Perayaan HUT I Forum Bangso Batak Indonesia Sajikan Diskusi Masyarakat Ekonomi ASEAN

JAKARTA Redaksi.co.id - Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) I tahun 2015 secara sederhana, di Gedung Sinar Kasih, Jakarta Timur, Sabtu malam...

19 0

JAKARTA Redaksi.co.id –
Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) I tahun 2015 secara sederhana, di Gedung Sinar Kasih, Jakarta Timur, Sabtu malam tanggal 30 Mei 2015.

Namun, dalam kesederhanaan itu, FBBI nampaknya tak ingin melewatkan momentum untuk membuka ruang bicara dengan para undangan, dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pasar Bebas ASEAN, Sudah Siapkah Kita Menghadapinya?. Topik ini dipresentasikan di sesi I dengan Pembicara Utama, Dr. Mangasi Panjaitan, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB).

Mangasi Panjaitan yang sehari-harinya sebagai dosen dan peneliti, mengungkap berbagai tantangan di depan mata, soal terbukanya pasar bebas ASEAN (Masyarakat Ekonomi ASEAN/ MEA). Keterbukaan itu bukan saja soal produksi, tapi juga menyangkut pasar tenaga kerja Indonesia, yang akan dimasuki para tenaga kerja dari negara-negara ASEAN, seperti: Malaysia, Filippina, Singapura, Thailand, Vietnam, Kamboja dan lain-lain.

Sementara menurut data Bappenas (2012) dan World Economic Forum (2014), kata Mangasi, peringkat daya saing Indonesia selama ini selalu dibawah Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand. Belum lagi soal IPM (Indeks Pembangunan Manusia), yang masih di peringkat 6, dibawah Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand, dan Filippina.

Sedangkan disisi lain, perguruan tinggi sebagai tempat mencetak kaum intelektual, juga kalah saing dengan perguruan tinggi di Asia dan beberapa perguruan tinggi di ASEAN. Sederet institusi beken di Indonesia seperti: UGM, UI, ITB, IPB dan Unair, masih saja berada dibawah peringkat: National University Of Singapore, Kasetsart University (Thailand), Nanyang Technology University (Singapore), dan Universitas Putera Malaysia.

Sebab itu, Mangasi justru menggugah kesiapan masyarakat Indonesia pada umumnya, dan warga masyarakat Batak (khususnya), dalam menghadapi situasi keterbukaan ini. Karena jika tidak bisa bersaing, maka tenaga kerja Indonesia akan tersingkir di negaranya sendiri.

Dari uraian ini, bagaimana dengan kita masyarakat Batak khususnya. Apakah memang kita sudah siap menghadapi persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean, yang akan berlangsung akhir tahun 2015 ini?, tanya Mangasi diujung presentasinya.

Saat sesi tanya jawab dibuka moderator Danny PH Siagian, SE, MM, para peserta nampak antusias bertanya dan beberapa pemikiran-pemikiran alternatif. Beberapa diantaranya memunculkan gugatan soal attitude orang Batak; pemikiran soal perlunya orang Batak merapatkan barisan untuk saling bahu-membahu; dan perlunya segera meningkatkan profesionalisme di bidang masing-masing. Moderator terpaksa membatasi penanya dan pemberi usul, karena keterbatasan waktu.

Di sesi ke-II, Pembicara Tamu/ Pembanding, DR (HC) Anni Iwasaki, Presiden Pusjuki (Pusat Studi Jepang Untuk Kemajuan Indonesia), mempresentasikan bagaimana Jepang mencapai keberhasilan sebagai negara maju, dan sedang menuju Negara Makmur (Welfare State).

Dikatakan Anni Iwasaki yang pernah sebagai Calon Presiden RI Konvensi Rakyat 2014 ini, Jepang sudah pada posisi ranking 1 sebagai bangsa tersejahtera dan memiliki harapan hidup terlama dunia, sejak tahun 2000-2014 berturut-turut. Ini menurut survei PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa). Sementara Indonesia masih berada di peringkat 117 dunia.

