7 Fakta Versus Hoax soal Lokasi Horor Segitiga Bermuda

redaksi.co.id - 7 Fakta Versus Hoax soal Lokasi Horor Segitiga Bermuda Segitiga Bermuda lekat dengan misteri. Sejumlah orang meyakininya sebagai area geografis misterius yang bentuknya mirip...

46 0

redaksi.co.id – 7 Fakta Versus Hoax soal Lokasi Horor Segitiga Bermuda

Segitiga Bermuda lekat dengan misteri. Sejumlah orang meyakininya sebagai area geografis misterius yang bentuknya mirip segitiga. Konon lokasinya berada di tenggara Perairan Amerika Serikat di Samudera Atlantik.

Lokasi penuh teka-teki tersebut konon berada di antara tiga titik: Miami, San Juan, dan Pulau Bermuda.

Sang penjelajah, Christopher Columbus disebut-sebut sebagai orang pertama yang menyadari anomali Segitiga Bermuda selama perjalanannya ke Dunia Baru (New World). Dikisahkan, pelaut asal Genoa, Italia itu menyaksikan bola api membentur permukaan laut.

Beberapa pekan kemudian, Columbus dilaporkan melihat cahaya aneh di kejauhan.

Saat melihat ke kompas, Columbus menyadari perangkat penunjuk arah itu bekerja dengan aneh. Apa yang terbaca di instrumen itu menurutnya tak masuk akal.

Tak ingin membuat para awaknya cemas, ia memilih diam — hingga para kelasi kemudian menyaksikan keanehan itu dengan mata kepala sendiri.

Gagasan soal Segitiga Bermuda populer pada Abad ke-20, dibumbui sejumlah kecelakaan dan tragedi kelautan yang terjadi di sana.

Sejumlah insiden tak diketahui penyebabnya. Hal itulah yang membuat Segitiga Bermuda lekat dengan reputasi mistis, meski tak semuanya benar adanya.

Berikut 7 fakta versus hoax tentang Segitiga Bermuda, seperti dikutip sebagian dari situs The Richest, Senin (27/3/2017):

1. Segitiga Bermuda ‘Lahir’ pada 1964

Istilah Segitiga Bermuda lahir pada 1964. Adalah penulis Vincent H. Gaddis yang kali pertama menyebutnya di sebuah artikel yang dimuat majalah untuk pria, Argosy.

Dalam artikel tersebut, Gaddis mengklaim, sejumlah kapal dan pesawat hilang secara misterius di area tersebut.

Tahub berikutnya sang pengarang menyertakan tulisan tentang Segitiga Bermuda dalam bukunya, Invisible Horizons: True Mysteries of the Sea.

Buku tersebut sangat sensasional, yang mendorong banyak majalah dan surat kabar di seantero Amerika Serikat ikut-ikutan membahas soal Segitiga Bermuda.

Namun, istilah Segitiga Bermuda baru populer ke seluruh dunia setelah ahli linguistik dan guru bahasa bernama Charles Berlitz menulis bukunya yang laris, The Bermuda Triangle pada 1974.

Meski demikian,tak ada tempat bernama ‘Segitiga Bermuda’ dalam peta Amerika Serikat, The U. S. Board of Geographic.

2. Hilang Misterius di Segitiga Bermuda

Pada 5 Desember 1945 pukul 14.10 waktu setempat, lima pesawat yang dipiloti para penerbang terlatih dari kesatuan Penerbangan 19 tiba-tiba hilang di Segitiga Bermuda. Padahal, cuaca sedang cerah.

Para pilot sempat meminta pertolongan lewat radio, namun, mereka tiba-tiba raib. Sebelumnya, pilot sempat melaporkan kejadian aneh yang ia lihat. “Semuanya nampak aneh, bahkan lautnya. Kami memasuki perairan berwarna putih.”

Tak hanya itu, pesawat yang ditugasi mencari mereka juga lenyap secara misterius. Dilaporkan enam pesawat dan 27 orang hilang dalam peristiwa itu.

Kapal PBM Mariner BuNo 59225 yang dikerahkan dalam pencarian juga dilaporkan hilang tanpa jejak.

Juga peristiwa hilangnya kapal induk USS Cyclops pada 1918, yang hingga saat ini jadi misteri terbesar dalam sejarah Angkatan Laut Amerika Serikat.

Menurut catatan, lebih dari 50 kapal dan 20 pesawat hilang di wilayah misterius itu.

Tak hanya pada masa lalu. Pada 2003, pasangan Frank dan Romina Leone hilang saat memancing di Segitiga Bermuda. Mereka angkat sauh dari Boynton Beach di Florida dan sejak saat itu keberadaannya tak ditemukan.

