Unjuk Rasa Mahasiswa Warnai Harkitnas 2015

233

JAKARTA Redaksi.co.id – Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), 20 Mei 2015, justru diwarnai luapan unjuk rasa para mahasiswa.

Unjuk rasa ribuan mahasiswa mulai dari depan Istana Negara hingga di berbagai daerah itu, bukan saja hanya menuntut turunnya harga-harga kebutuhan bahan pokok masyarakat. Namun juga menuntut Presiden Jokowi-Jusuf Kalla (JK) turun dari jabatannya, karena dinilai gagal dalam Pemerintahannya.

Dari Jakarta, ribuan mahasiswa menggelar di depan Istana Negara dari berbagai elemen sejak Rabu (20/05/2015) pagi hingga sore. Sebagian ada yang terlibat bentrok, namun ada yang berdemo secara damai.

Aksi unjuk rasa para mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI), sempat terjadi aksi saling dorong dengan aparat kepolisian yang mengamankan aksi.

Para mahasiswa dari berbagai kampus itu sempat ricuh, karena menarik kawat berduri yang membatasi area unjuk rasa dan halaman Istana Negara. Kawat ditarik hingga kira-kira lima meter, agar kawat terbuka dan mahasiswa bisa merangsek masuk ke halaman Istana.

“Kawan-kawan takut tidak? Kalau kawan-kawan tidak takut mari kita tarik kawat berduri!” teriak salah seorang orator melalui pengeras suara.

Namun beberapa saat kemudian, para aparat kepolisian maju ke depan menarik kawat ke posisi semula. Ketegangan pun terjadi, tarik-menarik kawat sempat terjadi selama beberapa menit. Mahasiswa pun melampar botol berisi air mineral ke arah polisi.

“Hei polisi, kalian jangan sewenang-wenang. Kalian dibayar dengan uang rakyat!” teriak sang orator.

Mahasiswa pun akhirnya melepas kawat berduri dan polisi memborgol celah antar-kawat berduri agar tidak ada jalan masuk ke Istana. Sedangkan pasukan Sabhara sudah mengenakan perlengkapan pengamanan anti-huru hara, dan anjing kepolisian juga terlihat disiagakan.

Sedangkan rilis yang dibagikan para mahasiswa dari kelompok AMI, menginginkan turunnya Jokowi-JK sebagai tanggung jawab dari kepemimpinan mereka selama 6 bulan ini. Para mahasiwa menilai Jokowi – JK telah gagal memimpin bangsa.

Sementara itu, ratusan aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyaah (IMM) juga menggelar unjuk rasa di depan Istana Negara. Aksi ini dilakukan guna meminta pertanggung jawaban Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla atas kinerja selama menjabat.

IMM mendesak Jokowi-JK tak lagi mengakomodir kepentingan segelintir orang, melainkan bekerja sesuai amanat rakyat, dan tidak berkhianat.

“Jangan bekhianat! Jangan jadi antek antek neolib” teriak orator aksi melalui pengeras suara.

IMM juga menuntut Presiden dan Wakil Presiden untuk cerdas dalam melihat kondisi kondisi yang ada di masyarakat, dan tidak bertindak sewenang-wenang dalam mengambil kebijakan.

“Presiden dan Wakilnya harus cerdas melihat kondisi di masyarakat. Kalau tidak mampu penuhi harapan rakyat, silahkan mundur! Silahkan mundur Pak Jokowi,” lagi-lagi sang orator bicara lantang, disambut teriakan hidup mahasiswa dari para pendemo.

Namun, para mahasiswa dari IMM sempat terlibat bentrok dengan polisi Anti Huru Hara yang berjaga di depan Gedung Mahmakah Agung, Medan Merdeka Utara. Massa IMM yang hendak bergerak dari arah Istana Negara, tiba-tiba melempari polisi dengan batu. Tidak jelas pemicu dari kerusuhan ini.

Polisi langsung bergegas membentuk barikade menggunakan tameng. Sementara massa terus melempari polisi kendati koordinator lapangan aksi IMM dan polisi terus menghimbau untuk menghentikan serangan. Polisi dan beberapa massa mencoba mengevakuasi para perempuan IMM. Setelah beberapa menit, pertikaian reda dan massa aksi bergerak menuju arah Gambir.

Aksi unjuk rasa juga dilakukan kelompok Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di depan Istana Negara. Aksi ini sempat diwarnai bakar ban oleh salah seorang mahasiswa, yang kemudian membentuk lingkaran mengepung ban terbakar tersebut.

