Protes Proyek Drainase Lambat, Korban Banjir Bima Galang Sejuta Koin

redaksi.co.id - Protes Proyek Drainase Lambat, Korban Banjir Bima Galang Sejuta Koin Puluhan korban banjir bandang Bima, menggalang sejuta koin untuk disumbangkan ke pemerintah setempat. Ini...

37 0

redaksi.co.id – Protes Proyek Drainase Lambat, Korban Banjir Bima Galang Sejuta Koin

Puluhan korban banjir bandang Bima, menggalang sejuta koin untuk disumbangkan ke pemerintah setempat. Ini dilakukan sebagai bentuk protes lambatnya pengerjaan drainase.

Salah satu wargaKelurahan Dara, Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima, Herman mengatakan, untuk mendapatkan sejuta koin, mereka keliling kampung dengan membawa kardus. Setelah terkumpul, koin tersebut diserahkan ke pemerintah setempat.

Mungkin dengan cara menggalang koin seperti ini, pemerintah bisa menanggapi aspirasi warga untuk mempercepat pengerjaan drainase, tutur Herman, kepada wartawan seusai menggalang koin, Kamis (30/3/2017).

FOTO: Warga korban banjir di Kota Bima saat menggalang sejuta koin sebagai bentuk protes terhadap pekerjaan proyek saluran drainase yang molor, Kamis (30/3/2017).KOMPAS.com/Syarifudin

Herman menjelaskan, proyek rekonstruksi pasca-banjir Desember 2016 lalu ini dimulai beberapa bulan sebelumnya. Namun hingga Maret 2017 masih ada pengerjaan yang belum rampung.

Dia mencotohkan, saluran drainase di Jalan Kaharudin, lingkungan Dara. Galian di sepanjang selokan itu terhenti sampai di depan pertokoan dengan jarak sekitar 50 meter dari jembatan Padolo I. Karena tidak sampai ke bibir sungai, saluran air tersumbat.

Kalau hujan turun, air harus mengalir kemana lagi. Sementara galian enggak sampai ke aliran sungai. Yang dibongkar dan digali hanya di depan pemukiman warga, sementara depan pertokoan menuju aliran sungai belum diganggu, keluhnya.

Menurut Herman, molornya proyek ini membuat aktivitas warga terganggu. Terlebih warga pemukiman yang rumahnya berdekatan dengan proyek tersebut.

Lihat saja saluran itu, mas. Sudah enggak enak dipandang. Tidak hanya di lingkungan Dara, saluran di beberapa titik seperti di Jalan Gajah Mada dan Gatot Subroto nampak seperti kubangan maut. Airnya sudah penuh di saluran, bahkan meluap ke ruas jalan, tuturnya.

Untuk itu, ia meminta kejelasan terkait keberlangsungan pengerjaan proyek itu. Ia khawatir, molornya pengerjaan saluran drainase membuat warga waswas terkena banjir.

Sudah beberapa bulan proyek ini dikerjakan, tapi sampai saat ini belum juga selesai. Kita dengar pemerintah sudah enggak punya uang, makanya proyek molor. Itu juga salah satu alasan kita menggalang koin. Bahkan koinnya sudah kita serahkan melalui pak Sekda, tutupnya.

Penulis: Kontributor Bima, Syarifudin

Editor: Reni Susanti

Copyright Kompas.com

(red/ovi/riawan/NT)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!