Pada 2008, sebuah pesawat berisi 12 orang lepas landas dari Santiago dan mengarah ke New York. Baru 35 menit terbang, kapal terbang itu hilang dari radar. Pencarian besar-besaran dikerahkan, namun tak ada yang ditemukan.

Pada 2015, giliran kapal kargo SS El Faro berlayar dari Florida dan mengarah ke Puerto Rico. Ada 33 awak kapal di dalamnya.

Dalam perjalanan, mereka dihadang badai. Aliran komunikasi dari bahtera itu kemudian putus.

Setelah pencarian yang dilakukan secara luas, bangkai kapal ditemukan di Atlantik. Tapi, tak ada satu pun awak yang terlihat.

3. Teori Mistis: Alien, Iblis, hingga Atlantis

Ada banyak teori yang berusaha menjelaskan fenomena kehilangan misterius di Segitiga Bermuda.

Ada yang mengatakan, kapal dan pesawat yang hilang berada di dunia — bahkan dimensi lain.

Tak sedikit yang menyakini, kapal dan pesawat di Segitiga Bermuda hilang ke masa lalu atau masa depan — jadi mesin waktu.

Lainnya mengira, Segitiga Bermuda adalah pintu antar-dimensi yang dipakai oleh alien.

Namun, teori yang paling aneh adalah yang mengatakan, ada piramida kristal yang berada di kedalaman 2.000 meter di dasar Segitiga Bermuda.

Konon, piramida kristal itulah yang jadi biang keladi hilangnya kapal dan pesawat di area tersebut.

Teori lain menyebut, area Segitiga Bermuda adalah lokasi Atlantis yang Hilang.

Anomali elektromagnetik yang terjadi disana disangka punya kaitan dengan teknologi peradaban yang konon maju itu — yang masih aktif meski ribuan tahun terbenam di Segitiga Bermuda.

Ada juga yang kemudian mengira Segitiga Bermuda adalah kerajaan Iblis yang menuntut ‘tumbal’.

Benarkah demikian? Tak ada bukti sahih yang menguatkan dugaan-dugaan itu.

4. Penjelasan Ilmiah?

Di samping teori-teori liar soal Segitiga Bermuda, ada juga sejumlah penjelasan ilmiah.

Seperti di muat laman LiveScience, daerah Segitiga Bermuda diperkirakan rentan terhadap badai tak terduga. Ada gelombang — Gulf Stream — yang sangat cepat dan turbulen — menelan serpihan kapal, pesawat, beserta penumpangnya. Menghapus bukti-bukti terjadinya bencana.

Tak hanya itu, Laut di Segitiga Bermuda memiliki kedalaman hingga 30.000 meter atau lebih dari 9.000 meter dengan kondisi topografinya bisa ‘menelan’ kapal sehingga tak pernah ditemukan.

Laman Sejarah Angkatan Laut Amerika Serikat, www.history.navy.mil, menjelaskan bahwa faktor signifikan yang menyebabkan hilangnya kapal di Segitiga Bermuda adalah arus laut yang kuat disebut Gulf Stream.

Sebelum telegraf, radio dan radar ditemukan, pelaut tidak tahu ada badai atau angin topan berada di dekatnya.Bencana itu baru ketahuan setelah ada perubahan di cakrawala.

Badai yang datang tiba-tiba itulah yang menyebabkan kapal angkatan laut hilang di Bahama, Saratoga. Kapal dan-krunya hilang tak berbekas pada 18 Maret 1781.

Dijelaskan juga bahwa tidak hanya di Segitiga Bermuda, banyak kapal-kapal Angkatan Laut AS lainnya telah hilang di laut karena badai di seluruh dunia — secara mendadak.

Teori terkini yang menjelaskan misteri Segitiga Bermuda adalah terbentuknya awan-awan heksagonal.

Awan tersebut diketahui setelah ahli meteorologi melihat gambar satelit di langit Atlantik Utara — mereka menemukan pola heksagonal pada awan yang menaungi wilayah Segitiga Bermuda.

Menurut teori itu, awan heksagonal menciptakan ‘bom udara’ yang menghantam lautan dan bisa memicu gelombang besar.

Pengalaman lain dialami pilot Bruce Gernon yang mengaku menemukan kabut (fog) aneh di atas area Miami, yang bentuknya melingkar.

Ia dan timnya berusaha menghindarinya, namun tanpa sadar mereka terbang menuju ke arahnya.

