Beras Plastik yang Diedarkan di Wilayah Bekasi Diduga Persaingan Dagang

BEKASI Redaksi.co.id – Temuan beras yang diduga mengandung bahan plastik di Kota Bekasi, Jawa Barat, sebagai bagian dari persaingan usaha yang tidak sehat. Polemik masalah...

34 0

BEKASI Redaksi.co.id – Temuan beras yang diduga mengandung bahan plastik di Kota Bekasi, Jawa Barat, sebagai bagian dari persaingan usaha yang tidak sehat. Polemik masalah ini telah membuat pedagang di pasar tradisional merugi.

Nellys Soekidi, Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia mengatakan, ada beberapa hal yang tidak masuk logika dari polemik beras sintetis ini.

Menurut dia, jika pencampuran beras dengan plastik disengaja untuk mendapatkan keuntungan, maka hal tersebut mustahil dilakukan.

“Kalau orang nyampur itu kan tujuannya keuntungan, sementara plastik ini lebih mahal dibanding beras, kata Nellys, di acara diskusi polemik beras plastik, Sabtu (23/05/2015).

Ia mengatakan, jaringan pedagang beras biasanya sudah memiliki pelanggan. Seperti halnya toko milik Sembiring, yang mengaku mendapatkan pasokan beras dari Karawang. Nellys sangat yakin bahwa Sembiring tidak tahu bahwa beras yang dijual mengandung bahan plastik.

Jika beras yang didapatkan oleh Dewi Septiani itu merupakan beras rekondisi, kata Nellys, beras-beras yang sudah hancur biasanya diubah menjadi tepung beras. Kalaupun kondisinya lebih buruk lagi, maka beras tersebut akan dijadikan pakan ternak.

Nellys yang sudah berkecimpung dalam perdagangan beras selama 26 tahun mengaku prihatin atas polemik ini.

Akibat adanya isu beras plastik, kepercayaan konsumen terhadap pasar tradisional menurun. Omzet pedagang beras pun anjlok.

Perpadi mendorong pihak kepolisian untuk segera mengungkap motif di balik kasus ini.

Menurut dia, mustahil bagi para produsen beras untuk mencampur dengan bahan yang harganya lebih tinggi dan mendapat risiko kehilangan pelanggan.

“Mungkin ada pihak-pihak lain yang membuat suasana menjadi seperti ini. Banyak kemungkinan,” ujar Nellys.

Sementara itu, Ngadiran, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menyampaikan, dengan adanya kejadian ini, pedagang maupun konsumen seharusnya lebih berhati-hati dan cerdas dalam memilih produk yang akan dijual atau dikonsumsi.

Namun, ia menyayangkan karena setiap kali ada kejadian bahan pangan tidak sehat, yang menjadi sasaran adalah pedagang kecil.

“Setiap ada seperti itu, yang jadi sasaran adalah pedagang kecil di pasar tradisional. Apakah pernah ada sidak di pasar modern?” pungkas Ngadiran. (Agus S)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!