Menelusuri Karier Ardian Syaf, Sang Komikus Batman "Jokowi" hingga X-Men "212"

redaksi.co.id - Menelusuri Karier Ardian Syaf, Sang Komikus Batman "Jokowi" hingga X-Men "212" Cover komik X-Men Gold edisi pertama dari Marvel yang digarap oleh Ardian Syaf...

76 0

redaksi.co.id – Menelusuri Karier Ardian Syaf, Sang Komikus Batman "Jokowi" hingga X-Men "212"

Cover komik X-Men Gold edisi pertama dari Marvel yang digarap oleh Ardian Syaf bersama penulis naskah Marc GuggenheimMarvel

“Little Jakarta” adalah bagian dari Gotham City yang gelap dan muram, tempat sang manusia kelelawar Batman biasa berseliwiran membelah malam.

Di sana, di antara spanduk warung soto ayam dan masakan Padang, berdiri sebuah baliho kampanye pasangan cagub dan cawagub Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Gambaran tersebut diselipkan oleh Ardian Syaf, seorang ilustrator asal Indonesia yang menangani komik Batgirl edisi The New 52 Nomor 9: Night of the Owls, terbitan DC Comics.

Ketika komik yang bersangkutan terbit, pada 2012, di Jakarta memang sedang berlangsung kampanye pemilihan kepala daerah. Ardian ingin menambah sedikit sentuhan lokal berbau Indonesia pada karya bertaraf internasional itu.

Jokowi sudah dinyatakan maju untuk DKI 1. Saya kebetulan simpati, jadi ikut kampanye sedikit, he-he-he, tutur Ardian menerangkan alasannya dalam sebuah wawancara dengan Kompas.com.

Baliho Jokowi-Ahok hasil coretan Ardian tak terlalu tampak dalam versi cetak komik karena terhalang kotak dialog. Namun, foto sketsa awalnya yang sempat dilansir Antara jelas menampakkan tulisan “Jokowi DKI 1”.

Bertahun-tahun kemudian, Ardian kembali menyisipkan pesan berbau politik dalam karya komik internasional -juga soal pilkada DKI- tapi dengan akibat yang jauh berbeda.

Berawal dari Bobo

Ardian Syaf adalah sosok familiar di dunia komik dan ilustrasi Indonesia. Dia adalah salah satu orang Indonesia yang sukses berprofesi sebagai “penciler” alias komikus yang menerjemahkan naskah ke dalam bahasa gambar.

Dari rumahnya di Desa Tenggur, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, Jawa Timur, lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang ini menggarap karya-karya untuk diterbitkan di aneka komik mancanegara.

Sedari kecil Ardian Syaf sudah bercita-cita menjadi komikus. Kesukaannya pada komik ibarat jatuh cinta pada pandangan pertama: saat duduk di kelas 1 SD, dia sangat terkesan dengan hadiah komik yang didapat dari majalah Bobo.

Sang ayah turut mendukung kesukaannya dengan membelikan Ardian Syaf berbagai komik yang dibeli di pasar loak. Cita-cita menjadi komikus konsisten dijaga. Namun memang, jalan awal yang mesti dirintis tak mudah dilalui.

Dulu, ibu saya pernah khawatir, Aan (panggilan Ardian), dari menggambar bisa kerja apa ya? sebut Ardian suatu ketika, Selepas kuliah tahun 2004, Aan sempat bekerja serabutan di beberapa tempat.

Dia menjadi penata letak buku pelajaran SMA, mengerjakan proyek ilustrasi dengan bayaran kecil, hingga menggarap komik debutan secara cuma-cuma.

Kesempatan besar yang mengubah jalan hidup Ardian datang pada 2007, ketika seorang kenalan memberikan informasi tentang penerbit Dabel Brothers Publishing yang sedang mencari komikus untuk serial komik Dresden Files.

Penerbit yang cukup ternama di Amerika Serikat tersebut lantas mempercayakan Ardian Syaf menggarap komik Dresden Files: Welcome to the Jungle nomor 1 sampai 4. Sejak itulah karya Ardian makin dilirik penerbit besar internasional.

Di balik angka 212

Ardian kemudian bekerja sama dengan nama-nama besar di dunia komik, termasuk DC dan Marvel. Guratan-guratan pensilnya menghiasi berbagai komik seperti Batman Blackest Night, Superman/Batman, Green Lantern Corps, dan Brightest Day.

Ardian dikenal suka menyelipkan unsur-unsur keindonesiaan dalam komik-komik garapannya. Selain baliho Jokowi-Ahok tadi, ada juga topi bertuliskan The Great Help City alias Kota Tulungagung, tengkorak yang mengenakan blangkon, hingga burung Garuda di Washington D.C.

Dalam proyek terbarunya bersamam penerbit Marvel, Ardian menggambar adegan-adegan dalam seri komik X-Men Gold. Dia kembali menyelipkan pesan tersembunyi di edisi pertama yang terbit minggu lalu,

Seperti baliho di Kota Gotham, pesan kali ini juga berbau politik Pilkada, namun nuansanya sedikit berbeda, kalau bukan terbalik. Jika pesan tersembunyi sebelumnya mengundang simpati, yang muncul sekarang justru banyak antipati.

