Penyelesaian Polemik Peradi di Bekasi Bisa Menjadi Contoh

312

BEKASI Redaksi.co.id Kekisruhan yang terjadi dalam Musyawarah Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia atau Peradi di Makassar Maret lalu, menjadi alasan Otto Hasibuan untuk tetap memimpin sebagai Ketua Umum Peradi sesuai dengan hasil Munas Pontianak 2010.

Sekalipun terdapat pihak yang mengklaim bahwa Munas Makassar telah menghasilkan nama sebagai Ketua Umum, namun bagi pihak yang berada dalam barisan Otto Hasibuan, keputusan tersebut tidak sah. Oleh karenanya, DPN Peradi di bawah kepemimpinan Otto Hasibuan tetap akan menggelar Munas pada pertengahan Juni mendatang yang semula tertunda akibat terjadi kisruh.

Hanya saja, polemik yang tengah melanda Peradi di pusat itu diharapkan tidak menimbulkan perpecahan yang berbuntut adanya Peradi atau organisasi Advokat tandingan.

Iklimnya memang tengah bergejolak setelah terjadi kekisruhan pada Munas di Makassar. Namun kami berharap agar konflik tersebut segera selesai, dan mengembalikan permasalahan tersebut kepada konstitusi, ujar Calon Ketua DPC Peradi Bekasi, Priyojatmiko.

Menurutnya, legitimasi yang sah sebagai Ketua Umum DPN Peradi hingga kini adalah Otto Hasibuan. Karena mekanisme pergantian ketua umum belum terlaksana, dan baru akan dihelat pada Juni mendatang di Pontianak.

Untuk saat ini kami masih mengakui Otto Hasibuan sebagai Ketua Umum. Akan tetapi, kami berharap agar Munas nanti semua berlangsung kondusif dan tidak terjadi konflik, apalagi berujung pada terbentuknya Peradi tandingan, imbuhnya di sela kegiatan peresmian Priyojatmiko center yang berlangsung di Ruko Niaga Kalimalang, Blok B1 No 5, Bekasi Selatan, Sabtu (23/05/2015).

Sementara, kata Priyojatmiko, konflik di pusat harus diselesaikan secara bijak, agar ke depannya tidak terjadi faksi-faksi lain dalam Peradi.

Priyojatmiko mengatakan, DPC Peradi Bekasi dapat menjadi contoh bagi DPN dalam menyelesaikan masalah.

Menurutnya, sekalipun DPC Peradi Bekasi akan menghelat Musyawarah Cabang, namun situasi tetap kondusif tanpa ada wacana terjadinya perpecahan.

Konstalasi di setiap agenda musyawarah memang selalu panas, akan tetapi semua bisa terselesaikan dengan jalan musyawarah dan kekeluargaan, katanya sambil menjelaskan alasan dibentuknya Priyojatmiko center adalah untuk menyambung silaturahmi sesama advokat di Bekasi, di samping beberapa agenda lain yang berkenaan dengan profesi advokat.

Sementara, mengenai alasan pencalonan dirinya sebagai Ketua DPC Peradi Bekasi, ialah karena beberapa faktor yang belum bisa dimaksimalkan oleh kepengurusan saat ini, diantaranya dalam menjalin kemitraan terhadap pemerintah dan jajaran Muspida lainnya.

Selain itu, manfaat Peradi di Bekasi belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat secara luas, dalam konteks sosial maupun dalam memberikan pemahaman hukum bagi masyarakat. Menurutnya, Peradi sebagai wadah profesi harus dapat memberikan manfaat lebih bagi daerah.

Karena, peran Peradi, kata Priyo, harus sejajar dengan Muspida dalam menciptakan iklim yang kondusif, serta keikutsertaan Peradi dalam mengambil kebijakan daerah, haruslah beriringan.

Ke depannya kami akan aktif dalam memberikan masukan bagi pemerintah daerah, terlebih yang menyangkut dalam pembahasan produk hukum atau perda. Karena secara profesi, advokat lebih menguasai keilmuan yang menyangkut dengan tatalaksana undang-undang dan hukum. Namun perlu digarisbawahi, bahwa tujuan keterlibatan Peradi dalam pembahasan Perda kedepannya, agar tidak ada kesalahan dalam membuat kebijakan, yang nantinya akan berdampak negatif bagi masyarakat, paparnya mengumpamakan beberapa produk hukum daerah yang menyangkut ketenagakerjaan masih bias, disamping beberapa perda lainnya yang keluar dari track undang-undang.

Intinya nanti kami akan lebih optimal dalam menjalankan fungsi sebagai advokat, serta lebih peka terhadap kebutuhan hukum bagi masyarakat, pungkasnya. (Agus S)

loading...

Comments

comments!