristiwa penolakannya di Masjid Attin beberapa waktu lalu. Ketika itu, dia merasa diteriaki dengan ujaran kebencian oleh lautan manusia.

Djarot mengatakan, Nabi Muhammad SAW juga pernah dilempari kotoran dan dicaci-maki, tetapi tetap sabar.

Djarot meminta pendukungnya tetap bersabar. “Jadi enggak apa-apa Bu, itu tidak usah dilawan. Sing sabar ya Bu,” ujar Djarot.

Penulis: Jessi Carina

Editor: Icha Rastika

Copyright Kompas.com

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!