Inilah saatnya mengerem investasi agresif

redaksi.co.id - Inilah saatnya mengerem investasi agresif Ketidakpastian global memang mereda sejak bank sentral Amerika Serikat (AS) mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,75%-1%....

34 0

redaksi.co.id – Inilah saatnya mengerem investasi agresif

Ketidakpastian global memang mereda sejak bank sentral Amerika Serikat (AS) mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,75%-1%. Tapi masih banyak sentimen negatif yang membayangi investasi Anda. Karena itu, Anda perlu mengatur ulang isi portofolio investasi.

Direktur Mandiri Manajemen Investasi Endang Astharanti menilai tahun ini pasar saham berpotensibearish. Penyebab utamanya adalah ketidakpastian global, antara lain akibat ketidakpastian implementasi kebijakan Presiden AS yang baru.

Karena itu, ia menyarankan investor menempatkan dana sementara di pasar uang, sebagai strategi defensi. Bila pasar membaik, investor baru bisa mengalihkan dana ke saham atau obligasi.

SedangInvestment DirectorSucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana lebih menjagokan investasi obligasi, terutama surat utang negara (SUN). BahkanreturnSUN diprediksi bisa lebih tinggi ketimbang saham.

Prospek SUN akan menjulang terutama jika lembaga pemeringkat utang internasional Standard & Poor’s (S&P) menaikkan peringkat utang Indonesia ke levelinvestment grade. “Kemungkinan besar hingga akhir tahun,yieldobligasi akan lebih tinggi dibanding Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),” ujar Jemmy.

Tapi Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo punya pendapat beda. Ia menyebut, investasi saham masih menarik hingga akhir tahun ini. Alasannya, kondisi fundamental dalam negeri membaik. Apalagi nilai tukar rupiah dan inflasi cenderung stabil. “Tapi investor tetap harus memperhatikan kinerja emiten tahun 2016 dan kuartal I-2017,” ujar dia. Selain saham, Soni menilai obligasi tak kalah menarik.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto juga menilai, bila S&P benar-benar menaikkan peringkat utang Indonesia, dampaknya akan positif ke pasar modal secara umum. Karena itu, ia menilai reksadana berbasis saham merupakan instrumen investasi paling menarik saat ini.

Apalagi, kinerja emiten bakal positif. “Selain itu juga didukung oleh semakin derasnya dana asing yang masuk ke pasar saham,” kata Rudi.

Rudi memprediksi, reksadana berbasis saham akan memberikan imbal hasil hingga 14% tahun ini. Sedang imbal hasil reksadana berbasis obligasi sekitar 7%-9%.

Jemmy masih memprediksi IHSG bisa mencapai 6.100 di akhir tahun. Sedangyieldobligasi tenor 10 tahun akan ada di kisaran 6,1%, dari posisi saat ini di kisaran 7,3%.

(red/ngga/eksa/AR)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!