Deretan Tradisi Unik Betawi yang Raib Ditelan Zaman

redaksi.co.id - Deretan Tradisi Unik Betawi yang Raib Ditelan Zaman Masyarakat Betawi terkenal dengan ragam tradisi uniknya. Namun seiring perkembangan zaman, ragam kegiatan yang telah diwariskan...

64 0

redaksi.co.id – Deretan Tradisi Unik Betawi yang Raib Ditelan Zaman

Masyarakat Betawi terkenal dengan ragam tradisi uniknya. Namun seiring perkembangan zaman, ragam kegiatan yang telah diwariskan para leluhur itu perlahan menjadi punah.

Menurut aktivis Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, tradisi yang raib itu menyelimuti beberapa jenis adat. Mulai dari seni hingga ritual terkait dengan sosio kultural.

Baca Juga

“Kalau dari musik, ada sampyong yang udah enggak ada,” ujar Yahya saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Rabu 5 April 2017.

Musik Sampyong merupakan musik rakyat Betawi pinggiran yang paling sederhana dibanding musik Betawi lainnya. Nama musik ini berasal dari nama salah satu alat musik yaitu sampyong, semacam kordofan bambu berdawai dua utas.

Orkes ini selalu mengiringi tari Uncul dan permainan ujungan, yakni permainan yang terdiri dari dua pasangan laki-laki yang saling memukul betis lawannya dengan tongkat rotan sepanjang 80 cm.

Kesenian musik sampyong ini telah berkembang sejak masa Kerajaan Salakanagara.

© Disediakan oleh PT Kreatif Media Karya Sejumlah pemain musik ikut ambil bagian dalam kesenian gambang kromong di pusat budaya Setu Babakan, Depok, Senin (20/7/2015). Kesenian Betawi merupakan salah satu alternatif hiburan warga mengisi libur Lebaran. (Liputan6.com/Helmi Afandi)

Selain itu, kata Yahya, ada juga musik gambang keromong lagu dalam yang tinggal kenangan. Dalam jenisnya, jenis gambang kromong terbagi atas lagu dalem, lagu sayur, dan modern.

“Gambang keromong dalem itu semacam yang klasiknya. Nah kalau yang modern, kayak musik yang dibawain sama Haji Benyamin Suaeib,” jelas dia.

Lagu-lagu yang dibawakan pada musik gambang kromong merupakan lagu-lagu yang isinya bersifat humor, penuh gembira, dan kadangkala bersifat ejekan atau sindiran. Pembawaan lagunya dinyanyikan secara bergilir antara laki-laki dan perempuan sebagai lawannya.

Kesenian lainnya tak tak ditemui saat ini yaitu seni ubrug. Seni tersebut hilang seiring minimnya sosok yang mampu menjadi lakon pertunjukan tersebut.

“Tradisi yang sudah hilang juga adalah seni ubrug. Sekarang seni pertunjukan ini sudah bermetamorfosis ke seni topeng. Udah nggak ada yang main, tapi kostumnya masih ada,” ungkap ayah satu putri ini.

Ubrug Betawi biasa tampil di berbagai tempat seperti panggung hajatan, kampungkampung, pasar, maupun stasiun. Untuk menarik penonton, pemain ubrug Betawi biasanya membunyikan terompet, rebana biang, dan gendang di sepanjang perjalanan. Nantinya, para penonton memberikan saweran usai menikmati pertunjukan tersebut.

Dalam pagelaran itu, para lakon biasanya melontarkan banyolan khas Betawi yang mengundang tawa penonton. Humor yang dibawakan pemain seringkali bersifat kritik sosial dan sindiran terhadap seseorang atau sekelompok yang dianggap menyimpang adat kebiasaan yang berlaku.

Namun hal pokok yang ada pada teater ubrug Betawi hanyalah sebuah pertunjukan yang menghibur dimana jalur cerita adalah hal yang kurang begitu diperhitungkan.

