Misteri Dibalik Ilmu Perbintangan Suku Aborigin Australia

redaksi.co.id - Misteri Dibalik Ilmu Perbintangan Suku Aborigin Australia Untuk beberapa bulan ke depan, cobalah menjauh dari lampu-lampu kota dan lihatlah bintang-bintang di langit. Siapa tahu,...

39 0

redaksi.co.id – Misteri Dibalik Ilmu Perbintangan Suku Aborigin Australia

Untuk beberapa bulan ke depan, cobalah menjauh dari lampu-lampu kota dan lihatlah bintang-bintang di langit. Siapa tahu, Anda bisa menemukan burung emu di langit.

Menurut kisah Aborigin, burung emu adalah ruh yang dulu terbang dan mengitari daratan. Untuk melihat emu, lihatlah ke langit selatan, gugusan bintang Southern Cross. Awan gelap antara bintang adalah kepala, sedangkan leher, tubuh dan kakinya berbentuk gugusan bintang yang membentang di Bima Sakti.

Seorang mahasiswa di bidang fisika, yang juga pemandu di Sydney Observatory, Kirsten Banks mengatakan banyak suku Aborigin yang menceritakan dongeng emu di langit. “Posisi di langit memberitahu kita kapan harus mengumpulkan telur emu; ini sangat terkenal di seluruh Australia.”

Kristen sekarang berada di tahun ketiganya berkuliah di di University of New South Wales. Ia ingin mempelajari terbentuknya bintang setelah ia lulus nanti. Ia juga adalah keturunan dari suku Aborigin Wiradjuri, tapi baru mencari tahu lebih banyak soal asal-usulnya setelah melihat peta Aborigin yang tergantung di pintu masuk observatorium di Sydney.

Foto: Koleksi Justin Banks / Grigori Films

“Dengan belajar lebih banyak kisah Dreamtime dan budaya, saya benar-benar merasa terhubung dengan keturunan saya, dan mengaitkannya dengan astronomi benar-benar menarik.”

“Saya merasa ini telah mendorong aspek budaya astrofisika, bukan soal bagaimana ini terjadi, tapi lebih tentang bagaimana orang melihat langit, bintang, dan rasi bintang. Saya melihat lebih banyak gambar di langit dari gugusan bintang.”

“Sebagai contoh, saat saya melihat ke gugus bintangan Orion di barat, saya melihat sebuah perahu di langit dengan tiga saudara di gugusan Orion.”

Foto: Koleksi Ray Norris

Astronom CSIRO yang berdarah Aborigin, Ray Norris menceritakan kisah Dreamtime dari suku Yolngu tentang tiga bersaudara, kepada ABC Radio Sydney. “Mereka mengatakan tiga anak laki-laki keluar memancing dan apa yang mereka tangkap ikan besar, kingfish.”

“Salah satu diantara mereka makan dan makan salah satu ikan tersebut.”

“Matahari menjadi murka dan ia kirim angin puting beliung yang meniup ketiganya ke langit, sebagai peringatan bagi mereka yang tidak mematuhi hukum. Tiga bintang yang kita lihat, mereka tiga bersaudara. Dua sisi dari yang kita sebut sebagai tangan dan kaki Orion, adalah bagian depan dan belakang perahunya.”

“Nebula Orion, tempat bintang baru lahir, adalah ikannya.”

Di banyak budaya Aborigin, matahari adalah perempuan, sedangkan bulan adalah laki-laki. “Matahari adalah seorang wanita tua yang baik, namanya Walu Yolngu,” kata Ray.

“Ia bangun setiap pagi dan menaruh oker, atau tanah merah di sisinya. Itulah sebabnya matahri terbit berwarna kemerahan, menyinari batang pohon dan membawanya ke langit dan menyinari dan menghangati kita semua, dari barat ke timur, kemudian kembali ke sebelah timur di pagi harinya.”

Dalam semua budaya Aborigin, bulan dianggap sebagai orang yang jahat, kata Ray. “Dalam kisah Yolngu, ia disebut Ngalindi. Ia besar, bulat, dan gemuk seperti bulan purnama, ia juga malas.”

“Istri dan anak-anaknya menjadi sangat marah karena ia tidak membantu apa pun, sehingga mereka memotongnya, dari yang tadinya gemuk menjadi kurus dan tipis, seperti yang kita lihat dalam fase bulan.”

“Akhirnya dia meninggal dan tetap mati selama tiga malam, sebelum kembali ke kehidupan, sebagai bulan baru.”

“Ia mengutuk semua orang dan mengatakan ketika ia meninggal, ia akan hidup kembali, tapi ketika orang lain meninggal, mereka tetap mati.”

Diterbitkan oleh Erwin Renaldi pada 5/04/2017 pukul 12:15 AEST dari artikel berbahasa Inggris, yang bisa dibaca disini.

(red/iti/mi/anik/SUH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!