Mengantisipasi Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok jelang Ramadhan dan Idul Fitri

redaksi.co.id - Mengantisipasi Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok jelang Ramadhan dan Idul Fitri Persoalan kenaikan harga kebutuhan pokok jelang Ramadhan hingga Idul Fitri menjadi tradisi yang selalu...

22 0

redaksi.co.id – Mengantisipasi Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok jelang Ramadhan dan Idul Fitri

Persoalan kenaikan harga kebutuhan pokok jelang Ramadhan hingga Idul Fitri menjadi tradisi yang selalu muncul dari tahun ke tahun.

Bukan tanpa alasan hal tersebut selalu menjadi tradisi. Tingginya kenaikan permintaan pangan pokok tidak diantisipasi dengan baik oleh pemerintah.

Selain itu, persoalan tata niaga rantai pasok kebutuhan pokok juga masih menjadi persoalan yang belum terselaikan. Banyaknya tangan perantara dalam rantai tersebut membuat harga harga bahan pokok menjadi tinggi.

Seperti perkataan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman beberapa waktu lalu, untuk komoditas cabai sendiri ada sembilan hingga 10 mata rantai yang masing-masing mengambil keuntungan.

Dari hitungan Kompas.com, jika harga cabai rawit merah di tingkat petani Rp 50.000 per kilogram, dan 10 mata rantai tersebut mengambil keuntungan misalnya Rp 1.000 per kilogram, maka harga cabai pada konsumen atau end user sudah Rp 60.000 per kilogram, atau naik Rp 10.000 per kilogram akibat panjangnya mata rantai tersebut.

Pedagang sayur mayur menyiapkan dagangannya di Pasar Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (8/7/2015).KOMPAS / AGUS SUSANTO

Mentan Amran menegaskan, menjelang Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini pemerintah telah siap menghadapinya dengan stok kebutuhan pokok yang mampu memenuhi kebutuhan pasar.

“Oh itu (Ramadhan dan Idul Fitri) amanlah, ini justru kami takut harga cabai bergerak turun, beras banyak kurang lebih ada dua juta ton di gudang milik Badan Urusan Logistik (Bulog),” jelas Amran.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti juga mengatakan, untuk beras saat ini Bulog memiliki stok sebesar 1,9 juta ton. Untuk komoditas daging saat ini juga pemerintah memiliki cadangan daging kerbau hingga 40.000 ton dan akan melakukan penambahan stok sebanyak 50.000 ton daging kerbau dari India.

“Daging stok banyak, pokoknya cukup, pokoknya tenang saja semua aman, itu stok beras tersedia sampai 8 bulan kedepan, Ramadhan tinggal dua bulan, artinya pasti tersedia,” terangnya.

Sedangkan gula, Bulog memiliki stok hingga 400.000 ton gula pasir. “Gula ini kami (Bulog) posisi terakhir punya stok 400.000 ton, dan posisi stok itu kami sudah menyebar, artinya jika ada gejolak kelangkaan atau kenaikan harga Insya Allah kami sudah siap intervensi setiap saat,” papar Djarot.

Menjaga Harga

Amran mengklaim bahwa saat ini tidak ada lagi ruang bagi sejumlah pihak yang ingin mempermainkan baik harga maupun pasokan pangan di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Amran dengan berkaca pada kasus kenaikan harga cabai rawit merah beberapa bulan lalu yang membuat pemerintah kelabakan dan mengungkap ada permainan oknum nakal dibalik mahalnya harga cabai.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menegaskan ada dua hal yang perlu diperhatikan pemerintah jika ingin harga kebutuhan pokok saat Ramadhan tidak melonjak.

“Kalau stok aman di pasar, harga juga akan aman,” ujar Mansuri.

Menurut dia, selain menjaga pasokan dan stok kebutuhan pokok, pemerintah juga perlu melakukan pemantauan harga di pasar dengan turun ke pasar dan hal itu akan menenangkan secara psikologi pasar.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga tengah berupaya menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok jelang Ramadhan tahun ini. Salah satu cara yang dilakukan dengan mengatur harga di tingkat toko ritel modern.

“Toko ritel modern ini price leader. Maka ini yang kami kendalikan untuk tidak menjual di atas harga yang ditetapkan,” kata Enggar.

Enggar bersepakat dengan pelaku usaha toko ritel menetapkan harga acuan tiga komoditas pokok yakni gula Rp 12.500 per kilogram, daging impor dari India Rp 80.000 per kilogram, dan minyak goreng kemasan Rp 11.000 per kilogram.

Selain menjaga harga dengan stok yang mecukupi, yang perlu diperhatikan adalah rantai tata niaga yang menjadi faktor meningkatnya harga kebutuhan pokok.

Dari Kementan sendiri memiliki Toko Tani Indonesia yang digagas menjadi pemangkas rantai distribusi kebutuhan pokok.

Kementan melalui Badan Ketahanan Pangan terus meningkatkan jumlah Toko Tani Indonesia (TTI) di wilayah Jakarta.

Kemudian Bulog juga memiliki Rumah Pangan Kita (RPK). Guna memangkas rantai distribusi pangan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) menargetkan akan mendirikan gerai RPK sebanyak 50.000 di tahun ini.

Data yang Akurat

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan, guna menghadapi bulan Ramadhan dan Idul Fitri 2017 Kementerian Pertanian (Kementan) perlu menyediakan data hasil produksi bahan kebutuhan pokok.

“Harus ada data terkait hasil produksi masing-masing komoditas itu akan jauh lebih menenangkan psikologis pasar,” jelasnya.

Pengalaman selama ini menunjukkan terkadang pemerintah mengklaim aman, namun di lapangan berbeda sekali kondisinya. “Karena faktanya aman menurut Kementan, (tetapi) itu tidak aman di lapangan. Contoh pada Natal lalu Mentan bilang aman, Menko bilang aman. Faktanya beberapa komoditas tidak aman harganya tinggi, dan alami kenaikan cukup drastis,” ungkapnya.

Dengan berbagai upaya dan kebijakan yang dilakukan pemerintah, diharapkan tradisi kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi cerita klasik yang tidak terus berulang-ulang setiap tahunnya.

Penulis: Pramdia Arhando Julianto

Editor: Bambang Priyo Jatmiko

Copyright Kompas.com

(red/urista/urnamasari/NP)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!