70 Tahun Indonesia Merdeka, Rakyat Masih Jauh dari Sejahtera

JAKARTA Redaksi.co.id –Seiring 70 Tahun Indonesia Merdeka, Redaksi.co.id secara khusus mewawancarai DR (HC) Anni Iwasaki, untuk menggali pemikiran-pemikirannya. Anni Iwasaki, adalah Calon Presiden RI versi Konvensi Rakyat...

15 0

JAKARTA Redaksi.co.id –Seiring 70 Tahun Indonesia Merdeka, Redaksi.co.id secara khusus mewawancarai DR (HC) Anni Iwasaki, untuk menggali pemikiran-pemikirannya. Anni Iwasaki, adalah Calon Presiden RI versi Konvensi Rakyat 2014, yang turut meramaikan bursa pen-Capres-an tahun 2014 lalu. Bersama 6 tokoh lainnya yakni: Isran Noor (Bupati Kutai Timur); Ricky Sutanto (Pengusaha); DR. Rizal Ramli (Menteri Perekonomian era Pemerintahan Abdurrahman Wahid); Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (Ketua Dewan Syuro PBB); Prof. Dr. Sofjan Siregar (Rektor Universitas Islam Eropa); dan Tony Ardi (Aktivis senior), mereka mengadakan Debat Publik ke berbagai kota, untuk menyampaikan gagasan-gagasannya.

Anni Iwasaki yang lama bermukim di Jepang (suaminya Yasuhiro Iwasaki dan punya 3 orang anak), pernah menjadi anggota Foreign Press Centre (FPC) Jepang di Tokyo (dibawah Kemenlu Jepang) dari tahun 1990-2005 (FPC terbesar ke-2 di dunia setelah FPC PBB di New York). Anni juga pernah sebagai Koresponden Harian Nasional Media Indonesia di Jepang, Tokyo (1991-2005) dan Majalah Wanita Pertiwi. Pernah meliput pameran/konferensi tingkat International di Tokyo, antara lain: KTT G-7, 1993. Pre KTT G-7 Okinawa di Tokyo Juli 2000. Juga sebagai Panelis di berbagai forum Internasional untuk wanita dan forum anak, saat di Jepang. Sebagai istri dan seorang Ibu, Anni pernah mengadakan perjalanan tak kurang dari 60-an kota di 40 negara di benua Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.

Pada tahun 2002, kiprahnya dimulai di Indonesia, dengan mendirikan Anni Iwasaki Foundation. Dan tahun 2003, mendirikan Pusat Studi Jepang Untuk Kemajuan Indonesia (PUSJUKI) dan menjadi Presidennya. Melalui Pusjuki, Anni kerap menjadi narasumber dalam berbagai seminar atau Diskusi Publik di tanah air. Tulisan ini dihimpun dari beberapa kali pertemuan sejak Mei 2015, dengan mengangkat tema: 70 Tahun Indonesia Merdeka, Menuju Lompatan Income Per Capita 17.000 Dolar AS. Disajikan secara berseri dari tanggal 13 Juli 2015 sampai jelang 17 Agustus 2015, namun dengan topik lepas.

Tanggal 17 Agustus 2015 nanti, Indonesia menginjak usia 70 tahun. Untuk ukuran usia, 70 tahun mestinya sebuah Negara sudah kuat dan kokoh. Bahkan umumnya sudah dapat dikategorikan sebagai Negara yang mapan.

Tapi yang menjadi pertanyaan mendasar, apakah diusia tersebut, Negara Indonesia sudah berani membusungkan dada, dengan mengatakan: Rakyatku sudah sejahtera?. Cilakanya, belakangan ini perekonomian Indonesia malah cenderung melambat, dengan tingkat pertumbuhan 4,7% (dari 5,2% pada tahun 2015), di semester I bulan Juni tahun 2015.

Menurut Presiden Jokowi dalam suatu kesempatan di Istana Negara, perlambatan ekonomi Indonesia akibat pengaruh merosotnya perekonomian dunia. Para pakar ekonomi juga sebelumnya mengatakan demikian. Tapi sejauh mana pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia, dengan faktor-faktor ekonomi lainnya, seperti: melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dollar US (United State) maupun indeks harga rata-rata kebutuhan pokok masyarakat?

Anni Iwasaki mengatakan, Indonesia sekarang dalam keadaan darurat ekonomi.

Indonesia sekarang sedang darurat ekonomi. Perekonomian tidak tumbuh, harga-harga kebutuhan pokok masyarakat sangat tinggi, daya beli masyarakat melemah, nilai rupiah terhadap dolar US juga makin melemah, kata Anni dalam sebuah perbincangan dengan Redaksi.co.id di bilangan Sudirman Park, Jakarta Pusat.

Anni juga menilai, hasil pertemuan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung beberapa waktu lalu, belum berdampak apa-apa bagi perekonomian Indonesia.

Saya melihat, dampak dari pertemuan KAA yang lalu belum ada tanda-tanda kelanjutan kerjasama dengan pihak Jepang maupun China. Jadi, bagaimana mungkin kita bisa berharap ada dukungan pertumbuhan ekonomi, dari segi investasi?, tandasnya.

Ditanya bagaimana penilaiannya terhadap kesejahteraan rakyat setelah 70 tahun Indonesia Merdeka, Anni mengatakan, Indonesia masih harus terus berjuang.

Menurut saya, Indonesia masih harus terus berjuang! Saya kira masih jauh dari ukuran sejahtera. Apalagi jika kita lihat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari Negara-negara di Asia tahun 2014, kita masih jauh dibawah Jepang, China, Korea. Juga di Asean, masih dibawah Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand, tegasnya, awal Juli lalu.

Dikatakan Anni, ada pandangan yang salah selama ini, dalam hal pembangunan yang selalu berorientasi kepada pembangunan infrastruktur yang bersifat fisik.

Tanpa harus menyalahkan siapa-siapa, sejak Orde Lama, Orde Baru hingga Orde Reformasi sekarang ini, saya kira ada pandangan yang salah selama ini dalam menjabarkan pembangunan, yang selalu berorientasi kepada pembangunan infrastruktur yang bersifat fisik. Padahal menurut faham Negara-negara maju, pembangunan manusianyalah yang menjadi orientasi. Menjadi prioritas. Dengan demikian, maka nantinya akan bisa menciptakan nilai tambah terhadap perekonomian dan pembangunan fisik itu sendiri, paparnya.

Dicontohkan, saat Hirosima dan Nagasaki juga dulu hancur lebur dibom Negara-negara Sekutu tahun 1942, Jepang memulainya dari nol. Namun Jepang memulainya dengan orientasi pembangunan manusianya.

Sehingga, secara akumulatif dan makro, pembangunan manusia menghasilkan inovasi dan kreatifitas yang bernilai tambah terhadap aspek pembangunan Negara dari berbagai sisi, imbuhnya.

Anni mengatakan, kendati dari tahun ke tahun Indonesia mencatat peningkatan, namun dari beberapa faktor IPM, masih banyak yang harus ditingkatkan.

Secara statistik dari tahun ke tahun, memang Indonesia mengalami peningkatan. Tapi kenyataannya, masih banyak yang harus dikejar ketertinggalan di berbagai standar ukuran IPM, pungkasnya.

Sejauh mana ketertinggalan Indonesia dibanding dengan Negara-negara Asia maupun Negara maju? Dan apa saja komentar Anni Iwasaki sebagai warganegara yang lama berinteraksi dengan kehidupan di Negara maju seperti Jepang?. Ikuti selanjutnya. (DANS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!