Selain itu, Anni mengatakan, Jepang sejak lama Jepang sudah menjalankan konsep pembangunan ekonomi yang berangkat dari pembangunan karakter bangsa Jepang. Dan ini yang terus menerus ditingkatkan hingga kini.

Sementara disisi lain, Jepang tidak punya Menteri Pariwisata, namun hanya berada di salah satu Direktorat di Kementerian Pertahanan, Infrastruktur, Transpor dan Pariwisata. Kendati demikian, jumlah wisman (wisatawan mancanegara) tahun 2013 yang mencapai 10,3 juta, meningkat menjadi 13 juta pada tahun 2014.

Dikatakan Anni yang pernah mengunjungi 60 kota di 40 negara ini, melonjaknya wisman ke Jepang tak lepas dari kebijakan Perdana Menteri Shinzo Abe, yang menggaungkan bebas visa, menyongsong Olimpiade Musim Panas Tokyo Tahun 2020. Kebijakan ini diiringi target wisman 20 juta per tahun.

Sebab itu, menurut Anni yang pernah 15 tahun koresponden Media Indonesia ini, Indonesia harus berani mematok target income per capita di USD 17.000 dari yang sekarang masih di kisaran USD 3500, serta mampu meningkatkan pembangunan karakter bangsa. Tentu, Pemerintah harus mengarah kepada kebijakan jangka panjang.

Presentasi Anni Iwasaki dengan video visual itu diikuti dengan seksama oleh sekitar 150 orang yang hadir. Banyak yang ingin bertanya, namun kembali terbatas waktu. Acara dilanjutkan dengan pelantikan pengurus baru (hasil restrukturisasi organisasi) oleh Dr. H.P.Panggabean, SH,MS, Ketua Umum KERABAT. Dilanjutkan prosesi tiup lilin oleh Ketua Umum FBBI yang baru, Dr. Ronsen Pasaribu, MM (sebelumnya sebagai Ketua Dewan Pembina), didampingi jajaran pengurus DPP FBBI.

Dalam sambutannya, Ronsen Pasaribu mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada seluruh partisipasi dan perhatian yang diberikan saudara-saudara sesama warga Batak Indonesia.

FBBI mengucapkan terimakasih atas partisipasi dan perhatian yang diberikan berbagai pihak, dari mulai donatur, sumbang pikiran yang hadir dan simpatisan. Untuk itu, mari kita saling bergandengan tangan untuk saling mendukung dan bekerjasama, terhadap peningkatan kualitas SDM Bona Pasogit, serta potensi Bangso Batak dimanapun berada, ungkap Ronsen dalam sambutannya usai pelantikan.

Dalam kesempatan tersebut, Ronsen Pasaribu juga membagikan buku FBBI yang pertama diterbitkan, kepada 15 perwakilan dari masing-masing organisasi Batak dan profesi. Buku tersebut berisikan perjalanan 1 tahun FBBI dan Gagasan Pemikiran dari kalangan anggota FBBI, yang disusun oleh Antoni Antra Pardosi, SH (penulis buku/ wartawan).

Sementara itu, tampilnya musisi senior Batak top Nasional, Dakka Hutagalung (personil Trio Golden Heart) yang populer tahun 70-an. Di usia 69 tahun, Dakka masih mampu melantunkan lagu Batak berirama berat. Suasana makin meriah dengan kehadiran Thomson Napitupulu, musisi Batak top yang selama ini bermukim di Perancis, menggebrak suasana dengan main musik dan bernyanyi. Tak ketinggalan Feber T Manalu (juara di ajang Asia Bagus) dan Obed Hutabarat (juara berbagai ajang lomba nyanyi), melantunkan suaranya dengan merdu.

Perayaan HUT yang diketuai Mutiara Marbun, SH itu berjalan lancar. Para undanganpun baru beringsut pulang, hingga diujung acara. (DANS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!