Prajurit Aborigin Belajar dari Suku Dayak Cara Hadapi Kolonialisme

redaksi.co.id - Prajurit Aborigin Belajar dari Suku Dayak Cara Hadapi Kolonialisme Kisah dua dunia, yang satu mengenai ketidaksetaraan dan rasialisme, dan yang lainnya mengenai persahabatan dan...

49 0

redaksi.co.id – Prajurit Aborigin Belajar dari Suku Dayak Cara Hadapi Kolonialisme

Kisah dua dunia, yang satu mengenai ketidaksetaraan dan rasialisme, dan yang lainnya mengenai persahabatan dan patriotisme, kini bisa ditelusuri dalam pameran digital terbaru yang digelar National Archives of Australia. Pameran ini mengungkap bagaimana seorang prajurit Aborigin belajar dari suku Dayak di Kalimantan.

Pameran bertajuk Facing Two Fronts menceritakan pertempuran yang dilakukan prajurit Aborigin setelah mereka kembali dari perang, rasa frustrasi sejumlah anggota keluarganya yang masih merasa sampai hari ini.

“Tidak sesederhana mengatakan dengan pengabdian militer berarti seseorang bisa mendapatkan hak atau kondisi yang lebih baik,” kata kurator pameran, Amy Lay.

“Banyak orang ikut mendaftar dengan pemikiran hal itu merupakan kesempatan mereka memperbaiki kondisi hidupnya. Mungkin hal itu benar saat masa pengabdian mereka,” jelasnya.

“Sekarang banyak dilaporkan adanya pemahaman umum mengenai kesetaraan dalam Angkatan Darat saat Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Namun begitu pulang Perang Dunia I, tak banyak perbaikan, dan tidak banyak kemajuan yang diperoleh oleh pengabdian di militer,” tambah Lay.

Lay bercerita kisag Ted Sumner, yang biasa dipanggil Uncle Ted, seorang pria Aborigin dari suku Ngarrindjeri di Point McCleay dekat Adelaide di Australia Selatan.

Supplied: NAA

“Dia harus mendapatkan izin dari Protector of South Australian Aboriginals untuk mengizinkannya mendaftar sebagai prajurit dalam Perang Dunia I. Orang tuanya tidak bisa memberikan izin tersebut karena mereka tidak dianggap sebagai walinya. Protektor itu iya,” Lay.

Salah seorang cucu Uncle Ted, Moogy Sumner memberitahu Lay Ted bergabung menjadi tentara dengan harapan bisa memperbaiki kehidupannya. “Saya pikir dia sudah harus bertempur bahkan sebelum berangkat dari sini,” kata Sumner.

“Ketika dia berada dalam misionirasi di sini, orang harus mendapatkan izin untuk pergi berbelanja. Orang harus mendapatkan izin pergi ke kota tetangga. Jadi mendapatkan izin pergi di bagian lain dunia, itu merupakan langkah besar,” jelasnya.

Kehidupannya tidak membaik saat Uncle Ted pulang ke kampungnya. Para tentara Aborigin yang kembali dari perang tidak dimasukkan RSL atau kelompok veteran dan pawai dan biasanya ditolak untuk menghuni pemukiman tentara.

“Uncle Ted, dia beruntung bisa pulang kampung. Tapi hal itu tidak mengubah apa-apa baginya. Dia kembali ke dalam misionaris dan tetap dipandang enteng,” kata Sumner.

Supplied: NAA

Tapi Lay mengatakan gambarannya mulai berubah secara perlahan setelah Perang Dunia II. “Seusai PD II kita melihat adanya dukungan besar bagi hak-hak warga Aborigin dan Torres Strait Islander, seperti anggota Federal Council for the Advancement of Aboriginal and Torres Strait Islanders, seperti Uncle Joe McGinness,” kata Lay.

Uncle Joe berjuang di Kalimantan pada tahun 1945. Saat berada di sana, dia memiliki pengalaman yang mengubah dirinya.

Supplied: NAA

“Dia benar-benar menyaksikan cara orang Dayak asli di Kalimantan yang berkaitan dengan penjajah. Dia menemukan mereka cenderung menghilang ke perbukitan. Mereka tidak ingin berinteraksi dengan kolonisasi,” kata Lay.

“Itu memberinya kesempatan memikirkan cara warga Aborigin dan Torres Strait Islander berurusan dengan kolonisasi di Australia,” jelasnya.

Uncle Joe pulang ke Australia dan menjadi orang Aborigin pertama yang jadi ketua Federal Council for Aboriginal Advancement, dan berperan penting mendorong referendum tahun 1967 dan kampanye “yes”, yang memberikan hak untuk memilih bagi penduduk Aborigin.

“Saat itu waktunya stabil secara sosial. Kampanye untuk meningkatkan hak-hak dan kondisi orang Aborigin, terjadi dari tempat yang sama, muncul dari pemahaman baru tentang kesetaraan,” kata Lay.

Tapi Lay mengatakan bagi banyak orang, rasa sakit akibat diskriminasi dari masa lalu masih terus terasa. “Tentu saja masih banyak kesedihan dan frustrasi bagi banyak anggota keluarga dari mereka yang mengabdi (di militer) sebelumnya,” katanya.

“Banyak dari mereka yang saya temui benar-benar frustrasi mengenai keluarga mereka… tidak boleh mendapatkan manfaat, atau tidak boleh menggunakan RSL, atau tidak boleh ikut berpawai. Kisah ini masih terus berlangsung,” ujarnya.

Diterbitkan Pukul 12:00 AEST 24 Maret 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris.

(red/ijayanto/W)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!