Cerita 5 Pemuda Buat "Robot Transformers" demi Menyambung Hidup

redaksi.co.id - Cerita 5 Pemuda Buat "Robot Transformers" demi Menyambung Hidup Suasana perkampungan di Dusun Kadipurwo RT 02 RW 06, Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang,...

118 0

redaksi.co.id – Cerita 5 Pemuda Buat "Robot Transformers" demi Menyambung Hidup

Suasana perkampungan di Dusun Kadipurwo RT 02 RW 06, Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, yang semula sepi tiba-tiba riuh dipenuhi puluhan anak-anak, remaja, dan para orangtua begitu melihat ada empat sosok robot Transformers berjalan menuju halaman rumah warga di dusun setempat, Jumat (31/3/2017) sore. Tribun Jateng/Deni Setiawan

Suasana perkampungan di Dusun Kadipurwo RT 02 RW 06, Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, yang semula sepi tiba-tiba riuh dipenuhi puluhan anak-anak, remaja, dan para orangtua.

Mereka heboh setelah melihat empat robot ala film Transformers berjalan menuju halaman rumah warga di dusun setempat, Jumat (31/3/2017) sore.

Di halaman itu, keempat robot replika itu melakukan beragam aksi, mulai dari seolah-olah bertarung menggunakan senjata yang dimiliki masing-masing robot hingga berjoget.

Warga pun memanfaatkan momen itu untuk berfoto bersama menggunakan telepon seluler yang mereka miliki.

Satu di antara mereka adalah Salwa Mufiatul Mufida (9), warga dusun setempat. Salwa yang semula berada di dalam rumahnya bergegas keluar menuju pusat keramaian yang jaraknya hanya berkisar 100 meter.

Begitu melihat yang membuat ramai suasana itu, dia bersama beberapa rekan sebayanya meminta berfoto bersama robot.

Meskipun saya perempuan, saya suka kalau nonton film-film robot. Apalagi beberapa sosok robot itu saya tahu. Film Transformers pun beberapa kali pernah saya tonton bersama teman-teman. Satu di antaranya yang saya sukai adalah yang berwarna kuning (figur Bumblebee), kata Salwa.

Bagus Santawijaya (12), siswa kelas I SMP Negeri 2 Tengaran, Kabupaten Semarang, tak mau kalah. Bagus juga sangat menggemari beberapa robot yang di film fiksi ilmiah Amerika dan diangkat kisahnya pertama kali pada 1984 itu.

Dari nama-nama robot Transformers itu, yang paling disenanginya adalah robot pemimpin, yakni Optimus Prime.

Yang membuat saya senang karena robot itu bisa berubah bentuk menjadi berbagai jenis kendaraan. Itu di film, dan yang nyata ada di sini, di dusun kami. Itu tentunya jadi kebanggaan kami sendiri karena bisa lebih dekat bahkan bisa berfoto bersama dengan mereka. Di rumah, saya ada beberapa posternya, kata Bagus.

Bermanfaat

Didik Prasetyo (36) yang merupakan satu di antara lima pemuda penggagas produksi replika robot Transformers itu mengutarakan, usaha produksi yang dinamai Kurnia Robot itu dirintis pada Januari 2016 lalu.

Awal kehadirannya pun berangkat dari mereka berkumpul dan berdiskusi untuk membuat sesuatu yang bermanfaat.

Bermanfaat yang dimaksud itu ya bisa untuk menyambung hidup, meringankan beban kebutuhan sehari-hari. Mayoritas kami adalah seorang pengangguran ketika itu. Dari diskusi itu, keluarlah ide gila untuk membuat robot dan kebetulan ketika itu yang ramai adalah tentang Transformers, kata Didik.

Apa yang digagas tersebut ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Untuk dapat merealisasikannya menjadi wujud robot yang nyata, kelimanya harus iuran untuk membeli bahan.

