Polisi Akan Merazia Tempat Kost dsn Kontrakan di Bekasi

BEKASI Redaksi.co.id - Kepolisian Resor Kota Bekasi Kota akan menggelar razia besar-besaran terhadap tempat kost, kontrakan dan tempat tinggal lain menyusul tren meningkatnya kasus kriminalitas di tempat-tempat...

15 0

BEKASI Redaksi.co.id – Kepolisian Resor Kota Bekasi Kota akan menggelar razia besar-besaran terhadap tempat kost, kontrakan dan tempat tinggal lain menyusul tren meningkatnya kasus kriminalitas di tempat-tempat tersebut.

“Kami akan koordinasi dulu dengan Walikota Bekasi,” kata Kapolresta Bekasi Kota, Daniel Bolly Hyronimus Tifaona, Kamis (04/06/2015).

Tindakan kriminal banyak terjadi di tempat kost dan rumah kontrakan. Terakhir adalah kasus pembunuhan terhadap Monica (19), di sebuah rumah kost di Jalan Agus Salim, RT02 RW04, Kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, pada 1 Juni. Pelaku adalah pacarnya sendiri, Arifin (23), yang sering tinggal bersama.

“Keduanya tinggal tanpa ikatan perkawinan,” kata Daniel.

Menurut Daniel, razia di tempat kost maupun rumah kontrakan dapat meminimalisir tindak kejahatan umum atau narkoba. Ia mencontohkan dalam razia rumah kontrakan beberapa waktu lalu di wilayah Pondok Gede, polisi berhasil menangkap tiga pelaku perampokan yang sering beroperasi di wilayah Subang.

“Hasil pengembangan kasus narkoba, kebanyakan pelaku menyimpan ganja di rumah kontrakan”.

Tak hanya itu, beberapa kasus pembunuhan kerap terjadi di rumah kontrakan, seperti kasus Deudeuh Tata Chuby di Jakarta dan seorang tukang urut di Jatisampurna. Pelakunya tak lain adalah pasangannya sendiri. “Indekos atau kontrakan rawan dijadikan tempat kumpul pasangan di luar nikah”.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bekasi, Alexander Zulkarnaen mengatakan pihaknya sering melakukan razia di tempat tinggal, seperti indekos, dan rumah kontrakan. Bahkan, beberapa waktu lalu pihaknya menjaring lima warga negara asing di apartemen.

“Dari lima WNA, satu tak melengkapi dokumen Imigrasi,” ujarnya.

Ia mengakui rumah tinggal seperti kontrakan, indekost, maupun apartemen sering luput dari pantauan. Sebab, tempat tinggal seperti itu dijadikan warga pendatang sebagai tempat tinggal sementara.

“Penghuninya sering ganti-ganti,” katanya. (Agus)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!