Campur Aduknya Perasaan Sri Mulyani Melihat Capaian "Tax Amnesty"

redaksi.co.id - Campur Aduknya Perasaan Sri Mulyani Melihat Capaian "Tax Amnesty" Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan perasaannya jelang penutupan program pengampunan pajak atau tax amnesty. Melihat...

46 0

redaksi.co.id – Campur Aduknya Perasaan Sri Mulyani Melihat Capaian "Tax Amnesty"

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan perasaannya jelang penutupan program pengampunan pajak atau tax amnesty. Melihat kinerja Direktorat Jenderal Pajak dalam program tax amnesty, Sri Mulyani mengaku puas.

“Dalam artian seluruh jajaran Ditjen Pajak bekerja luar biasa keras dari awal hingga akhir,” ujarnya di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jumat (31/3/2017).

Kerja keras Ditjen Pajak itu tutur Sri Mulyani terlihat mulai dari menyelesaikan aturan, memperbaiki SOP pelayanan, hingga dedikasi dan pelayanan maksimal hingga akhir program tax amnesty.

Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berkomunikasi dengan peserta tax amnesty dan pemegang kuasa SPH, di kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu, Jakarta, Sabtu (31/12/2016).Estu Suryaningsih/Kompas.com

Meski begitu, Sri Mulyani juga belum bisa tenang. Sebab tutur perempuan yang kerap disapa Ani itu, target pajak yang ada di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) belum tercapai.

Di dalam bebagai kesempatan, Sri Mulyani selalu mengatakan bahwa tax amnesty hanya bagian dari tugas besar Kementerian Keuangan yakni mengumpulkan pendapatan negara salah satunya dari pajak.

“Jumlah peserta 974.000 saya gak tau apakah bisa tembus 1 juta malam ini, saya anggap masih kecil. (Wajib pajak) Orang pribadi non UMKM atau bukan, saya anggap masih banyak yang tidak ikut tax amnesty,” kata Sri Mulyani.

“Deklarasi (harta) saya rasa Indonesia sudah cukup besar, apakah masih ada yang high well? Masih ada. Tapi sebagian besar sudah ikut, bahkan sampai detik terakhir malam ini ada yg betul-betul mau laksanakan jadi pikir-pikir ikut enggak, akhirnya ikut,” sambung dia.

Penulis: Yoga Sukmana

Editor: Aprillia Ika

Copyright Kompas.com

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!