Ratusan Perusahaan di Bekasi Masih Pakai Air Tanah

BEKASI Redaksi.co.id Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bekasi mencatat sedikitnya ada 500 perusahaan di Kota Bekasi yang masih menggunakan air tanah. Padahal idealnya, setiap perusahaan...

40 0

BEKASI Redaksi.co.id Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bekasi mencatat sedikitnya ada 500 perusahaan di Kota Bekasi yang masih menggunakan air tanah. Padahal idealnya, setiap perusahaan harus menggunakan air pipa, agar air tanah tetap bisa terjaga jumlahnya.

Tidak hanya itu, penggunaan air tanah secara berlebih bisa menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah.

“Walau masih menggunakan air tanah, tapi ratusan perusahaan itu telah memiliki izin dan selalu membayar pajak penggunaan air sesuai ketentuan peraturan daerah,” kata Kepala BPLH Kota Bekasi, Dadang Hidayat, Senin (15/06/2015).

Dadang mengatakan, ratusan perusahaan itu tersebar di seluruh wilayah Kota Bekasi. Namun kebanyakan berada di daerah Kecamatan Bantargebang, Medansatria dan Bekasi Barat.

Mereka masih menggunakan air tanah karena di wilayah tersebut belum terpasang pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Selain wajib membayar pajak, perusahaan tersebut harus membuat sumur resapan sebagai cadangan pengganti kandungan air. Mengenai kedalaman sumur tersebut, kata Dadang, minimal 18 meter dengan diameter permukannya mencapai dua-tiga meter.

“Dengan adanya sumur resapan itu, setidaknya bisa menjaga volume air yang mereka gunakan setiap hari,” ujar Dadang.

Dadang memastikan, penggunaan air yang dilakukan oleh ratusan perusahaan itu tak akan berdampak buruk terhadap permukaan tanah di Kota Bekasi. Sebab ia telah memberi peraturan ihwal pembatasan memakai air.

“Setiap perusahaan kami batasi penggunaan air dengan memasang alat pengukur berupa meteran,” kata Dadang.

Saat ditanya seberapa besar batasan penggunaan air itu, Dadang mengaku tidak mengingatnya karena tiap perusahaan penggunaan airnya cenderung berbeda.

Namun dia menyatakan, besarannya telah dihitung sesuai kondisi air tanah di setiap perusahaan, sehingga tidak akan berdampak buruk terhadap lingkungan.

“Di sisi lain, kami juga mengupayakan membuat lubang biopori sebagai wadah persediaan air,” jelas Dadang.

Menurut Dadang, pada tahun 2014 pihaknya telah mengadakan sekitar 2.000 alat bor manual untuk pembuatan lubang biopori. Bahkan, kata dia, jumlah tersebut masih kurang karena antusiasme warga untuk membuat lubang tersebut cukup tinggi.

“Tahun ini kami akan mengadakan 2.000 alat bor manual lagi dari bantuan swasta dan APBD,” katanya.

Dadang menyatakan, pihaknya tidak melarang perusahaan baru yang akan menggunakan air tanah. Asalkan, kandungan air dan kedalaman air di dalam tanah masih dalam batas kewajaran.

“Kalau di peta BPLH wilayah perusahaan itu berwarna hijau (posisi air berada di bawah 100 meter), maka kami perbolehkan. Tapi kalau wilayahnya berwarna merah (posisi air berada di atas 300 meter), tidak di perbolehkan,” jelasnya.

Dadang pun mengklaim, selama ini belum ada insiden pergeseran tanah atau penurunan tanah akibat pemakaian air tanah secara berlebih. Pergeseran tanah, kata Dadang, akan memicu keretakan dinding di tiap bangunan yang ada di atasnya.

“Tapi selama ini kami belum dapat laporan terkait hal itu. Yah mudah-mudahan saja tidak ada,” ucapnya.

Kepala Bagian Humas PDAM Tirta Bhagasasi, Endang Purnaen mengakui, bahwa sambungan pipa air belum sampai ke wilayah Bantargebang. Akan tetapi, untuk wilayah Medansatria dan Bekasi Barat telah terpasang sejak dulu. Endang mengatakan, instansinya tengah memasang instalasi pipa dari daerah Rawa Panjang hingga menuju Bantargebang. Pemasangan itu, melewati Jalan Raya Narogong sejauh tujuh kilometer.

“Sudah sepekan ini kami mulai memasang pipa, sambil memasang kami juga menunggu permintaan pelanggan di sana. Karena sampai saat ini belum ada permintaan yang masuk,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya akan tetap memasang jaringan pipa air di sana untuk kebutuhan warga. Dia pun menargetkan, pada 2016 warga bisa menikmati air pipa yang disalurkan instansinya.

Berdasarkan catatannya, jumlah pelanggan Tirta Bhagasasi di wilayah Kota Bekasi mencapai 90.000 pelanggan. Seluruhnya terbagi di tujuh kecamatan dari sembilan kecamatan yang ada.
Adapun kecamatan yang sudah [Berdasarkan catatannya, jumlah pelanggan Tirta Bhagasasi di wilayah Kota Bekasi mencapai 90.000 pelanggan.
Seluruhnya terbagi di tujuh kecamatan dari sembilan kecamatan yang ada. Adapun kecamatan yang sudah dipasok air pipa di wilayahnya, yakni Bekasi Timur, Bekasi Utara, Bekasi Barat, Bekasi Selatan, Rawalumbu, Medansatria dan Pondokgede. (Agus)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!