Gernon mengaku melihat kabut itu berubah bentuk jadi mirip terowongan. Kala berada di dalamnya, sistem navigasi mati dan para awak tak bisa melihat apapun.

Kabut itu tak hanya menghalangi perjalanan mereka, namun mengalihkan dari rute normal.

Anehnya, Bruce Gernon dan timnya hanya butuh 45 menit, dari 75 menit waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Miami Beach.

5. Markas Rahasia Pemerintah AS

Teori Konspirasi juga menunjuk muka Pemerintah Amerika Serikat. Disebut-sebut, AS punya pangkalan uji coba yang disebut-sebut bernama The Atlantic Undersea Test and Evaluation Center (AUTEC) — yang juga tenar dengan julukan Underwater Area 51.

Lokasinya konon berada di tengah Segitiga Bermuda, di Pulau Andros, Bahama.

AUTEC disebut-sebut menjadi lokasi Angkatan laut AS menguji senjata dan kapal selam.

Beberapa orang mengklaim, pemerintah AS juga bekerja sama dengan alien di sana. Penampakan UFO pun ramai dilaporkan di sana.

6. Eksistensi Segitiga Bermuda Tak Diakui

Program dokumenter The Bermuda Triangle di UK Channel 4 pada 1992 juga mewawancarai Lloyds of London, pihak asuransi pelayaran yang bermarkas di London.

Mereka mengatakan, jumlah kapal yang tenggelam di Segitiga Bermuda tak beda dengan di lokasi lain. Sama banyaknya.

Berbeda dengan anggapan banyak orang, Lloyds of London mengatakan, tak ada harga asuransi khusus, yang lebih mahal, yang diterapkan pada kapal-kapal yang berlayar di Segitiga Bermuda.

Penjaga Pantai AS atau United States Coast Guard juga tak menganggap Segitiga Bermuda sebagai ancaman pada kapal.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), badan ilmiah di bawah Departemen Perdagangan AS juga menyatakan hal senada.

Tidak ada bukti bahwa kehilangan misterius yang terjadi di Segitiga Bermuda terjadi dengan frekuensi yang lebih besar dibandingkan wilayah laut lainnya,” demikian pernyataan lembaga itu dalam situsnya.

7. Tak Masuk Daftar Bahaya

Soal lautan, belum ada yang mengalahkan reputasi Segitiga Bermuda dalam hal kemisteriusan juga horor. Segitiga imajiner yang menghubungkan Bermuda, San Juan – Puerto Rico, dan Miami di Amerika Serikat itu sarat dengan kisah-kisah kecelakaan yang aneh dan belum bisa dijelaskan penyebabnya.

Namun, dalam studi yang dirilis WWF, Segitiga Bermuda tak masuk dalam daftar laut paling berbahaya di muka bumi, dari sisi jumlah kecelakaan kapal maupun tingkat bahaya bagi manusia dan kehidupan laut.

Lantas, laut apa saja yang lebih berbahaya dari Segitiga Bermuda?

Masuk dalam daftar di antaranya Laut China Selatan dan Hindia Timur, Laut Mediterania dan Laut Hitam, serta Laut Utara dan perairan Kepulauan Inggris.

Seperti dimuat situs sains, Christian Science Monitor, WWF menyebut tingkat bahaya perairan dunia dipengaruhi dua hal, lalu lintas laut yang makin ramai dan kegagalan otoritas dan industri untuk menyesuaikan dengan laju percepatan itu.

Problem akut misalnya terjadi di sekitar Asia Tenggara. Sementara kapal kargo hilir mudik dengan cepat, mengikuti permintaan yang makin meningkat di wilayah yang sedang booming, aturan diberlakukan setengah hati, pelayanan pelabuhan-pelabuhan masih memprihatinkan.

Akibatnya, selama dekade terakhir, jumlah kecelakaan di Laut China Selatan lebih banyak daripada perairan manapun di dunia. Ditambah, kurangnya kerja sama global untuk mengatur lalu lintas laut, belum lagi perubahan iklim, cuaca ekstrem. Kecelakaan makin marak terjadi, kapal-kapal bocor atau bahkan terbelah.

Tak hanya manusia yang jadi korban. Di bawah lambung kapal — yang seringkali mengangkut “emas hitam” alias minyak bumi– ada harta karun tak ternilai yang terancam: terumbu karang. Misalnya Coral Triangle di Asia, yang meliputi perairan Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.

Minyak dan zat beracun yang bocor dari kapal yang celaka bisa berarti bencana bagi kehidupan bawah laut yang tak tergantikan.

(red/udianto/R)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!