Memprihatinkan, 70 Tahun Merdeka, Income per Capita Masih Rendah

Wawancara dengan DR (HC) Anni Iwasaki Menyongsong 70 Tahun Indonesia Merdeka (2)Tulisan ini merupakan rangkaian dari wawancara khusus tentang pendapat, analisa dan pandangan DR (HC) Anni Iwasaki,...

44 0

Wawancara dengan DR (HC) Anni Iwasaki Menyongsong 70 Tahun Indonesia Merdeka (2)

Tulisan ini merupakan rangkaian dari wawancara khusus tentang pendapat, analisa dan pandangan DR (HC) Anni Iwasaki, Calon Presiden RI 2014 versi Konvensi Rakyat, yang juga sebagai Presiden Pusat Studi Jepang Untuk Kemajuan Indonesia (Pusjuki), dengan tema 70 Tahun Indonesia Merdeka, Menuju Lompatan Income Per Capita 17.000 Dolar AS.

JAKARTA Redaksi.co.id – Jika 70 tahun lalu Indonesia masih tergolong negara miskin dari segi tingkat Income Per Capita (IPC) atau Pendapatan Per Modal (Orang)/ tahun, mengapa sekarang masih tetap saja masih jauh di bawah Singapura?

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis, 5 Februari 2015, dikatakan bahwa, pendapatan per kapita masyarakat Indonesia sebesar Rp 41,81 juta sepanjang 2014. Besaran ini dihitung setara dengan US$ 3.531,45.

Menanggapi hal ini, Anni Iwasaki mengatakan, income per capita ini masih jauh dibandingkan negara maju di Asean, apalagi di tingkat Asia.

Dengan income per capita 3.500-an dolar AS per tahun, jelas masih jauh dari Singapura 35.000-an dolar AS. Apalagi jika dibandingkan dengan Negara Jepang, yang sudah berada di level 34.000 dolar AS. Padahal tadi, Indonesia sudah mau 70 tahun merdeka lho, kata Anni dalam wawancara dengan Redaksi.co.id, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa, kendati perekonomian Indonesia selama ini bertumbuh, namun pertumbuhan itu tidak serta merta membuat masyarakat sejahtera.

Kita memang harus mengakui, bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia itu setiap tahun, bahkan setiap dekade, memang ada. Tapi, pertumbuhan itu tetap saja tidak mampu menjawab tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia yang seharusnya. Mayoritas masyarakat Indonesia, ekonomi keluarganya masih berat, tandasnya.

Dikatakan Anni, salah satu faktor penyebab income per capita yang masih lambat adalah, laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, dan tingkat produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih rendah.

Menurut saya, salah satu faktor penyebab income per capita yang masih lambat adalah laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Sementara, tingkat produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih rendah, tidak bisa memberi supporting terhadap laju pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih signifikan, paparnya.

Sebab itu, wanita yang pernah menjelajah tak kurang dari 60-an kota di 40 negara di benua Asia, Afrika, Eropa dan Amerika ini mengatakan, pengelolaan puluhan juta keluarga muda, sangat menentukan kualitas SDM dimasa datang.

Pemerintah harusnya sanggup mengelola puluhan juta keluarga muda Indonesia, yang akan menentukan kualitas SDM dimasa datang. Tentu, para keluarga muda harus difasilitasi Pemerintah untuk bisa segera mandiri, sehingga kreativitas dan produktivtas mereka akan memberi impact yang akan turut mendongkrak peningkatan income per capita di masa datang, tandasnya.

Tentu, menurut Anni, masih ada beberapa faktor penting yang akan mengangkat income per capita. Persoalannya, apakah Indonesia siap dengan political will-nya menuju langkah strategis.

Berdasarkan penelusuran, dari 252 juta penduduk Indonesia, saat ini lebih dari 28 juta hidup di bawah garis kemiskinan dan sekitar separuh dari seluruh rumah tangga tetap berada di sekitar garis kemiskinan nasional yang ditetapkan pada Rp 292.951 per bulan (sekitar U$ 24.4).

Pertumbuhan lapangan kerja lebih lambat dibandingkan pertumbuhan penduduk. Layanan publik tetap kurang layak berdasarkan standar negara berpendapatan menengah. Indonesia pun mencatat prestasi kurang baik berdasarkan indikator kesehatan dan infrastruktur, dan akibatnya, kemungkinan gagal mencapai sejumlah target Tujuan Pembangunan Milenium (MDG).

Sedangkan soal nilai tukar Rupiah, Anni berkisah, ketika dirinya menikah tahun 1974, nilai 1 dolar AS, masih sama dengan Rp. 350,-.

Waktu saya menikah tahun 1974, dan akan berangkat ke Jepang, saya masih ingat waktu itu, nilai 1 dolar AS masih sama dengan Rp. 350,- Sedangkan 1 dolar AS sama dengan Yen 250. Dan Yen 1 sama dengan Rp. 1,3, kenangnya.

Berarti, kata Anni, dari tahun ke tahun, bahkan dekade ke dekade, nilai tukar rupiah tak mampu mengejar laju nilai tukar dolar AS.

Di zaman Orde Baru awal tahun 90-an, 1 dolar AS masih masih sama dengan sekitar Rp. 1.800-an. Namun ketika Soeharto jatuh tahun 1998, 1 dolar sempat menyentuh Rp. 17.000. Sedangkan di awal Reformasi, 1 dolar diasumsikan di kisaran Rp. 8.800. Nah mengapa sekarang ini tahun 2015, rupiah melemah lagi di kisaran Rp. 13.500-an per dolar AS? Disini dapat kita lihat, bahwa perekonomian Nasional yang seharusnya mengandalkan perekonomian rakyat, tidak dibangun secara kuat. Bahkan sangat sensitif terhadap gejolak perekonomian dunia, bebernya.

Anni yang juga pernah 15 tahun sebagai Koresponden Harian Nasional Media Indonesia di Tokyo Jepang dan Majalah Wanita Pertiwi ini berharap, rakyat Indonesia harus bangkit membangun perekonomian rakyat, berdasarkan Pancasila.

Menurut saya, Indonesia harus bangkit untuk membangun perekonomian rakyat. Dengan lebih memprioritaskan pembangunan ekonomi rakyat berdasarkan Pancasila, maka perekonomian Indonesia akan mampu mengurangi ketergantungan lalu-lintas perdagangan terhadap luar negeri. Perekonomian Indonesia harus bisa mandiri, yakinnya.

Sedangkan menjelang 70 tahun merdeka, Anni Iwasaki berpandangan, Indonesia sudah harus masuk di stage III standar Income Per Capita sebesar 17.000 dolar AS, sesuai ukuran Hak Azasi manusia Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB),

Namun, bagaimana dapat memahami lompatan signfikan seperti itu? Ikuti hasil wawancara beliau berikutnya. (DANS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!