Kisah Rela Hati, Mantan Biduan Kapal Bersuara Emas di Depok

redaksi.co.id - Kisah Rela Hati, Mantan Biduan Kapal Bersuara Emas di Depok Kala itu suhu Depok di malam hari terasa dingin. Maklum, kawasan itu baru saja...

80 0

redaksi.co.id – Kisah Rela Hati, Mantan Biduan Kapal Bersuara Emas di Depok

Kala itu suhu Depok di malam hari terasa dingin. Maklum, kawasan itu baru saja di guyur hujan lebat. Di tambah lagi waktu sudah larut. Namun, sejumlah pemuda-pemudi masih saling bencengkrama. Seirama dengan bisingnya knalpot kendaraan.

Tiba-tiba, datang seorang perempuan berumur. Ia mengenakan daster merah komplit dengan penutup kepala atau biasa disebut kerudung.

Sembari mengendong speaker, ia melangkahkan kakinya perlahan-lahan ke posisi pedagang yang ramai pelanggan. Ia berdiri tepat di belakang kursi seraya memperkenalkan diri.

Sejenak, perempuan itu berhenti mengucapkan kata-kata. Ia lalu memutar peralatan musik yang dipanggulnya menggunakan satu tangan. Sementara tangan lainnya dipakai menggengam baskom kecil berisikan uang receh.

Sebuah instrumen lagu I’ve Been Away Too Long karya George Baker terdengar lembut. Si perempuan itu mulai meninggikan microphone tepat di bawah dagunya. Ia bernyanyi setiap bait demi bait dengan penuh penghayatan. Tak jarang badannya mengayun-ayun mengikuti irama.

Padahal, baru beberapa kata dalam lirik I’ve Been Away Too Long dilantunkan sudah membuat orang-orang sekitarnya tercengang. Mereka kagum dan seakan tak percaya suara merdu tersebut keluar dari mulut seorang pengamen.

Dia adalah Rela hati. Siapa sangka, dia adalah mantan vokalis band bernama Pelnis band. Band yang dibentuk oleh Kapal Pelni. Dia mengabdikan diri menghibur penumpang kapal yang hendak berkeliling ke Indonesia bagian Timur. Selama 12 tahun, takkala jadwal makan siang dan malam, ia wajib mendendangkan beberapa buah lagu.

“Menyanyi di kapal sejak 2004. Seperti Kapal Pelni lambelu yang ke Ternate, Kapal Pelni Bukit Siguntang ke Sorong. Sekali perjalanan dibayar Rp 1,5 juta,” ucap perempuan yang memfavoritkan Ruth Sahanaya itu di Depok, Minggu 9 April 2017.

Di sana lah, ia mengasah vokalnya dan mempelajari beberapa lirik lagu barat khususnya bergenre slow rock. Seseorang yang masih diingatnya saat berada di kapal adalah Karim Tes, salah satu personil Ireng Maulana All Stars. Karim, kata dia, selalu memberikan wejangan sebelum berada di atas panggung.

“Karim Tes pernah berpesan menyanyi di sini (kapal) tidak boleh sembarangan lagu,” terang dia.

Namun, 2016 lalu, rupanya menjadi penutup tahun dia menggemakan suara merdunya di kapal Pelni. Pertengahan bulan tepatnya, ia sudah tidak lagi melakukan aktivitas itu. Kontrak bersama bandnya telah berakhir. Kini, untuk menyambung hidup dan menafkahi kelima anaknya, ia mesti mengitari Ibu Kota.

Setiap pagi, dengan bermodal kotak musik yang dibelinya seharga Rp 600 ribu, ia bawa mampir ke rumah-rumah makan di kawasan Depok dan Jakarta. Alat itu sebagai penunjang dalam bernyanyi.

“Berangkat dari rumah di Jembatan Serong, Cipayung, Depok pukul 10.00 WIB, sampai di sana, biasanya pukul 11.00 WIB atau 12.00 WIB, waktu dimana orang-orang makan siang,” ucapnya.

Rela Hati juga jago bernyanyi bahasa Inggris dengan artikulasi yang tepat. Sebut saja lagu dari diva pop Amerika Serikat Mariah Carey. Belum lagi lagu lawas seperti The Beatles yang menjadi ‘makanannya’.

Tak hanya mampu menyanyikan lagu asing, wanita ramah tersebut juga mahir bersenandung lagu-lagu daerah. Seolah dirinya enggan melupakan nyanyian Tanah Air.

“Kalau lagu daerah biasanya diminta nyanyi lagu Batak, kemudian lagu dari Minangkabau seperti Pulanglah Uda. Sesuai permintaan aja sih. Jika ada yang ingin saya nyanyi lagu golden memory, ya nyanyi juga,” kata dia.

Di usia yang menginjak kepala empat, Rela Hati harus merangkap peran. Hal ini bukan tanpa sebab, kisah pedih dirasakannya ketika melahirkan anaknya pada 2014 lalu, sang suami pergi tanpa alasan.

“Pulang dari ngamen pulangnya bisa sampe jam satu pagi. Penghasilan ya nggak tentu. Kalau keluar dari jam 11 pagi sampe sore bisa ngantongi Rp 400 ribu. Dibilang capek sih capek, tapi ini demi anak. Harapannya, anak saya bisa sukses,” terang dia.

Penyanyi adalah passion dari Rela Hati. Ia sudah menanamkan cita-citanya menjadi seorang biduan sejak kecil. Diakui Rela, dirinya belajar bernyanyi secara autodidak.

“Selain nyanyi aktivitas lain saya itu bekam, jadi ada orang kalau mau saya bekamin. Menyanyi memang sudah mengalir dalam darah saya. Pernah dilarang nyanyi, tapi kesenian udah pasti ada di saya. Ketika itu mau nyanyi ke kota namun dilarang dan dipindahin ke kampung,” kenang dia.

Untuk menjaga kualitas suaranya, Rela juga memperhatikan makanannya. “Cara menjaga suara, jangan makan berminyak dan minum es,” tutup sang biduwan tersebut.

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!