IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia; Anni Iwasaki: Ini Pukulan Berat Bagi Pemerintahan Jokowi-JK

JAKARTA Redaksi.co.id –Setelah Bank Dunia, kini giliran Dana Moneter Internasional ( International MenetaryFund/ IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia sepanjang 2015 dari semula 5,2% menjadi 4,7%....

49 0

JAKARTA Redaksi.co.idSetelah Bank Dunia, kini giliran Dana Moneter Internasional ( International MenetaryFund/ IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia sepanjang 2015 dari semula 5,2% menjadi 4,7%. Bahkan kian jauh dari target pemerintah sebesar 5,7%.

Deputi Direktur Pelaksana IMF, Mitsuhiro Furusawa mengatakan revisi tersebut dipicu oleh melemahnya ekspor-impor.

Revisi ini berdasarkan asesmen awal tim ekonomi IMF. Selain turunnya harga komoditas, dan ekspor juga tidak terlalu kuat, katanya, Selasa (16/06/2015).

Bahkan sebelumnya, revisi itu persis dengan proyeksi termutakhir dari Bank Dunia (World Bank). Pekan lalu, lembaga tersebut juga merilis laporan yang memangkas pertumbuhan global, sekaligus merevisi turun proyeksi pertumbuhan Indonesia menjadi 4,7%. Dan memang, selama kuartal I/2015, BPS mencatat perekonomian domestik hanya bertumbuh 4,7%.

Menanggapi kondisi tersebut, DR (HC) Anni Iwasaki, Presiden PUSJUKI (Pusat Studi Jepang Untuk Kemajuan Indonesia) mengatakan, hal ini merupakan pukulan berat bagi Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK).

Tentu kita sangat prihatin. Saya pikir, kondisi ini merupakan pukulan berat bagi Pemerintahan Jokowi-JK,” ungkap Anni ketika dihubungi, Rabu (17/06/2015) malam di Jakarta.

Menurut Anni, hal ini juga disebabkan sangat minimnya daya serap anggaran dari APBN-P 2015, yang diharapkan mampu mendongkrak sirkulasi perekonomian.

Ya, tentu hal ini juga disebabkan masih minimnya daya serap anggaran dari APBN-P 2015, yang seharusnya bisa mendongkrak sirkulasi perekonomian. Terutama dalam hal belanja modal,” tandasnya.

Bahkan Calon Presiden versi Konvensi Rakyat 2014 ini juga menyayangkan belum adanya investor asing yang signifikan masuk ke Indonesia. Padahal, itu menjadi salah satu harapan di KAA (Konferensi Asia Afrika) yang lalu.

“Sangat disayangkan. Investor juga belum ada yang signifikan masuk ke Indonesia. Apa tindak lanjut dari KAA yang lalu? Jika Cina dan Jepang merespons, tentu sudah ada tanda-tanda pergerakannya pasca KAA,” ungkap mantan korespondens Harian Media Indonesia di Jepang selama 15 tahun ini.

Sebab itu, Anni yang sudah pernah berkelana ke 60 kota dari 40-an Negara ini berharap, agar Pemerintahan Jokowi-JK segera melakukan evaluasi bidang perekonomian dan pembangunan.

“Termasuk bila perlu mereposisi pola hubungan bilateral dengan Negara-negara yang diharapkan mendukung investasi di berbagai bidang. Terutama mengevaluasi perencanaan sebelumnya secara matang dan jelas. Dengan demikian investasi akan diharapkan lancar, akuisisi lahan juga bisa cepat dan bisnis serta perekonomian akan lancar,” bebernya.

Dalam pandangannya, tidak tertutup kemungkinan, adanya imbas kritik pidato Jokowi pada KAA yang lalu, terhadap tindak-lanjut realisasi rencana investasi dari Negara-negara yang tadinya diharapkan.

“Sebab itu, perlu melakukan dialog lanjutan sesegera mungkin. Supaya kita mengetahui bagaimana faktor-faktor yangmempengaruhi, terhadap harapan investasi kedepan,” imbuhnya.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), secara kumulatif sepanjang awal tahun hingga Mei 2015 nilai ekspor Indonesia melemah 11,84% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Dalam lima bulan pertama tahun ini, ekspor hanya mencapai US$64,72 miliar.

Sebelumnya, dalam sebuah jumpa pers yang mengiringi laporan Regional Economic Outlook, Wakil Direktur Departemen Asia Pasifik IMF Kalpana Kochhar mengisyaratkan pemangkasan. Dia menilai, kontraksi pertumbuhan yang lebih tajam dibandingkan perkiraan semula memicu keraguan perekonomian Indonesia mampu mencapai estimasi awal, yakni 5,2%.

Namun, Furusawa menuturkan ada potensi perbaikan laju pertumbuhan pada paruh kedua 2015 meski takkan signifikan mengungkit pertumbuhan.

Pada semester kedua, kami memandang ada peningkatan tetapi moderat. Hal ini sangat ditentukan oleh kemampuan mengeksekusi belanja modal, terutama di sektor infrastruktur, katanya.

Diketahui, performa penyerapan anggaran pemerintah cenderung rendah. Hingga tengah Mei 2015 total realisasi belanja negara baru mencapai Rp540,5 triliun setara dengan 27,2% terhadap pagu APBN Perubahan 2015.

Menanggapi hal itu, Furusawa mengatakan kapasitas penyerapan anggaran dapat dimaksimalkan melalui berbagai strategi a.l. penyederhanaan proses investasi, percepatan akuisisi lahan, dan perbaikan iklim bisnis, serta perencanaan yang matang dan jelas. Dia menggarisbawahi investasi dan keterlibatan swasta menjadi aspek penting untuk mengurangi ketergantungan pemerintah terhadap utang.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan IMF untuk Indonesia Benedict Bingham memperingatkan, Pemerintah juga harus berhati-hati dalam upayanya mendorong penerimaan pajak.

Kebijakan harus dikomunikasikan dengan baik untuk mengurangi ketidakpastian. Jangan sampai mengganggu iklim bisnis, katanya.

Menurutnya, serangkaian kebijakan baru bidang perpajakan baru akan berdampak signifikan pada penerimaan dalam jangka waktu menengah. (DANS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!