BI Terbitkan Aturan Penerbitan Sertifikat Deposito

redaksi.co.id - BI Terbitkan Aturan Penerbitan Sertifikat Deposito Penerbitan Sertifikat Deposito atau Negotiable Certificate Deposit (NCD) semakin meningkat dalam dua tahun terakhir hingga mencapai Rp 20,25...

54 0

redaksi.co.id – BI Terbitkan Aturan Penerbitan Sertifikat Deposito

Penerbitan Sertifikat Deposito atau Negotiable Certificate Deposit (NCD) semakin meningkat dalam dua tahun terakhir hingga mencapai Rp 20,25 triliun pada Maret 2017. Namun transaksi di pasar keuangan sekunder masih sangat rendah.

Untuk itu Bank Indonesia (BI) menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 19/2/PBI/2017 tentang transaksi sertifikat deposito pasar uang yang mulai berlaku pada 1 Juli 2017. Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Nanang Hendarsah menjelaskan, dalam 10 tahun terakhir, kondisi pasar uang Indonesia masih didominasi oleh penerbitan surat berharga oleh BI dan transaksi pinjam meminjam antar bank.

Kondisi ini kurang mendukung pendalaman pasar uang dan implementasi kebijakan moneter BI. Salah satu instrumen pasar uang yang terus didorong transaksinya yakni sertifikat deposito. Sertifikat deposito ini penting untuk memperbaiki struktur liabilitas atau Dana Pihak Ketiga (DPK) bank dibandingkan menerima tabungan atau deposito.

“Saat ini dari sebanyak (16) bank yang menerbitkan NCD sebesar (Rp 20,25 triliun), baru sebanyak Rp 5,8 miliar yang ditransaksikan. Makanya perlu ada aturan ini,” ujar Nanang saat Bincang Bersama Media di Gedung Bank Indonesia, Kamis (23/3).

Sedikitnya jumlah yang ditransaksikan karena pada umumnya pelaku pasar menunggu adanya kepastian regulasi untuk bertransaksi. Tidak adanya payung hukum membuat perbankan selama ini lebih banyak bertransaksi di pasar ritel melalui deposito.

Dengan berlakunya PBI ini nantinya akan membuat pasar uang khususnya pasar sertifikat deposito akan lebih aktif diperdagangkan dan lebih efisien. Bagi bank akan memberikan manfaat karena sertifikat deposito ini berjangka waktu lebih panjang dibandingkan tabungan dan deposito.

Sementara dari sisi pembeli atau investor maka sertifikat deposito dapat digunakan sebagai instrumen untuk mengelola likuiditas. Karena meskipun jangka waktu tiga tahun, namun bisa dijual setiap saat di pasar. Dengan demikian, apabila transaksi sertifikat deposito aktif diperdagangkan maka akan membuat pasar uang lebih dalam, likiud dan efisien.

“Ini akan membantu transmisi kebijakan moneter. Selain membantu bank dalam melakukan pendanaan dengan struktur pendanaan yang lebih baik,”kata Nanang.

Dengan penerbitan aturan ini diyakini akan mendorong perbankan untuk menerbitkan sertifikat deposito. Selain itu, juga akan mengundang lembaga keuangan lain seperti dana pensiun, asuransi dan lembaga lain, termasuk korporasi dan individu agar dapat membeli sertifikat deposito.

Ke depannya Bank Indonesia akan mendorong instrumen pasar uang yang lain. Salah satunya dengan menerbitkan PBI surat berharga komersial (commercial paper) yang akan diterbitkan pada Mei 2017 mendatang, dan juga akan diberlakukan pada Juli 2017.

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!