© Disediakan oleh PT Kreatif Media Karya Warga membawa roti buaya saat meramaikan Festival Palang Pintu 2016 di Kemang, Jakarta, (28/5). Festival tersebut menampilkan budaya Betawi di sepanjang Jalan Kemang Raya dengan dua panggung utama dan sekitar 270 booth. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sedangkan dari segi adat pernikahan, Betawi memiliki tradisi yang unik. Kata Yahya, sebelum proses pernikahan digelar, calon mempelai pengantin wanita harus menjalani ritual khusus agar proses acara nantinya dapat berjalan dengan baik.

“Di pernikahan, ada yang namanya tradisi piara pengantin,” ungkap dia.

Piara pengantin itu, lanjut dia, dilakukan oleh orang khusus yang dianggap memiliki keistimewaan. Dia akan melakukan perawatan sang calon pengantin dalam beberapa hari hingga acara berlangsung.

“Jadi dua minggu sebelum akad, pengantin wanita itu dirawat, dipiara,” ujar dia.

Dalam proses pingit itu, sang calon mempelai wanita akan menjalani sejumlah terapi kecantikan. Seperti lulur, memapas gigi, juga ada rambut pengantin yang dihilangkan. “Itu ada jampi-jampinya,” imbuh dia.

Selain itu, ada pula pantangan yang harus ditaati selama proses pingit itu. Sang calon mempelai wanita diminta tidak mengonsumi makanan yang mengandung minyak serta tidak diperkenankan kulitnya terpapar sinar matahari pada jam tertentu.

“Ada pantangannya juga, ada. Misal enggak boleh makan makanan yang digoreng. Juga tidak boleh kena matahari pada jam tertentu, agar tidak mempengaruhi pori-pori kulit yang sudah diterapi,” ujar dia.

Setelah proses itu dijalani secara sempurna, sang pengantin wanita selanjutnya siap untuk menjalani akad nikah. Kesempatan itu menjadi momen berharga yang tak dapat dilupakan.

“Pas acaranya, pengantin itu bagaikan raja dan ratu. Baunya harum,” ujar dia.

© Disediakan oleh PT Kreatif Media Karya Suvenir khas budaya betawi dipamerkan di Pentas Seni dan Budaya Betawi di Kawasan Condet, Jakarta, Sabtu (5/11). Bertema Kampung Condet Berbudaye, pentas seni dan kuliner ini dihelat hingga Minggu (6/11). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Menurut Yahya, banyak faktor yang menjadi penyebab hilangnya tradisi unik tersebut. Di antaranya minimnya pengenalan tradisi ini terhadap keturunan masyarakat Betawi.

“Tradisi itu diwariskan oleh para penduhulu kita secara alamiah. Biasanya kalau bapaknya tampil, anaknya ikut dan menyaksikan. Dan itu menjadi ajang transfer ilmu secara alami,” jelas Yahya.

Tak hanya itu, penyebab lain ialah kurangnya perhatian seniman Betawi terhadap kearifan lokal yang sudah lama terjaga. Mereka menjadi lupa tatkala telah menjadi publik figur.

“Ada beberapa seniman yang dimanjakan media. Seniman muda misalnya yang tenar lewat sinetron. Itu membuat mereka besar kepala,” ujar pria kelahiran 56 tahun lalu itu.

Namun begitu, dia meyakini kesenian tradisional mempunyai kemampuan dalam mempertahankan jati dirinya. Bahkan tradisi yang tenggelam itu akan kembali muncul dengan konsep yang berbeda.

“Tradisi yang sudah meninggal suatu saat muncul dengan chasing berbeda. Tapi kita tidak boleh tinggal diam melihat kondisi itu terjadi,” ucap dia.

Karena itu, dia meminta kepada masyarakat dan pemerintah daerah agar dapat memperhatikan tradisi yang ada. Jangan sampai kearifan lokal itu hilang tergerus hanya sebab tak adanya kepedulian dari semua pihak.

“Semua masyarakat Jakarta, siapa pun itu harus dikenalkan kembali tradisi itu,” pinta pria yang pernah menjadi wartawan majalah ini.

(red/ngga/eksa/AR)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!