CATATAN MUKTAMAR NU – (2); Soal Pemilihan Ketua Umum PBNU Melalui AHWA

Oleh: Saiful BahriDihadirkannya kembali sistem pemilihan Ketua Umum PBNU oleh Ahlu Halli wal Aqdi (AHWA) membuat peserta Muktamarin ke-33 NU menjadi pro dan kontra. Ada yang menganggap...

32 0

Oleh: Saiful Bahri

Dihadirkannya kembali sistem pemilihan Ketua Umum PBNU oleh Ahlu Halli wal Aqdi (AHWA) membuat peserta Muktamarin ke-33 NU menjadi pro dan kontra. Ada yang menganggap tidak demokratis, tetapi ada juga yang menerima karena untuk menghormati para kiai.

Memang AHWA bukan sistem pemilihan yang asing bagi kaum Nahdhiyin. Namun sistem ini dipilih karena ada asbabul wurudnya. Sebagaimana terjadi pada Muktamar ke-27 di Situbondo, konon dipilih sistem ini untuk menjegal Gus Dur yang kala itu dianggap kurang patuh kepada para kiai, tetapi mendapat dukungan besar dari muktamirin. Bahkan ada yang terang-terangan ingin menggusur nama Gus Dur dari daftar pengurus, tetapi di antara anggota AHWA sendiri ada saling tarik ulur, sehingga Gus Dur lolos menjadi Ketua Tanfidziah, tetapi dengan komposisi pengurus kompromis (Yang kala itu membuat Gus Dur gusar). Sebab para kiai memasukkan orang-orang yang tidak sepaham dengan Gus Dur.

Apakah hal ini akan terjadi serupa? Siapakah tokoh yang sedang dibidik? Saya menduga yang pertama adalah Prof Dr HM Said Aqil Siradj (SAS), Ketua Tanfidziah saat ini. Karena SAS dianggap dekat dengan Syiah dan sering kali melemparkan wacana pemikiran Barat, seperti Hermeneutika, Liberalisme, dan Pluralisme. Tentu saja sikap seperti ini mengundang lawan berat, seperti munculnya kelompok NU Garis Lurus (NUGL). Bagi NUGL apa yang dilakukan SAS sudah bengkok, dan karena itu harus diluruskan. NU harus dikembalikan sebagaimana dulu dipraktikkan oleh Hadhratusy Syaikh Hasyim Asyari.

Ada juga selentingan, para kiai sepuh menghendaki Rais Aam dikembalikan ke Timur. Timur di sini yang dimaksudnya adalah Jawa Timur, sebab NU sudah semakin ke Jakarta, sehingga meninggalkan tradisi awal yang memang dulu dipelopori oleh para kiai dari Jawa Timur. Kebetulan, Rois Am dan Ketua Tanfidziah dipegang bukan oleh tokoh Jawa Timur. Aspirasi ini masih nyambung dengan aspirasi kelompok NUGL.

Orang kedua yang dibidik adalah Asad Said Ali, wakil ketua Tanfidziah saat ini. Asad sebelum aktif di pengurusan PBNU adalah waka BIN. Dia seorang intelejen negara yang banyak mengetahui rahasia-rahasia di masyarakat. Kekhawatiran kaum Nahdhiyin kepadanya adalah, mereka takut NU akan dibawa Asad kepada ranah struktual. Ingat dulu ada dikotomi NU Struktural dan NU Kultural. Gampangnya, kaum NU Kultural ini tidak ingin NU menjadi bagian dari pemerintah (NU adalah patner pemerintah) atau bahkan dipakai sebagai bumper memperintah (NU bukan kaki tangan pemerintah) dalam beberapa kebijakan. Sebab kalau NU sudah dipakai sebagai senjata, maka akan ada potensi korban yang terlukai.

Bagaimana dengan KH Sholahuddin? Pengasuh Ponpes Tebu Ireng ini tinggal satu-satunya dari keluarga Wahid Hasyim yang berkiprah intensif di NU, memang masih ada saudara Gus Dur yang masih hidup, tetapi kapasitasnya dan intensifitasnya dalam NU kurang.

Namun sejatinya, Gus Solah bukanlah kiai pondok. Dia menghabiskan masa mudanya sebagai mahasiwa ITB dan kemudian bekerja di perusahaan. Tentu saja dia bisa mengaji kitab kuning, tetapi bukan seorang fakih. Dia lebih sebagai menajer secara umum. Di samping itu, umurnya sudah tua dan tidak selincah yang muda sebagai dikehendaki bagi jabatan seorang tanfidziah yang gesit melayani syuriah. Gus Solah itu terlalu muda untuk jabatan Rois Am, dan terlalu tua untuk jabatan tanfidziah. Jadi kalau dia terpilih sebagai Ketua Tanfidziah, maka harus didampingi kaum muda yang gesit dan lincah.

Lalu bagaimana AHWA memilih Rois Am? Menurut saya pilihan jatuh kepada KH Maemoen Zubair atau KH Musthofa Bisir. Kebetulan keduanya alumni Ponpes Lirboyo, yang menurut pengamatan saya, memiliki daya tawaran lebih dibanding dengan alumni ponpes lainnya, bahkan dari kalangan ponpes Jombang sekalipun. Hanya Mbah Maemoen sudah terlalu tua, meski pemikirannya masih jernih dan cemerlang. Sedang KH Musthofa Bisri tidak mendapat ijin dari ibundanya. Mungkin muktamirin bisa menjadikan dua tokoh Rembang ini sebagai Dwi Tunggal yang mendamaikan.

Hadirnya AHWA adalah salah satu moment kritis yang bisa jadi merubah wajah NU ke depan. Kita ikuti saja kiprah para muktamirin selanjutnya.

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!