Pemkab Pati Siap Dukung Swasembada Kedelai

196

PATI Redaksi.co.id – Pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, siap mendukung dan mewujudkan program swasembada kedelai yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dengan melakukan perluasan areal tanam komoditas tersebut.

“Kabupaten Pati telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian sebagai salah satu daerah yang ditargetkan bisa melakukan perluasan lahan tanaman kedelai,” kata Bupati Pati Haryanto, Senin (08/06/2015).

Tanpa ada perluasan areal tanam, kata dia, sulit mewujudkan target swasembada kedelai, mengingat banyak petani yang lebih memilih menanam padi atau komoditas lainnya yang dinilai lebih menguntungkan.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pati Mochtar Efendi mengatakan untuk mengejar pemenuhan kebutuhan kedelai nasional yang mencapai dua juta ton memang dibutuhkan upaya perluasan areal tanam hingga 350.000 hektare se-Indonesia.

Kabupaten Pati sebagai salah satu penghasil kedelai ditargetkan bisa memproduksi kedelai hingga 3.988 ton pada 2015.

“Terlebih lagi, Pati masuk 10 besar nasional sebagai daerah yang ditargetkan bisa melakukan perluasan areal tanaman kedelai,” ujarnya.

Daerah lainnya yang juga ditargetkan melakukan perluasan areal tanaman kedelai, yakni Kabupaten Grobogan, Sragen, Pati, dan Banyumas.

Ketua Gapoktan Rawamakmur Desa Tanjang, Kecamatan Gabus, Pati Sunoto mengatakan pada 2015 menerima kegiatan perluasan areal tanam (PAT) kedelai seluas 50 hektare yang terbagi atas Kelompok Tani Makmur seluas 20 hektare dan Kelompok Tani Makmur II 30 hektare.

Selain itu, kata dia, ada relokasi kedelai dari Kecamatan Jakenan seluas 20 hektare yang akan ditanam oleh Kelompok Tani Nambangan II.

Gapoktan Rawamakmur Desa Tanjang, kata Sunoto, terdiri atas empat kelompok tani, yakni Makmur, Makmur II, Nambangan, dan Nambangan II.

Untuk mendukung hasil panen kedelai, dia berharap, pemkab memberikan bantuan alat untuk memperlancar saluran irigasi dan mesin panen khusus kedelai.

Aset Gapoktan yakni satu pompa besar, tiga pompa kecil, dua traktor, pengairan paralon yang mengairi 30 hektare lahan milik desa.

“Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di tempat kami juga sudah berkembang menjadi Rp140 juta per Mei 2015,” ujarnya.

Untuk pola tanam yang sebelumnya digunakan oleh Gapoktan, yakni pola tanam padi-padi palawija. Pada MT II, kata dia, palawija yang ditanam petani biasanya kacang hijau, sedangkan untuk MT III pada 2015 direncanakan untuk menanam kedelai.

loading...

Comments

comments!