Awal yakni iuran masing-masing Rp 100.000 untuk membeli bahan yang biasa disebut spons eva atau busa ati. Ternyata masih kurang, mereka pun kemudian iuran lagi hingga akhirnya terkumpul Rp 1 juta.

Dana yang terkumpul untuk beli cat, spons, dan perlengkapan pendukung lainnya. Cara pengerjaannya bahkan hingga sekarang, kami pun masih manual. Bekalnya hanya dari gambar robot, kami perhatikan secara cermat, lalu bikin skala sendiri atau cuma mengandalkan feeling serta imajinasi, ujarnya.

Menurut dia, selagi robot yang sedang dibentuk itu proposional, mereka sudah puas. Setelah terbentuk di setiap rangkaiannya, barulah memasuki tahap pengecatan. Dalam pengecatan pun dilakukan sebanyak tiga hingga empat kali. Itu harus dilakukan karena bahan dasarnya mudah meresap cat.

Yang paling sulit saat memproduksi, ya dalam pembentukan robot dan pengecatan. Kami harus detail, jangan sampai berbeda jauh dengan gambar yang kami contoh, meskipun alat-alat yang digunakan baru sebatas gunting, cutter, dan penggaris. Cat yang kami gunakan adalah cat sintetis. Lalu untuk membuat warna semakin hidup, kami semprotkan minyak M3, ungkapnya.

Samsul Maarif (30) yang bertugas di bagian produksi menambahkan, ada dua produk yang diproduksi mereka, yakni yang berbentuk robot displai dan kostum. Kostum dapat dikenakan, digerakkan, dan telah disesuaikan dengan postur tubuh orang dewasa. Biasanya itu disewakan di lokasi wisata.

Sedangkan robot displai hanya sekadar dipajang ketika ada event-event. Untuk pengerjaan robot kostum, rata-rata paling cepat dua bulan per robot. Robot displai setinggi rata-rata 3 meter butuh waktu sekitar 3 bulan. Apabila dijual, Rp 7 juta per robot kostum. Sedangkan untuk robot displai Rp 15 juta per buah, kata guru SD Negeri Sruwen 1 Tengaran Kabupaten Semarang itu.

Untuk saat ini, lanjutnya, dia, Didik (36), Bowo (40), Khoirul Anam (18), dan Husni Wari (28) selama setahun terakhir ini telah berhasil memproduksi sekitar 5 robot displai dan 11 kostum robot. Apabila ada pihak yang hendak menyewa robot kostum, mereka mematok harga antara Rp 150.000 hingga Rp 500.000 per hari.

Seringnya robot-robot kostum tersebut dimainkan atau disewa di objek-objek wisata, seperti di Kampoeng Kopi Banaran Bawen, Tlatar Boyolali, bahkan pula untuk kegiatan Car Free Day (CFD) di Simpanglima Kota Semarang maupun Solo. Dari seluruh produk itu, terakhir kami kirim pesanan warga Surabaya Jawa Timur. Sebelumnya orang Sumatera pun pernah, katanya.

Bowo menambahkan, untuk penggunaan kostum robot Transformers itu cukup mudah dan cepat. Setidaknya hanya butuh waktu selama 10 menit. Satu kostum dibantu satu orang untuk merangkainya. Pertama yang dikenakan adalah bagian celana, lalu kaki, badan (dada), tangan, dan terakhir adalah kepala.

Jadi, dalam pembuatannya, paling tidak kami bikin lima bagian. Setiap bagiannya, kami harus benar-benar cermati. Tak jarang pula kami bongkar lagi karena kurang presisi. Itu sebenarnya yang membuat produk robot kami ini butuh waktu lama. Saat ini kami sedang finishing membuat satu robot pesanan orang Surabaya. Mungkin dua minggu lagi sudah siap dikirim, tuturnya.

Editor: Caroline Damanik

Sumber:

Copyright Kompas.com

(red//ainuddin/MZ)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!