Ban yang terbakar sempat ditendang-tendang beberapa kali, sampai akhirnya polisi mengingatkan agar mereka berhenti melakukan hal itu. Kepulan asap pun makin membesar dan lingkaran mulai menyingkir melebar. Para mahasiswa mulai berhamburan dan berdesakan. Bahkan beberapa diantaranya terbatuk-batuk akibat asap tebal.

Dalam orasinya, Ketua PB HMI, Arief Rosyid Hasan menyerukan agar Presiden Joko Widodo menjaga stabilitas ekonomi.

“Segera penuhi janji untuk membangun infrastruktur, setiap kenaikan harga komoditas BBM, listrik dan gas harus menyesuaikan daya beli dan psikologi masyarakat,” seru Arief

Selain itu, HMI juga menuntut agar Presiden menjaga stabilitas politik, serta jangan terus melakukan pencitraan dan kontroversi.

“Jangan biarkan ada penumpang gelap di dalam pemerintahan yang membawa agenda yang berbeda, apalagi melangkahi hak presidensial. Para anggota kabinet harus fokus bekerja dan mengurangi pencitraan dan kontroversi,” tandasnya.

Sementara itu, di Palu, Sulawesi Tengah, polisi terpaksa mengamankan sejumlah mahasiswa yang menggelar aksi.

Unjukrasa dari sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aktivis Pemuda Untuk Rakyat (Gapura) Sulteng itu berakhir ricuh. Kericuhan dipicu lemparan batu tepat di saat salah seorang polisi berusaha memadamkan api dari ban bekas yang dibakar mahasiswa.

Para mahasiswa bergantian berorasi meneriakkan tuntutannya, salah satunya adalah meminta agar rezim Jokowi diturunkan, karena dinilai tidak membawa perubahan berarti bagi kemajuan negara.

Bahkan menurut mereka, intervensi asing semakin gencar dalam penguasaan sumber daya alam nasional. Mereka membentangkan spanduk di jalan sembari berorasi dengan latar belakang kepulan asap hitam tebal akibat pembakaran ban bekas tepat di perempatan jalan tersebut.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, aksi demonstrasi mahasiswa sempat diwarnai aksi saling lempar batu di depan kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh), Rabu siang. Aksi mahasiswa Unismuh dari berbagai kelompok itu silih berganti keluar dari kampus dan melakukan aksi demonstrasi, menuntut Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mundur dari jabatannya.

Bahkan mahasiswa sempat memblokade Jalan Sultan Alauddin yang merupakan jalan Trans-Sulawesi Selatan yang menghubungkan Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Mahasiswa menahan mobil dan menjadikannya sebagai panggung orasi. Akibatnya, arus kendaraan di jalan tersebut menjadi terganggu yang mengakibatkan kemacetan panjang.

“Jokowi-JK harus mundur karena gagal dalam menjalankan pemerintahan di Indonesia,” teriak mahasiswa dalam orasinya.

Suasana semakin memanas ketika mahasiswa berdebat dengan seorang sopir mobil. Polisi pun kemudian melerai hingga akhirnya situasi tak terkendali dan kejar-kejaran antara mahasiswa dan polisi tak terhindarkan hingga ke dalam kampus. Mahasiswa pun melempari polisi dari dalam kampus dan kemudian disusul dengan suara tembakan.

Sementara itu, puluhan mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) juga melakukan aksi demonstrasi di depan kampusnya, di Menara Phinisi, Jalan AP Pettarani. Mahasiswa di tempat ini berorasi di tengah jalan sambil membakar ban bekas dan menutup sebagian badan jalan.

Sedangkan di bawah jalan layang (flyover), puluhan mahasiswa dari kelompok KAMMI menggelar aksi demonstrasi. Kelompok mahasiswa yang rata-rata beranggotakan perempuan ini menuntut Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Jusuf Kalla mundur dari jabatannya.

Sementara di Bogor, Jawa Barat, sekelompok mahasiswa menyegel pintu gerbang Istana Bogor. Adapun di Serang, Banten, juga terjadi bentrok dan lempar batu. Bahkan diketahui, 2 orang wartawan elektronik kena lemparan batu. Di Medan, Sumatera Utara juga terjadi aksi saling dorong pintu gerbang di depan Kantor Walikota dan Kantor DPRD, antara mahasiswa dan aparat.

Terpisah, Pimpinan DPR melihat demonstrasi tersebut jauh dari usaha menjatuhkan Presiden Joko Widodo.

“Masih jauh. Kita tidak melihat usaha-usaha itu,” kata Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (20/5/2015).

Politisi PAN ini mengatakan, DPR bersama pemerintah berkomitmen bekerja untuk rakyat. DPR merupakan episentrum politik. Sehingga segala persoalan, kata Taufik, dapat diselesaikan secara konstitusional di Parlemen. (DANS)

loading...

Comments

comments!