Kisah Perebut Emas SEA Games Jadi Penarik Becak

208

redaksi.co.id – Kisah Perebut Emas SEA Games Jadi Penarik Becak

SURABAYA –Nasib Suharto (38), peraih medali emas SEA Games 1977 di Kuala Lumpur Malaysia, tidak seindah yang dibayangkan. Pemuda asli Surabaya itu kini berprofesi sebagai penarik becak di sekitar Pasar Pegirikan dan Pasar Kapas Krampung.

Becak yang saya pakai itu sewaan. Sehari bayar Rp 5.000 ke pemiliknya, aku bapak tiga orang anak itu.

Setiap hari Suharto bisa mendapat rata-rata Rp 50.000 sampai Rp 60.000. Pernah memperoleh hingga Rp 120.000, tapi untuk itu harus mengayuh mulai Subuh sampai hampir tengah malam.

Sebenarnya, Suharto ingin punya becak sendiri tapi tak punya tempat untuk parkir becaknya karena selama ini bersama kaluarganya tinggal di petak rumah yang tak terlalu luas di daerah Kebondalem, Surabaya. Dengan menyewa, ia merasa lebih nyaman.

Perjalanan Suharto dari atlet hebat hingga menjadi tukang becak cukup panjang. Karier di dunia balap sepeda dimulai pada 1974. Saat itu, ia bertanding di Senayan, Jakarta, dalam sebuah kejuaraan.

Ada seratusan peserta. Dua belas di antaranya adalah atlet Pelatnas. Saya masih belum tahu siapa-siapa saat itu, kenang pria kelahiran 18 Februari 1952 itu.

Meski begitu Suharto berhasil meraih juara pertama. Atlet-atlet nasional itu dilibas olehnya. Melihat bakat Suharto yang lumayan, akhirnya dia direkrutnya sebagai penghuni Pelatnas.

Setelah momen itu, satu demi satu medali dari turnamen balap sepeda bergantung dilehernya. Tak hanya tingkat nasional, juga beberapa kali menjuarai lomba tingkat dunia.

Tahun 1976, ia bertandang ke Thailand untuk mengikuti kejuaraan semi internasional. Dari sana, dua medali perak berhasil dikantongi. Setahun berselang, 1977, Tiongkok menjadi tempat pembuktian selanjutnya bagi Suharto dan berhasil membawa pulang perunggu.

Pada tahun yang sama, di SEA Games Kuala Lumpur, Malaysia, Suharto turun ke lapangan dan medali emas dibawanya pulang. Penghargaan itu, kata dia, menjadi yang paling terkenang.

Di tahun yang sama, saya juga memecahkan dua rekor sekaligus pada kejuaraan PON (Pekan Olahraga Nasional). Yakni untuk kelas 4.000 meter individu dan 4.000 meter kelompok. Saya saat itu memang lagi semangat-semangatnya. Bisa jarak jauh, bisa juga jarak dekat, lanjutnya yang menyebut 1977 sebagai tahun puncak karir Suharto.

Tahun 1978 dan 1979, ia dikirim oleh negara untuk mengikuti pendidikan olaraga di Jerman. Di sana, pemahaman soal dunia atlet sepeda semakin banyak. Hanya saja, ia sempat mengalami kecelakaan ketika mengikuti turnamen di Prancis.

Ceritanya, Suharto mengayuh sepedanya dengan kecepatan sangat tinggi. Di tikungan, ia melamun. Tak sempat berkelok, pria itu terjungkal hingga tengkorak dan tulang rusuknya patah.

Akibatnya, ia sempat koma selama dua bulan. Untung saya masih hidup. Saat itu ada yang mengganggu pikiran saya. Saya dapat surat dari keluaraga di Indonesia yang meminta saya pulang. Mereka tidak setuju saya jadi atlet sepeda, tuturnya.

Bapaknya memang seorang atlet sepeda. Ia orang pertama yang mengenalkan Suharto pada dunia balap sepeda. Tapi keluarga tak ingin Suharto mengikuti jejak ayahnya.

Entah apa alasannya. Mereka lebih ingin kakak Suharto yang menggeluti dunia itu. Sampai sekarang saya tidak tahu apa alasannya, ucap dia.

Dari sini, cerita balap sepeda Suharto usai. Ia pulang ke Indonesia. Bekerja sebagai kernet angkutan kota (angkot) supir truk. Kemudian menikah. Tak adanya sambutan hangat dari pemerintah saat pulang kampung membuatnya kecewa. Banyak kerjaan yang ditekuni, sebelum akhirnya menjadi penarik becak.

Ada satu cita-cita yang belum sempat terealisasi. Suharto ingin bisa melatih pemuda-pemuda berbakat yang ada di Surabaya. Saya yakin di sini ada bakat yang bagus tapi melatih mereka perlu biaya. Saya tak sangup untuk itu, pungkasnya.(Aflahul Abidin/Surya)

(red/ahmat/dhy/urniawan/RAK)

loading...

Comments

comments!