Kematangan Luhut, Menepis Keraguan DPR, Soal Kenaikan Anggaran Staf Kepresidenan

355

JAKARTA Redaksi.co.id
Saat Komisi II DPR mengadakan Rapat Kerja dengan Menteri Agraria/ Kepala BPN, Ferry Mursidan Baldan dan Kepala Staf Kepresidenan, Luhut Binsar Panjaitan, terlihat Luhut relaks menjawab pertanyaan para anggota.

Dalam rapat kerja tersebut, Luhut menjelaskan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA K/L) dan Rencana Kerja Pemerintah Kementerian Negara/Lembaga (RKP K/L). Dia menyebut pihaknya ingin anggaran untuk tahun 2016 ditambah.

Dikatakan Luhut, untuk tahun ini sudah ada alokasi anggaran Rp 100 miliar yang sudah diusulkan. Namun, anggaran itu belum cair tapi kerja tetap jalan.

“Tahun ini alokasi anggaran Rp 100 miliar. Tapi itu belum cair. Sedangkan untuk 2016, permohonan dukungan anggaran kepala staf masih dalam proses di Kemenkeu. Untuk 2016, anggaran yang diusulkan Rp 159 miliar. Tapi, usulan tersebut belum tertampung dalam pagu indikatif tahun 2016,” kata Luhut di ruang Komisi II, Gedung K2, komplek parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (04/06/2015).

Luhut juga menjelaskan keberadaan Kepala Staf Kepresidenan dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden 26 Tahun 2015. Perpres ini ditetapkan 23 Februari 2015.

Menurutnya, kantor staf kepresidenan merupakan lembaga struktural yang berada dan memiliki tanggung jawab langsung kepada Presiden.

Dijelaskan Luhut, perannya terkait pengendalian program prioritas, komunikasi politik, dan pengelolaan isu strategis.

“Untuk menjalankan tugasnya, kepala staf itu dibantu 5 deputi, staf deputi dan sekretariat,” sebutnya.

Setelah Luhut memberikan paparan, anggota Komisi II dari Fraksi PAN, Yandri Susanto menyindir dengan pertanyaan soal kinerja Staf Kepresidenan yang belum memiliki anggaran.

“Dalam kesempatan ini, kami ingin konfirmasi. Selama bekerja, anggarannya dari mana? Diusulkan Rp 100 miliar, belum dicairkan tapi bisa bekerja,” tanya Yandri.

Selain itu, Yandri juga mengkritik anggaran tahun 2016 yang dinilainya cukup besar. Sementara, jumlah tim kerja yang masuk kategori kecil. Apalagi dari kinerja, dianggap belum ada prestasi kejutan yang dilakukan staf kepresidenan.

“Kejutan kerja apa dari kepala staf kepresidenan? Kalau dari sisi tugas, nggak banyak hal teknis, nggak banyak satuan kerja, sepertinya bisa ditekan. Tapi kalau sesuai kebutuhan, ya nggak akan keberatan,” sebutnya.

Saat sesi tanggapan, Luhut tampak elegan dan diplomatis menjawabnya. Menurutnya, anggaran ini masih belum cair, namun pihaknya bisa bekerja.

“Dari selama sekitar dua bulan ini, kita kerja dengan apa adanya. Juli ini mungkin anggaran kami sudah cair. Tapi kita tetap bekerja dengan penuh kesungguhan, mendukung program Bapak Presiden Jokowi. Soal angka Rp 100 miliar kita sudah ada rinciannya. Nanti akan kami jabarkan selanjutnya,” bebernya.

Sedangkan menjawab apa dasar kenaikan dari Rp. 100 miliar menjadi Rp. 159 miliar tahun 2016, lagi-lagi Luhut dengan diplomatis, dan relaks menjawabnya.

“Untuk cakupan pekerjaan Staf Kepresidenan, anggaran Rp 156 miliar itu sebenarnya tidak besar. Tapi percayalah Bapak-Ibu para anggota DPR yang kami hormati. Saya itu sudah berumur. Saya juga sudah pernah jadi Menteri Perdagangan. Saya juga dilahirkan di TNI. Integritas saya harus saya jaga. Tidak mungkin kita pergunakan untuk yang tidak efektif,” jawabnya diplomatis, membuat para anggota DPR senyum-senyum.

Ketika Luhut keluar ruangan menuju toilet, para wartawan menyerbu dengan berbagai pertanyaan. Sebagaimana biasa, Luhut dengan santai dan senyum menjawab semua pertanyaan hingga ia masuk kembali ke ruangan. (DANS)

loading...

Comments

comments!