Luar Biasa, Zumrothul Lutfiyah Hanya Butuh Delapan untuk Hapal Al Quran

REMBANG Redaksi.co.id - Sungguh menakjubkan kemampuan remaja putri yang satu ini. Ia mampu menghafal seluruh isi Alquran di usia delapan tahun. Zumrothul Lutfiyah demikian nama perempuan tersebut.

77 0

REMBANG Redaksi.co.id – Sungguh menakjubkan kemampuan remaja putri yang satu ini. Ia mampu menghafal seluruh isi Alquran di usia delapan tahun. Zumrothul Lutfiyah demikian nama perempuan tersebut.

Sejak kecil remaja putri yang lahir dan dibesarkan di lingkungan pondok pesantren 20 tahun lalu itu dapat belajar dan menghafal Al Quran. Ini tentunya membuat banyak orang berdecak kagum. Pasalnya perempuan kelahiran Desa /Kec.Sedan, itu hanya butuh waktu delapan bulan untuk bisa menyelesaikan hafalan Al-Quran sebanyak 30 juz. Itupun ia lakukan saat usinya baru menginjak delapan tahun.

Pencapainnya itu bukan diraihnya dengan mudah. Sejak kecil ia yang memang lahir dari keluarga pesantren itu, harus mendapatkan gemblengan pendidikan agama. orang tuanya memberikan pendidikan sangat ketat soal Al-Quran. Maklum saja, kedua orang tua Lutfiyah adalah pengasuh Ponpes Al-Furqon yang terletak di Rt 5 Rw 1, Desa/Kecamatan Sedan.
Bisa jadi kemampuan Lutfiyah mengahafal Al-Quran dengan waktu yang cepat juga merupakan titisan dari kedua orang tua. Kedua orang tuanya tercatat juga sebagai hafidz dan hafidzoh Al-Quran sejak masih muda.

Lutfiyah memang memiliki latar belakang keluarga penghafal Al-Quran. Selain dirinya dan kedua orang tua, adiknya pun kini juga sudah menjadi hafizdoh. Bahkan, waktu tempuh menghafalnya lebih cepat dua bulan dari dirinya. Bukan itu saja, adik keduanya saat ini juga sedang proses menajdi hafizdoh.

Saya terlahir dari keluarga pesantren yang sehari-hari bergelut dengan ilmu agama, termasuk Al-Quran. Kebetulan pesantren bapak memiliki basis belajar Al-Quran. Dari situasi itulah akhirnya saya juga menghafal Al-Quran, jelas sulung dari sebelas saudara ini.

Proses Lutfiyah menghafal Al-Quran dilaluinya dengan cukup berat. Setelah lancar membaca Al-Quran, hampir setiap waktu ia harus mempelajarinya. Bahkan, Al-Quran jarang terlepas dari genggaman tangannya, sekalipun saat bermain atau tidur.

Kondisi itu sempat membuatnya hampir merasa frustasi. Lantaran sejak kecil sudah mendapatkan didikan keras dan harus menghafal Al-Quran, ia sempat merasa jenuh dan lelah dengan kondisi seperti itu.

Saat itu, bermain pun saya menggenggam Al-Quran. Sampai pada suatu hari saya benar-benar merasa lelah dengan aktivitas sehari-hari. Hingga khilaf, sempat memasukan Al-Quran ke dalam ember berisi air. Oleh ibu, saya kembali diberikan motivasi, bahwa ini semua untuk kebaikan di masa mendatang, tutur dia.

Menurutnya, dorongan terbesar baginya untuk menjadi seorang hafizdoh berasal dari sang ibu, Mundasah. Bahkan, sebelum namanya diganti menjadi Zumrothul Lutfiyah, sang ibu awalnya memberi nama kepadanya, Lut Jeng Luthfiyyah. Itu adalah nama dari seorang mufasiroh atau penafsir Al-Quran terkenal. Harapannya saat itu, Lutfiyah kecil kelak menjadi mufasiroh terkenal.

Gayung pun bersambut. Pada akhirnya Lutfiyah pun menyadari ada desakan dari dirinya untuk mewujudkan keinginan ibunya itu. Setelah benar-benar mencintai Al-Quran, akhirnya ia juga berkeinginan untuk menjadi mufasiroh.

Untuk mewujudkan hal itu, semua proses pendidikannya dijalani pada lembaga yang memeiliki basis keagamaan. Hingga, akhirnya kini ia menjalani proses sebagai mahasiswi di STAI al-Anwar Sarang, mengambil jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir di Fakultas Ushuludin.

Mahasiswi semester dua ini menganggap, belajar di kampus sebagai proses mewudukan jalan sebagai mufasiroh.

Awal masuk kuliah, ada ilmu lain yang juga harus saya dalami. Seperti tuntutan bisa membaca kitab kuning. Padahal itu merupakan hal yang belum pernah saya pelajari sebelumnya. Sebab selam ini hanya terfokus pada Al-Quran. Saya belajar dari nol lagi soal Nahwu Shorof (Tata Bahasa Arab), jelas penikmat aneka buku bacaan itu.

Kemampuan Lutfiyah dalam mendalami Ilmu Al-Quran sudah teruji melalui berbagia ajang perlombaan. Tercatat, ia pernah menjadi jawara ajang Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ), mulai timngkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional.

Alhamdulillah saya pernah juara dalam perlombaan tartil, tahfidz 1 juz hingga 30 juz Al-Quran. Semua perlombaan itu sudah pernah saya juarai, kecuali lomba tafsir Bahasa Arab. Pernah juara, namun hanya harapan satu, pungkasnya. (Hasan)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!