CATATAN MUKTAMAR NU – (3); Masih Banyak PR

Oleh: Saiful Bahri Nahdhatul Ulama secara harafiah berarti Kebangkitan Ulama, dan karena itulah NU memang gudangnya ulama. Namun dalam perjalanan sebuah organisasi social keagamaan, diperlukan juga keahlian berbagai...

26 0

Oleh: Saiful Bahri

 

Nahdhatul Ulama secara harafiah berarti Kebangkitan Ulama, dan karena itulah NU memang gudangnya ulama. Namun dalam perjalanan sebuah organisasi social keagamaan, diperlukan juga keahlian berbagai macam cabang ilmu bagi para anggotanya, khususnya di jajaran pengurusnya. Hal inilah yang disadari para muktamirin dalam setiap muktamar. Bagaimana mereka bisa merumuskan program organisasi yang bermanfaat bagi kesejahteraan anggotanya, sekaligus berhasil tuntas dalam kurun masa jabatannya itu.

Ada titik lemah dalam NU yang sampai sekarang belum tertanggulangi. Hal ini diakui oleh para tokoh NU sendiri. Sebuah buku berjudul Daulat NU yang saya peroleh gratis ketika meliput Muktamar ke-31 NU 2005 di Solo mengemukakan hal itu. Buku yang disunting oleh Muh Hanif Dhakiri (sekarang Menteri Tenaga Kerja RI), memotret autobiografi 9 politisi muda NU di parlemen. Di antaranya Mujib Rahmat, Khofifah Indar Parawangsa, Muhaimin Iskandar, dan lainnya.

Mujib Rahmat mengatakan bahwa Kita kekurangan SDM yang menguasai betul perkara-perkara teknis. Hal itu terjadi karena politisi di parlemen tidak hanya membahas masalah politik atau keagamaan saja, tetapi juga ada masalah ekonomi, social, budaya, dan teknologi. Sedang hampir 50 persen politisi NU berasal dari IAIN dan pesantren.

Khofifah Indah Parawangsa (sekarang Menteri Sosial RI) mengeluh, sekarang ini banyak anak muda NU, yang tidak tertarik masuk PMII, IPPNU, Ansor. Kenapa? Karena NU dianggap tidak mampu memberikan menu yang mereka butuhkan. Lalu mereka disapa oleh kelompok lain, kelompok lain ini menunya lebih menarik dan lebih banyak.

Sekarang misalnya di ITB, apakah mahasiswanya tertarik bergabung dengan GP Ansor? Jawabannya tergantung kepada pada menu yang disajikan Ansor, kalau menunya hanya soal apel-apel sulit mereka mau bergabung. Padahal mereka banyak yang bergelar doctor muda, master muda. Ketika saya tanya, apakah mereka tertarik masuk IPNU, PMII atau Ansor rata-rata menggelengkan kepala. Padahal mereka dari keluarga NU asli, kakek-kakek mereka tokoh-tokoh NU. Itu terjadi karena apa yang dibutuhkan oleh mereka tidak ditemukan di Banom NU.

Isu pendidikan di NU seolah mimpi yang tidak bisa diwujudkan, tidak tahu kapan bisa direalisasikan. Memang kita maklum, beberapa universitas (di mana di dalamnya ada Jurusan Tarbiyah, Syariah, dan Usuluddin) yang mampu dibangun NU? Sedang di kota yang mayoritas NU pontensial untuk dibangun Universitas NU (UNU), seperti UNU Surabaya, UNU Jember, UNU Malang, UNU Semarang, UNU Bandung, UNU Banten, UNU Jakarta, dan lainnya. Memang di beberapa kota besar sudah dibangun perguruan tinggi yang diprakarsai oleh tokoh NU, tetapi memakai nama yang berbeda-beda, tidak berani memakai nama yang seragam seperti UNU Solo, umpamanya.

Dalam soal ekonomi juga begitu. Mengapa? Khofifah (yang juga Ketum Muslimat) mengatakan, Mari kita melakukan otokritik, salah satu bahan otokritik yang perlu kita renungi adalah banyaknya orang NU yang tidak amanah saat diberi kepercayaan. Pernah suatu kali, Pengurus Muslimat Wilayah diberikan pinjaman oleh Pengurus Pusat, lucunya pinjaman itu dianggap sebagai hibah. Kalau begini bagaimana bisa maju?

Jadi banyak PR yang disandang oleh NU dalam berbagai segi supaya menarik untuk diikuti generasi muda dan keluarga NU. Sekaligus perlu otokritik terhadap kerja masa lalu yang kurang beres, sebagai acuan untuk kerja beres di masa depan.

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!