Wapres JK Instruksikan NTT Kembali Jadi Daerah Penghasil Sapi

redaksi.co.id - Wapres JK Instruksikan NTT Kembali Jadi Daerah Penghasil Sapi Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla meminta agar Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menjadi daerah...

53 0

redaksi.co.id – Wapres JK Instruksikan NTT Kembali Jadi Daerah Penghasil Sapi

Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla meminta agar Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menjadi daerah penghasil ternak sapi untuk memenuhi kebutuhan nasional. Hal ini disampaikan oleh Bupati Belu Willybrodus Lay usai bertemu dengan wakil presiden di Istana Wakil Presiden.

“Kita sampaikan ke Pak Wapres dan beliau sangat mendukung kegiatan ini,” ujar Willy di Jakarta, Jumat (7/4).

Willy mengatakan, sebelumnya produksi hasil ternak sapi di NTT bisa mencapai di atas 100 ribu ekor per tahun. Namun, saat ini produksinya turun menjadi sekitar 50 ribu ekor per tahun. Ke depan pemerintah ingin meningkatkan hasil produksi ternak sapi mencapai 100 ribu ekor per tahun. Willy menambahkan, penurunan produksi hasil ternak sapi ini disebabkan oleh faktor penggembalaan pada pastoral atau lahan penggembalaan yang berubah fungsi. “Kita ingin megelola padang-padang pastoral yang ada di Kabupaten Belu,” kata Willy.

Sementara itu, produksi hasil ternak di Kabupaten Belu sebesar 5.000-6.000 ekor per tahun. Jumlah ini sangat kecil dan rencananya akan ditingkatkan mencapai 50 ribu ekor per tahun. Willy menjelaskan, untuk mencapai target produksi hasil ternak tersebut membutuhkan waktu antara dua sampai tiga tahun karena perlu adanya penataan penggembalaan.

Willy menambahkan, saat ini dilakukan inseminasi buatan mencapai 17 ribu ekor dan akan terus ditambah sehingga mutu sapi bisa lebih baik. Bibit sapi untuk inseminasi tersebut didapatkan dari balai besar Kementerian Pertanian.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman melakukan kunjungan ke NTT untuk melakukan inseminasi buatan kepada 23 ekor sapi lokal. Hal ini dilakukan untuk menekan harga daging sapi yang saat ini rata-rata sekitar Rp 120 ribu per kilogram.

(red/iti/mi/anik/SUH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!