Akhir Pekan, IHSG Diperkirakan Tertekan Aksi Jual

redaksi.co.id - Akhir Pekan, IHSG Diperkirakan Tertekan Aksi Jual Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (31/3/2017) diperkirakan mengalami tekanan aksi jual.'"Diperkirakan pergerakan IHSG berada di...

51 0

redaksi.co.id – Akhir Pekan, IHSG Diperkirakan Tertekan Aksi Jual

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (31/3/2017) diperkirakan mengalami tekanan aksi jual.’

“Diperkirakan pergerakan IHSG berada di kisaran 5.510-5.600,” kata Analis dari Reliance Securities Lanjar Nafi dalam keterangan tertulis, Jumat.

IHSG pada perdagangan kemarin Kamis (30/3/2017) secara mengejutkan ditutup menguat tipis 0,44 poin sebesar 0,01 persen di level 5.592,95.

Aksi beli investor asing yang tercatat net buy Rp 153,04 miliar melanjutkan tren positif pembelian asing pada bulan ini. Hal itu menjadi salah satu dorongan positif IHSG meskipun selama perdagangan hari ini cenderung tertekan.

“Saham-saham aneka industri dan industri dasar menjadi penekan sedangkan indeks sektor komoditas seperti pertanian dan pertambangan berbalik menguat,” kata Lanjar.

FOTO: Ilustrasi pasar modal.Thinkstock

Harga minyak melanjutkan tren positif dengan menguat 0,2 persen kemarin dan komoditas logam masih tercatat naik 9 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Bursa Asia dan Eropa

Mayoritas bursa Asia tergelincir ditandai pelemahan saham-saham global. Investor mengambil langkah hati-hati mendekati akhir kuartal terbaik untuk ekuitas global sejak 2013. Jepang Topix turun 0,9 persen setelah data investasi obligasi dan saham Asing kembali turun.

Namun Indeks tersebut naik 0,6 persen untuk kuartal ini. Hong Kong Hang Seng turun 0,3 persen, dan indeks Hang Seng China Enterprises kehilangan 0,7 persen.

Shanghai Composite turun 1 persen, jatuh untuk hari keempat berturut-turut. Bursa Eropa dibuka terkonsolidasi dit tengah pertimbangan investor akan dampak setelah Brexit.

Euro pun jatuh 0,1 persen menjadi 1.0754 per dollar AS, setelah turun 0,9 persen selama dua hari sebelumnya.

Pound Inggris turun 0,1 persen menjadi 12.426 per dollar AS. Data tingkat kepercayaan menjadi salah satu faktor penekan setelah tidak adanya pertumbuhan yang berarti dari kepercayaan konsumen maupun produsen di zona Eropa.

“Sentimen selanjutnya di akhir pekan yang juga akhir bulan Maret diantaranya data manufakturing PMI versi NBS di China, tingkat inflasi dan penjualan ritel di Eropa,” pungkas Lanjar.

Penulis: Estu Suryowati

Editor: Aprillia Ika

Copyright Kompas.com

(red/aini/J)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!