Hubungan Sepak Bola China, Italia, dan Indonesia

redaksi.co.id - Hubungan Sepak Bola China, Italia, dan Indonesia Sepak bola di Asia menggeliat. Salah satu alasannya karena manuver ekonomi klub-klub Liga China melalui pembelian pemain...

55 0

redaksi.co.id – Hubungan Sepak Bola China, Italia, dan Indonesia

Sepak bola di Asia menggeliat. Salah satu alasannya karena manuver ekonomi klub-klub Liga China melalui pembelian pemain top. Namun, hal tersebut tak lantas menjadi faktor utama yang bakal langgeng memajukan dunia bal-balan.

Berbekal kekuatan finansial, klub China ramai-ramai memboyong pemain asing berharga mahal untuk mentas di kompetisi mereka.

Liga lokal Negeri Tirai Bambu jadi populer dan dibicarakan khalayak. Meski demikian, terdapat hal lebih penting dari sekadar misi meningkatkan kualitas kompetisi dengan pemain berharga selangit.

“Demi meningkatkan perkembangan sepak bola, China menarik banyak pemain mahal. Namun, langkah itu tidak benar tanpa adanya usaha mengembangkan potensi pemain lokal di jenjang usia dini,” kata Nicola Innocentin,Director of Players and Coaches Managing Department Global Football Service kepada JUARA.

Global Football Service adalah sebuah instansi internasional yang bergerak di bidang pelayanan multisektor di dunia sepak bola.

Program mereka di antaranya mencakup bidang manajemen pemain dan pelatih, serta pendidikan pelatihan bagi individu.

FOTO: Director of Players and Coaches Managing Department Global Football Service, Nicola Innocentin (kiri), berpose dengan Didier Drogba, eks striker Chelsea yang juga pernah memperkuat klub China, Shanghai Shenhua. (ISTIMEWA)

Karena dekat dengan persoalan dunia bal-balan, Innocentin menyoroti usaha fundamental yang tak boleh luput dilakukan dalam mendongkrak kualitas sepak bola.

“Bukan hanya membawa pemain top, mereka juga harus mengembangkan potensi pesepak bola. Caranya melalui sentuhan pelatih berkualitas pula. Lantas, siapa yang akan melatih para pemain ini nantinya?” ujar Innocentin.

“Saat ini, mereka harus mendapatkan pengetahuan sepak bola dari pelatih berkualifikasi tinggi dan dukungan infrastruktur memadai,” kata pria Italia yang sempat ditempa diakademi Parma pada 1990-an awal ini.

Lebih lanjut, Innocentin membahas hubungan sepak bola China dengan di negara asalnya.

FOTO: Pelaksanaan kamp latihan bagi pemain atau pendidikan pelatih termasuk dalam program pelayanan yang dikelola oleh Global Football Service. (DOK. GLOBAL FOOTBALL SERVICE)

Berbanding terbalik dengan kondisi di China, sepak bola Italiakini melakoni tren untuk memproduksi pemain-pemain muda bertalenta yang menonjol di skuat utama klub-klub Serie A.

“Perkembangan pemain muda di Italia sedang pesat. Kami punya bintang muda yang sedang meroket, seperti Federico Bernardeschi, Andrea Belotti, atau Roberto Gagliardini.Mereka mendapatkan kesempatan luas buat unjuk gigi,” kata Innocentin.

Fenomena kemunculan Belotti cs sekaligus menunjukkan klub Italia kini punya tendensi buatmemproduksi dan menjual pemain, bukan lagi ramai mengimpor bintang berharga mahal.

Kondisi itu menunjukkan pentingnya memiliki akademi berkualitas guna menelurkan pesepak bola top. Tentunya, hal itu ditunjang oleh sentuhan pelatih berkualitas pula.

Terkait topik tersebut, Global Football Service tertarikuntuk menelusuri dan mengembangkan program mereka ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Sebab, Indonesia diyakini punya potensi besar melahirkan banyak pemain bagus, asalkan ditangani dengan cara yang tepat.

“Kami ingin memulai proyek di Indonesia dengan mengadakan klinik kepelatihan bagi para pelatih lokal. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan pelatih terbaik untuk bibit-bibit pesepak bola,” ucap Innocentin.

Rencananya, ini diselenggarakan di berbagai kota di Tanah Air.

“Kami akanmenularkan ilmu kepelatihan ala sepak bola Eropa kepada mereka melalui pelatihan intensif selama enam minggu. Salah satu mentor kegiatan ini adalah Roberto Mancini,” katanya melanjutkan.

Berita olah raga pertama di Indonesia yang menyajikan informasi sepak bola dan olah raga terkini. Juara

(red/andhi/urhartanto/SN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!