Jokowi minta Kementerian hemat belanja barang

redaksi.co.id - Jokowi minta Kementerian hemat belanja barang Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan pimpinan Kementerian dan Lembaga (K/L) melakukan penghematan anggaran belanja barang secara besar-besaran di...

48 0

redaksi.co.id – Jokowi minta Kementerian hemat belanja barang

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan pimpinan Kementerian dan Lembaga (K/L) melakukan penghematan anggaran belanja barang secara besar-besaran di tahun ini dan tahun depan. Penghematan harus dilakukan di semua sektor dan untuk alokasi yang dianggap tidak terlalu penting.

Untuk itu presiden meminta kementerian dan lembaga mengevaluasi sistem anggarannya, sehingga belanja barang yang saat ini masih tinggi dapat didorong untuk belanja modal. Diharapkan dengan upaya itu, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin tinggi dan angka kemiskinan dapat ditekan hingga satu digit.

Untuk tahun 2017 dan 2018, Jokowi menekankan agar belanja barang tidak melebihi realisasi tahun 2016 yang sebesar Rp 257,7 triliun. Kurangi belanja yang tidak efisien dan tidak sesuai dengan tujuan prioritas nasional, katanya, Selasa (4/4).

Dalam APBN 2017 pemerintah mengalokasikan belanja barang Rp 296,2 triliun. Dengan target tidak boleh lebih tinggi dari tahun 2016 yang sebesar Rp 257,7 triliun, maka target penghematan belanja barang tahun ini yang bisa dilakukan pemerintah adalah sebesar Rp 38,5 triliun.

Sementara untuk 2018, Jokowi berharap desain belanja terkait program infrastruktur nasional dapat diselesaikan sehingga menjadi fondasi kuat dalam meningkatkan daya saing. Belanja modal diperbesar. Hal-hal yang tidak berkaitan belanja modal tolong dilihat secara rinci. Saya melihat saja banyak sekali yang berlebihan dalam belanja non belanja modal, ujarnya.

Tumbuh 5,6% di 2018

Belanja modal menjadi salah satu alat ungkit pertumbuhan ekonomi. Dalam APBN 2017, pemerintah mentargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1%. Sedangkan di tahun 2018, pemerintah mentargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4%-6,1%

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap tahun ini pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi dari target, hingga 5,2%. “Kita lihat momentum sampai akhir 2016 dengan angka sekarang ini 2017, kita berharap mendekati 5,2%,” katanya.

Sedangkan di 2018, menurut Sri, setelah melihat sisi permintaan presiden menetapkan target pertumbuhan ekonomi di angka 5,6%. “Tingkat yang dianggap optimistis namun tetap kredibel,” katanya.

Target 5,6% diharapkan tercapai seiring dengan naiknya belanja pemerintah. Sri bilang dalam tiga tahun terakhir belanja negara meningkat cukup besar. Jika tahun ini nilainya mencapai Rp 2.080 triliun, tahun depan diperkirakan lebih dari Rp 2.200 triliun. Namun sayangnya dengan jumlah belanja yang besar ini belanja modal masih sangat terbatas.

Menko Ekonomi Darmin Nasution mengatakan, saat ini kementerian dan lembaga tengah menyisir proyek-proyek yang berpotensi untuk dilakukan penghematan. “Menteri-menteri akan menyisir satu per satu, bahkan dia (menteri) harus tanda tangan masing-masing kegiatan supaya bisa diketahui jelas sesuai dengan arahan,” katanya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga mengaku sedang memastikan proyek-proyek yang dikerjakan di kementeriannya. Dia berjanji membatalkan proyek bila di lapangan tidak dijalankan atau tidak memberikan manfaat. “Kalau proyek itu hanya untuk cari proyek maka saya drop. Selama ini ada proyek yang dikreasikan namun fungsinya enggak ada,” ujarnya.

Proyek berpotensi di drop, kata Budi diantaranya pelabuhan dan bandara. Dia menghitung dari beberapa proyek yang tidak jelas itu potensi penghematannya Rp 5 triliun.

Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai realokasi anggaran belanja barang ke belanja modal, positif. Namun demikian, menurut Enny, perlu ada definisi yang jelas tentang sistem penganggaran yang perlu dihemat tersebut. Jangan sampai hanya di atas kertas saja, tapi pada kenyataannya penggunaan tetap untuk belanja barang, katanya agak ragu.

(red/ega/wi/riesta/VDA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!