Basuki: Jembatan panjang kereta cepat Jakarta-Bandung sangat rawan

redaksi.co.id - Basuki: Jembatan panjang kereta cepat Jakarta-Bandung sangat rawan Jembatan panjang yang akan dibangun untuk jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung wajib mendapat sertifikasi dari Komisi Keamanan...

208 0

redaksi.co.id – Basuki: Jembatan panjang kereta cepat Jakarta-Bandung sangat rawan

Jembatan panjang yang akan dibangun untuk jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung wajib mendapat sertifikasi dari Komisi Keamanan Jembatan Panjang. Sertifikat diperlukan untuk menjamin keamanan serta keselamatan mengingat jalur tersebut sangat rawan, baik secara geologi teknik, topografi dan morfologinya.

Hal ini dikatakan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPU-Pera), Basuki Hadimuljono di Jakarta, Kamis (13/4).

“Terakhir itu Cisomang, kita bor sampai 50 meter itu lempung semua. Kondisi geologinya seperti itu sangat rawan, tapi bukan berarti tidak bisa diatasi,” katanya.

Basuki mencontohkan, Tol Cipularang kilometer 92 dan 97 sangat rawan akan longsor. “Contoh jalur KA yang ada sekarang itu yang Belanda bangun, dianggap jalur yang paling aman tapi itu terus bergerak juga,” katanya.

Kondisi geologis jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung berbeda dengan kondisi di China yang cenderung stabil dan datar serta jarang terjadi gempa bumi. Kondisi teknis pondasi jembatan tersebut akan dikaji oleh Komisi Keamanan Jembatan Panjang yang terdiri dari tenaga-tenaga ahli dan profesional di bidang teknik geologi, pondasi dan struktur. Apabila telah memenuhi, maka komisi tersebut akan mengeluarkan sertifikat yang menyatakan bahwa jembatan panjang itu aman untuk dibangun.

“Untuk jembatan panjangnya ya, bukan seluruh jembatan, karena ada satu terowongan, komisi jembatan ini yang ‘go or no go’ (lanjut atau tidak lanjut dibangun), secara profesional komisi itu yang ‘approve’ (memberi izin), bukan orang PU, ” katanya.

Saat ini, Basuki telah menyurati Kementerian Perhubungan terkait kajian tersebut. Selain itu, lanjut dia, sertifikasi dari Komisi Keamanan Jembatan Panjang untuk menjamin keberlangsungan bangunan tersebut. “Pengalaman di Kutai Kartanegara itu yang bangun kabupaten tapi siapa yang tanggung jawab (ketika runtuh), lepas tangan semua,” katanya.

Namun, Basuki mengatakan ada kemungkinan pembengkakan biaya dari hasil kajian tersebut karena kondisi teknisnya yang membutuhkan teknologi tinggi. “Saya menyampaikan hati-hati karena disampaikan juga oleh Ibu Menkeu ‘overrun’ (pembengkakan biaya) 30 persen. Saya bilang mungkin lebih dengan kondisi geologi seperti itu,” katanya.

Seperti proyek Jembatan Suramadu yang menghabiskan biaya dua kali lipa dari kisaran investasi semula, yaitu dari Rp 2,5 triliun menjadi Rp 5 triliun. “Di manapun kalau pondasi di bawah permukaan itu ada yang namanya ‘unforeseen’, hal yang tidak keduga. Itu tergantung penyelidikan awalnya, hal ini supaya lebih teliti,” katanya.

Basuki mengatakan pengkajian tersebut berdasarkan perintah Presiden Joko Widodo melalui rapat terbatas yang disampaikan langsung ke Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. “Karena sebelumnya Pak Luhut sampaikan hitungan detil tentang LRT, sehingga presiden minta kereta cepat dihitung lagi layaknya hitungan detil LRT itu, termasuk mempertimbangkan konstruksinya,” katanya.

Presiden pun tidak mempermasalahkan apabila pembangunan proyek strategis tersebut molor dan tak rampung pada 2019. “Presiden ‘kan bilang sudah tidak ada lagi selesai 2019. Dari sebelumnya beliau sudah bicara,” katanya.

Investasi awal proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yaitu USD 5,135 miliar. Jalur kereta yang membentang 142 kilometer tersebut menembus sembilan kabupaten-kota sepanjang di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi DKI Jakarta.

Selain itu, akan dibangun empat stasiun, yakni Stasiun Halim-Stasiun Karawang-Stasiun Walini-Stasiun Tegalluar (Bojongsoang, Kabupaten Bandung).

(red/ris/ahyudianto/AW)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!