Beri Izin Tambang ke Teman, Mantan Menteri Australia Dipenjara

redaksi.co.id - Beri Izin Tambang ke Teman, Mantan Menteri Australia Dipenjara Mantan menteri dari Partai Buruh di negara bagian New South Wales (NSW), Ian Macdonald, menghadapi...

48 0

redaksi.co.id – Beri Izin Tambang ke Teman, Mantan Menteri Australia Dipenjara

Mantan menteri dari Partai Buruh di negara bagian New South Wales (NSW), Ian Macdonald, menghadapi hukuman penjara setelah dinyatakan bersalah atas penyalahgunaan jabatan publik karena menerbitkan izin pertambangan untuk perusahaan yang dijalankan oleh mantan bos serikat pekerja, yakni John Maitland.

Jaksa berpendapat sebagai menteri untuk industri primer dan sumber daya mineral pada saat itu, MacDonald mementingkan temannya, yakni Maitland, ketimbang negara bagian ketika sang teman diberikan izin pertambangan di Tambang Doyles Creek tanpa adanya proses tender yang kompetitif.

Maitland, mantan kepala Serikat Pekerja Konstruksi, Pertambangan, Kehutanan dan Energi (CMFEU), telah dinyatakan bersalah sebagai pihak pembantu dalam tindak pelanggaran itu. Sidang di Mahkamah Agung NSW mengungkap, keputusan Macdonald untuk memberikan lisensi kepada Maitland telah merugikan negara bagian ini sebesar puluhan juta dolar dalam masa “keterbatasan anggaran”.

Macdonald berpendapat, ia memberi lisensi tambang Hunter Valley berdasarkan kepatutan dan bahwa ia dan Maitland bukanlah teman akrab sebagaimana tuduhan jaksa, mereka hanyalah rekan politik.

Baik Macdonald dan Maitland telah dibebaskan dengan jaminan dan sidang putusan akan digelar dalam waktu enam minggu ke depan. Jaksa mengindikasikan pihak mereka akan mencari hukuman kustodian bagi Macdonald.

Menteri Utama Gladys Berejiklian mengatakan, setelah spekulasi bertahun-tahun atas kegiatan Macdonald, ia senang politkus itu dinyatakan terbukti bersalah. “Hukum dia seberat-beratnya,” sebut Menteri Berejiklian.

“Saya pikir masyarakat ingin tahu, jika seseorang ditemukan korup mereka benar-benar ditangani dengan tepat melalui pengadilan dan siapa pun yang terbukti melakukan pelanggaran harus menerima hukuman yang sesuai,” jelasnya.

Mantan Menteri Utama dari Partai Buruh, Nathan Rees, yang memecat McDonald dari kabinetnya pada tahun 2009, juga turut mengomentari hasil persidangan terbaru.

“Eddie Obeid [dan] Ian Macdonald [yang] dua-duanya terdakwa yang dinyatakan bersalah, dua-duanya pelaku tindak pidana yang telah mencemarkan Parlemen NSW dan sebagian besar warga akan mengatakan ‘baguslah’,” ujarnya.

AAP: Tracey Nearmy

Rees juga mengangkat isu pensiun Parlemen, berpendapat bahwa Pemerintahan Berejiklian harus segera mencabut pembayaran yang ditujukan untuk kedua terdakwa itu.

“Pada tahap ini, Ian Macdonald masih mendapatkan pensiun. Eddie Obeid mungkin telah dibayar sebesar $ 50.000 (atau setara Rp 500 juta) oleh para pembayar pajak NSW sejak ia dituntut pada bulan Desember,” sebutnya.

Ia lalu menyambung, “Kini pertanyaannya ke Gladys Berejiklian, mengapa bisa begitu?.”

Ketua Partai Buruh di NSW, Luke Foley, mengatakan, ia bangga bahwa lebih dari satu dekade lalu ia mencoba untuk “menendang” Macdonald dari urusan publik. “Saya sudah memberi bukti apapun tentang rekan ini … penjarakan ia dan buang kunci selnya,” ujarnya.

AAP: Paul Miller

Foley mengatakan, Macdonald dikenal sebagai “kroni” dari Eddie Obeid dan kini keduanya akan dikurung bersama-sama. Obeid, mantan menteri asal Partai Buruh NSW lainnya, juga dituduh atas tindak penyalahgunaan jabatan publik.

Foley mengatakan, tanpa Komisi Independen Anti Korupsi Australia (ICAC) Obeid dan Macdonald masih akan menjabat, dan Pemerintah harus membalikkan melemahnya ICAC.

Tahun lalu, mantan Menteri Utama Mike Baird mengumumkan restrukturisasi ICAC yang dinilai sebagai sebuah “serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap independensi lembaga ini.

“Saya pikir pelajaran yang paling penting di sini adalah kita perlu seorang pejuang korupsi yang kuat,” kata Foley.

Ia juga mengatakan, dirinya akan berjuang melawan pemberian uang pensiun Parlemen bagi Obeid dan Macdonald.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterbitkan: 16:05 WIB 30/03/2017 oleh Nurina Savitri.

(red/andhi/urhartanto/SN)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!