CATATAN MUKTAMAR NU – (1); Kebangkitan Ulama dan Tantangan Zaman

417

Oleh: Saiful Bahri

APA yang perlu dicatat dalam Muktamar NU kali ini? Kita akan langsung bertanya pada jantung persoalan, apakah sekarang ulama NU lebih bangkit daripada ulama NU pada zaman dulu (1926)? Apakah NU sudah bergeser, sehingga timbul kembali semboyan Kembali ke Khiththah 1926? Kalau ulama NU sudah bangkit, apakah umat Nadhiyin juga akan ikut bangkit? Dan yang terakhir, kalau Muktamar NU kali ini mengusung tema Islam Nusantara, apakah sebelumnya NU belum berpikir sebagai kaum Muslimin Nusantara?

Menurut pengamatan saya, seorang ulama lahir pada zamannya. Pada zamannya, peran Hadhratusy Syaikh Hasyim Asyari tidaklah akan sesuai diperankan Gus Dur pada zaman sekarang. Begitu pula ketika Prof Dr Aqil Siraj tampil tidaklah tepat memerankan Hadhratusy Syaikh. Jadi semua ulama berperan pada zamannya, sekaligus mengambil peran juga pada zamannya sesuai dengan tantangan zamannya.

Karena itu kebangkitan mereka juga sesuai dengan tantangan zaman pada waktunya. Apakah sekarang lebih bangkit? Jawabannya, relative. Tergantung pada persoalan yang diajukan. Katakan kalau dulu banyak ulama mumpuni, sekarang pun sebetulnya juga banyak ulama mumpuni. Persoalannya, ulama dahulu sudah mengambil peran pelopor, sehingga ulama sekarang tinggal melanjutkan, memelihara, dan mengisi yang yang belum ada.

Dengan bangkitnya ulama, apakah umat juga ikut bangkit? Inilah yang harus diperhatikan. Sebab keperluan ulama tidaklah sama dengan keperluan umat. Keperluan ulaman NU dalam Muktamar ini lebih banyak kepada kepesantrenan dan bathtsul masail. Keperluan umat lebih banyak beragam, seperti perbaikan ekonomi, pendidikan (tidak hanya pesantren, tetapi juga pendidikan umum), rumah sakit, pemeliharaan yatim piatu dan orang miskin, kemakmuran masjid, serta dakwah yang mengena di hati masyarakat, sehinga bisa mengajak mereka kepada kehidupan islami yang kaffah (social, ekonomi, politik, dan kebudayaan).

Berbagai persoalan itu, sekarang tidak bisa dihandel sendiri oleh ulama agama, tetapi perlu ulama ekonomi, ulama politik, ulama social, dan ulama kebudayaan. Pada tataran inilah kurangnya stok ulama berbagai bidang ini di dalam organisasi NU. Muktamar sering kali terfokus kepada persoalan siapa yang akan menjadi pengurus, tetapi tidak bagaimana mengoptimalkan cara mencapai program.

Jadi kalau kali ini Muktamar NU kali mengambil tema Islam Nusantara. Kelihatan bahwa peserta hanya terbuai dengan tema yang abstrak (ideal), tetapi tidak pada sesuatu yang kongkret (praktis), sebagaimana kita harapkan. Sebagai contoh, bagaimana melahirkan ulama ekonomi, yang mampu memberdayakan kaum Nahdhiyyin dalam bidang pertanian, perdagangan, maupun pemasaran.

Contoh lain, bagaimana melahirkan ulama kesehatan, sehingga mampu memberdayakan umat menyediakan fasilitas kesehatan hingga sampai ke desa-desa. Tentu saja bekerjasama dengan pemerintah dalam program yang sama. Dan kalau perlu kerjasama dengan LSM luar negeri sebagai pemberi donor dan fasilitas teknisnya.

Mungkin NU harus mulai dengan statistik, berapa sekolah Maarif yang telah didirikan? Berapa rumah sakit yang telah dibangun? Berapa koperasi maupun usaha pertanian yang telah diupayakan? Dari situ kemudian membuat pemetaan, berapa yang kurang, berapa yang mendesak untuk diupayakan, apakah rumah sakit atau klinik, koperasi pemasaran, ataupun sekolah yang sedang trend diminati masyarakat sekarang? Atau semuanya sekaligus dengan melihat kemampuan tenaga, financial, dan fasilitas yang ada?

Tesisnya sederhana saja, umat yang kuat akan melahirkan Islam yang kuat. Dan yang khas NU, semuanya itu di bawah kepemimpinan ulama. Bisakah?

loading...

Comments

comments!