Annual Meeting ke-4 Alumni Universitas Maroko Bahas Soal Pentingnya Moderasi Dalam Menjalankan Agama

JAKARTA Redaksi.co.id -Himpunan Alumni Universitas Maroko (Moroccoan Universities), mengadakan pertemuan tahunan (Annual Meeting) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, (Selasa, 19/05/2015).Pertemuan yang selalu didukung Kedubes Maroko di...

29 0

JAKARTA Redaksi.co.id –Himpunan Alumni Universitas Maroko (Moroccoan Universities), mengadakan pertemuan tahunan (Annual Meeting) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, (Selasa, 19/05/2015).

Pertemuan yang selalu didukung Kedubes Maroko di Indonesia ini, merupakan yang ke-4 sejak terbentuknya Himpunan Alumni Maroko-Indonesia (Himami). Sedangkan Maroko selama ini merupakan salah satu negara favorit bagi pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan terutama agama Islam.

Ada beberapa pembicara dalam Annual Meeting ke4 yaitu: Duta Besar Maroko untuk Indonesia, H.E Mr. Mohamed Majdi; Dr. Ahmad Ridho, DESA (Ketua Ikatan Alumni); Dr. M. Yusuf Shiddiq, DESA; Dr. Eka Putra Wirman; Dr. Aewani Syaerozi, MA.

Diketahui, Maroko dan Indonesia merupakan dua negara yang memiliki akar sejarah hubungan bilateral yang baik. Sementara terjalinnya hubungan baik itu dilandasi oleh sejumlah persamaan karakteristik yang dimiliki oleh kedua negara.

Demikian disampaikan Duta Besar Maroko untuk Indonesia Mohamed Majdi dalam acara “4th Meeting of Indonesian Alumni from Moroccoan Universities” yang dihadiri kurang lebih 50 orang alumni, ditambah beberapa mahasiswa Universitas Maroko aktif (sedang libur), dan organisasi kekerabatan Kedutaan Maroko di Indonesia.

“Hubungan Indonesia dan Maroko diliputi dengan berbagi nilai toleransi dan moderat,” katanya.

Sama halnya seperti Indonesia, menurutnya, Maroko sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, memisahkan ranah agama dengan politik.

“Tidak ada ruang bagi proyek politik dalam wilayah agama. Sehingga agama tidak menjadi objek untuk kekuasaan,” jelasnya.

Sedangkan kerjasama pendidikan antara Maroko dan Indonesia telah dijalin sejak bertahun-tahun lalu.

Majdi menjelaskan, setiap tahun Maroko memberikan sekitar 50 beasiswa bagi pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke Maroko.

“Walaupun tidak semua, namun mayoritas di antaranya mengambil studi agama,” ungkapnya.

Menurutnya, banyak mahasiswa Indonesia yang mengambil studi agama ke Maroko karena kesamaan karakteristik serta nilai-nilai yang dianut kedua bangsa.

“Maroko dan Indonesia berbagi kesamaan nilai-nilai toleransi dan moderat,” sambungnya.

Maroko dan Indonesia, sambung Dubes Majdi, merupakan negara yang sama-sama memiliki penduduk Muslim. Namun hal itu tidak menjadikan Maroko ataupun Indonesia sebagai negara Islam.

Hal senada juga dikatakan Dr. Ahmad Ridho, DESA, salah seorang pembicara yang juga Ketua Alumni, usai acara pertemuan.

Menurut Ridho yang sudah 10 tahun tinggal di Maroko (mulai pendidikan S-1; S-2 hingga S-3) di Universitas Maroko ini, moderasi beragama di Maroko tidak jauh beda dengan Indonesia.

“Maroko merupakan negara yang moderat baik dalam beragama maupun politik. Sama halnya seperti di Indonesia,” ujar Ridho.

Dikatakan Ridho, soal moderasi dalam beragama, Maroko merupakan negara mayoritas Muslim, bisa berdampingan dengan sejumlah kelompok minoritas, termasuk Yahudi.

“Tapi seperti di Indonesia, kelompok mayoritas dan minoritas bisa hidup berdampingan tanpa adanya diskriminasi,” tandasnya.

Bahkan kata Ridho, salah seorang penasehat Kerajaan Maroko, adalah orang pemeluk Yahudi. Dan itu sudah berlangsung lama.

Sementara moderasi dalam berpolitik, setelah mulainya arus reformasi, Indonesia terbukti mampu mempertahankan kestabilan politiknya tanpa memicu terjadinya konflik berkelanjutan di masyarakat. Hal itu tercermin dalam pelaksanaan pemilihan umum uang sudah beberapa kali diselenggarakan.

Sedangkan kestabilan politik serupa juga terjadi di Maroko. Selain itu, Maroko juga tidak terpengaruh ketika terjadi gelombang reformasi yang terjadi di sejumlah negara di Timur Tengah seperti Tunisia, Mesir, Suriah, dan Yaman.

“Saat perang berkelanjutan masih terjadi seperti di Suriah dan Libya, Maroko masih mampu stabil,” bebernya.

“Hal itu menunjukkan bagaimana moderatnya masyarakat Maroko sehingga bisa mengedepankan keutuhan bangsa ketimbang kepentingan politik semata,” imbuhnya.

Sebab itu, Ridho yang juga dosen UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta ini berharap, agar dalam hidup bersosial, masyarakat Indonesia mampu menjaga toleransi beragama. Karena tidak ada yang perlu dipersoalkan soal mayoritas dan minoritas.

Ke depan, lanjut Ridho, Himpunan Alumni Universitas Maroko akan membuka dialog-dialog dengan institusi maupun organisasi masyarakat Islam di Indonesia, dalam rangka sharing pengalaman dan pemahaman moderasi pandangan ke-Islaman.

Sementara itu, Ketua Umum DPN PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia), Wilson Lalengke, SPd, MA, M.Si, yang juga pernah melawat ke Maroko atas dukungan Kedubes Maroko di Indonesia mengatakan, topik pembahasan kali ini sangat tepat dengan situasi belakangan di Indonesia.

“Saya kira topik pembahasan kali ini soal moderasi dalam menjalankan agama, sangat tepat dengan situasi terakhir. Karena di Indonesia masih sering terganggu persoalan kebebasan menjalankan agamanya, padahal dalam konstitusi Negara sudah jelas,” ungkapnya usai pertemuan.

Wilson berharap, Himpunan Alumni Universitas Maroko, bisa menjadi salah satu stabilisator toleransi beragama di Indonesia.

“Himpunan Alumni Universitas Maroko saya kira bisa menjadi salah satu stabilisator dalam pemahaman moderasi beragama di Indonesia. Salah satu cara dengan membuka ruang dialog dengan berbagai kelompok Islam yang masih sering terlihat mengedepankan permusuhan dan kekerasan,” pungkasnya. (DANS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!