Ardian menulis QS: 5:51 di baju salah satu tokoh mutan dalam komik, lalu menggambar angka 212 sebagai plang sebuah toko.

Editor komik dan pembaca di negara asing tak menyadari bahwa keduanya merupakan referensi yang mengacu pada polemik kasus penistaan agama yang mendera salah satu calon gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

QS: 5:51 merujuk pada Surah Almaidah ayat 51 dalam Al-Quran, sementara 212 adalah singkatan tanggal aksi demonstrasi 2 Desember 2016 di Jakarta yang diikuti oleh Ardian dengan berangkat dari Jawa Timur.

Blunder

Kendati luput dari pengamatan pembaca di negara asing, para penikmat komik di Indonesia segera menyadari keberadaan arti pesan tersembunyi di komik tersebut.

Reaksi pun mulai bermunculan di media sosial. Sebagian netizen menuding Ardian sudah kelewat batas karena bertindak tidak profesional dengan menyelipkan opini pribadi yang mengandung unsur SARA dalam komik. Pesan tersembunyi Ardian kali ini seakan berbuah blunder. Kecaman mulai mengalir.

Dear Marvel Comics Saya menemukan pesan tersembunyi berisi kebencian terhadap minoritas di komik X-Men Gold. Dia (Ardian) menggunakan komik Anda untuk menyebarkan kebencian terhadap non-muslim di Indonesia, tulis seorang pengguna Facebook dari Indonesia yang bernama Haykal Al-Qasimi, dalam sebuah posting publik yang ditujukan kepada Marvel.

Rekan sesama komikus seperti Ario Anindito yang juga bekerja untuk Marvel ikut mengkritisi pesan tersembunyi dari Ardian.

Saya menyukai karya Ardian Syaf, tapi saya pikir yang dilakukannya baru-baru ini di komik X-Men sangat tidak terhormat dan tidak profesional, kicau Ario dalam sebuah tweet.

Sejumlah pihak dari luar negeri tak ketinggalan menyuarakan kecaman. Salah satunya adalah Gwendolyn Willow Wilson yang juga aktif bekerja dengan Marvel dan DC.

Dalam di Tumblr, wanita Muslimah yang menulis naskah komik Ms. Marvel (tokoh superhero beragama Islam) ini mencak-mencak soal pandangan politik dan religius Ardian yang dinilainya keliru, di samping berpotensi mengancam kelangsungan karir komikus Muslim lainnya.

Dia sudah melakukan bunuh diri secara karir. Apa yang dilakukannya bakal terus berdampak pada segelintir muslim yang sudah bersusah payah mengejar karir di dunia komik, tulis Wilson.

Ironisnya, seri komik X-Men sendiri sedari awal sejarahnya dikenal mengusung tema keberagaman serta toleransi terhadap golongan berbeda.

Akhir cerita

Bak longsoran bola salju, kontroversi pesan tersembunyi Ardian di komik X-Men terus bergulir dan makin membesar. Isu ini banyak dibicarakan di jejaring-jejaring sosial dan forum online, hingga kemudian diangkat ke perhatian khalayak luas oleh sejumlah situs berita mainstream.

Maklumlah, X-Men dan Marvel adalah dua nama besar yang mendunia, sementara isu politik dan benturan agama merupakan dua hal sensitif yang menurut sebagian orang sebaiknya dijauhkan dari dunia komik.

Pihak Marvel selaku empunya komik X-Men Gold ikut kena getahnya karena komik sudah kadung terbit. Akhir minggu lalu, Marvel mengeluarkan pernyataan resmi soal pesan tersembunyi dalam komik X-Men Gold.

Isinya merupakan klarifikasi bahwa pesan dari Ardian diselipkan tanpa sepengetahuan pihak penerbit dan tidak mewakili pandangan perusahaan Marvel.

Gambar-gambar yang bersangkutan akan dihapus dalam cetakan berikutnya, juga dari versi digital dan trade paperback. Tindakan disipliner akan diambil, tulis Marvel dalam pernyataan dimaksud, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari laman Comic Book.

Ardian Syaf sendiri telah meminta maaf atas kontroversi yang ditimbulkan oleh pesan tersembunyi dalam komik X-Men Gold. Dia menegaskan bahwa dirinya tidak memusuhi orang non-muslim. Setelah itu Ardian menghapus semua status dan posting terkait komik X-Men Gold dari akun media sosialnya.

Belum jelas tindakan disipliner apa yang akan diambil Marvel terhadap Ardian. Namun, pada Selasa pagi (11/4/2017), Ardian mengunggah status baru bernada miris di akun Facebook miliknya.

Halo dunia Karir saya sudah berakhir sekarang. Inilah konsekuensi dari perbuatan saya, dan saya menerimanya. Tolong jangan ada kecaman, debat, atau kebencian lagi. Saya harap semuanya berdamai, tulis Ardian.

Setelah melalui lika-liku kehidupan dan bersusah payah mencapai keberhasilan di panggung komik internasional, inikah akhir cerita sang Batman dari Tulungagung?

Penulis: Oik Yusuf

Editor: Reska K. Nistanto

Sumber:

Copyright Kompas.com

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!