"Mau Jadi Wakil Wali Kota Saja, Saya Habis Rp 4 Miliar"

redaksi.co.id - "Mau Jadi Wakil Wali Kota Saja, Saya Habis Rp 4 Miliar" Mantan calon wakil wali kota Medan dalam Pilkada Kota Medan 2015 Eddie Kusuma...

105 0

redaksi.co.id – "Mau Jadi Wakil Wali Kota Saja, Saya Habis Rp 4 Miliar"

Mantan calon wakil wali kota Medan dalam Pilkada Kota Medan 2015 Eddie Kusuma mengaku menghabiskan uang sebanyak Rp 4 miliar untuk mendapatkan jabatan tersebut.

Dia mengatakan hal ini kepada ketua majelis hakim Erintuah Damanik saat menjadi saksi dalam persidangan perkara penipuan dengan terdakwa mantan calon wali kota Medan Ramadhan Pohan.

Eddie dan Ramadhan menyepakati biaya kampanye Redi (Ramadhan-Eddie) menggunakan sistem 2 : 1. Contohnya, biaya sewa posko utama Redi di Jalan Gajah Mada, Medan. Ramadhan mengeluarkan dana Rp 200 juta dan dirinya Rp 100 juta.

“Sistem ini hanya untuk kampanye utama dan pengeluaran besar bersama. Untuk kampanye dan sosialisasi masing-masing, kami pakai uang sendiri,” ujarnya, Kamis (6/4/2017).

FOTO: Mantan calon Wali Kota Medan Eddie Kusuma saat bersaksi di persidangan Ramadhan Pohan, Kamis 6/4/2017.KOMPAS. com/Mei Leandha

Meski begitu, Eddie dan Ramadhan selalu berkoordinasi tentang kegiatan masing-masing. Sehingga paham gambaran kasar pengeluaran masing-masing selama kampanye.

“Biaya kampanye saya lebih besar dari Ramadhan. Mau jadi wakil wali kota saja, saya habis hampir Rp 4 miliar,” ungkap Eddie.

Dana paling besar digunakan untuk pemasangan billboard, baliho, dan alat peraga di seluruh Kota Medan. Semua harus ditanggung Eddie sendiri. Tim pemenangan dan relawan juga merasakan hal yang sama.

Pada persidangan sebelumnya, saksi Burhanuddin Sitepu menyebutkan, ada 10 kegiatan besar yang dilakukannya atas biaya sendiri. Keterangan ini bertolak belakang dengan pernyataan terdakwa Linda yang mengaku mengeluarkan banyak uang untuk biaya kampanye dan selama masa Pilkada.

Sampai-sampai dirinya meminjam Rp 15,3 miliar dari Rotua Hotnida Simanjuntak dan Laurenz Hanry Hamonangan Sianipar.

“Tidak ada donatur atau pemberi hutang kepada Redi atau Ramadhan. Saya yakin itu. Kalau ada, pasti saya tahu. Kami ini maju tanpa ada keterikatan pada pihak-pihak,” tuturnya.

Dirinya tidak pernah rapat dengan tim pemenangan membahas teknis dan besar biaya saksi di TPS Redi. Juga tidak pernah ada rapat untuk membeli ratusan ponsel untuk para saksi di TPS.

“Tidak pernah ada rapat itu. Saya juga tidak pernah lihat ratusan ponsel untuk saksi-saksi,” katanya menyakinkan.

Ditanya hakim soal belasan kuitansi yang diganti Ramadhan dengan selembar cek senilai Rp 10,8 miliar untuk biaya kampanye, Eddie merasa janggal. “Aneh sekali kalau Ramadhan mau menanggung sendiri. Pasti dia kasih tahu saya, apalagi dia sampai berhutang untuk membiayai kampanye Redi,” tegasnya.

“Salah satu alasan saya mau berpasangan dengan Ramadhan karena selama menjabat anggota DPR RI tidak pernah tersangkut kasus hukum. Dia punya track record yang bagus, jujur orangnya,” pungkas Eddie.

Usai Eddie memberi keterangan, saksi berikutnya adalah Kumar yang selama Pilkada bertugas sebagai ajudan Ramadhan. Kumar mengatakan, selama bertugas tidak pernah melihat Ramadhan menerima uang dari orang lain.

“Saya tidak pernah melihat Linda ke kamar Pak Ramadhan menyerahkan uang. Pada 8 Desember, saya ada di Pasbel bersama Pak Ramadhan,” jelas Kumar.

Setelah mendengarkan keterangan keduanya, hakim menutup sidang dan akan membukanya kembali pekan depan.

Sebelumnya diberitakan, Ramadhan Pohan didakwa melakukan penipuan uang sebesar Rp 15,3 miliar. Dia melakukannya bersama Savita Linda Hora Panjaitan (berkas terpisah). Korbannya adalah Rotua Hotnida Simanjuntak dan Laurenz Hanry Hamonangan Sianipar.

Penulis: Kontributor Medan, Mei Leandha

Editor: Reni Susanti

Copyright Kompas.com

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!