Jalankan Deregulasi, Kemendag Terbitkan 9 Aturan Baru

redaksi.co.id - Jalankan Deregulasi, Kemendag Terbitkan 9 Aturan Baru Menteri Perdagangan Thomas Lembongmenyatakan, deregulasi dandebirokratisasi memang harus dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan investor kepada negara. Rasionalisasiperaturan dan...

23 0

redaksi.co.id – Jalankan Deregulasi, Kemendag Terbitkan 9 Aturan Baru

Menteri Perdagangan Thomas Lembongmenyatakan, deregulasi dandebirokratisasi memang harus dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan investor kepada negara. Rasionalisasiperaturan dan penyederhanaan peraturan ini telah dilakukan oleh negara-negara yang industrinya melajudalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

“Rasionalisasi peraturan dan penyederhanaan perizinan ini merupakan hal fundamental yang diharapkandapat mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan kepercayaan investor kepadanegara, serta membangun kembali persepsi yang positif, ujar Thomas dalam keterangan tertulis, Kamis (1/10/2015).

Semangat deregulasi dan debirokratisasi yang sedang dijalankan adalah penyederhanaan yang drastis pada proses-proses perizinan dan peraturan serta pengaturan impor danekspor secara lebih strategis.

Usai diterbitkannya Paket Kebijakan Ekonomi Tahap I oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 9 September 2015 lalu,Kementerian Perdagangan bekerja secara intens untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut.

Dari 32 Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag), yang terdiri dari 24 peraturan yang didebirokratisasidan 8 Peraturan yang dideregulasi, terdapat 9 Permendag baru diterbitkan setelah ditandatangani olehMendag.

“Kebijakan ini cukup kompleks karena menyangkut multidimensi. Namun, jajaran KementerianPerdagangan bergerak cepat. Dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu setelah pengumuman, ada 9Permendag yang telah ditandatangani minggu ini,” ujarnya.

Berikut ini 9 Permendag yang telah ditandatangani:

1. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 70/M-DAG/PER/9/2015 tentang Angka Pengenal Importir (API).

2. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 71/M-DAG/PER/9/2015 tentang Ketentuan Impor ProdukHortikultura.

3. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 72/M-DAG/PER/9/2015 tentang Perubahan Ketiga AtasPeraturan Menteri Perdagangan Nomor 14/M-DAG/PER/3/2007 tentang Standardisasi Jasa BidangPerdagangan dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib terhadap Barang dan Jasa yangDiperdagangkan.

4. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 73/M-DAG/PER/9/2015 tentang Kewajiban Pencantuman Labeldalam Bahasa Indonesia pada Barang.

5. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 74/M-DAG/PER/9/2015 tentang Perdagangan Antarpulau GulaKristal Rafinasi.

6. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 75/M-DAG/PER/9/2015 tentang Pencabutan Atas KeputusanMenteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 528/MPP/KEP/7/2002 tentang Ketentuan ImporCengkeh.

7. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 76/M-DAG/PER/9/2015 tentang Pencabutan Atas PeraturanMenteri Perdagangan Nomor 11/M-DAG/PER/3/2010 tentang Ketentuan Impor Mesin, PeralatanMesin, Bahan Baku, Cakram Optik Kosong, dan Cakram Optik Isi sebagaimana telah diubah denganPeraturan Menteri Perdagangan Nomor 35/M-DAG/PER/5/2012.

8. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 77/M-DAG/PER/9/2015 tentang Pencabutan Atas PeraturanMenteri Perdagangan Nomor 41/M-DAG/PER/12/2011 tentang Ketentuan Impor SodiumTripholyphosphate (STPP).

9. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 78/M-DAG/PER/9/2015 tentang Pencabutan Atas PeraturanMenteri Perdagangan Nomor 45/M-DAG/PER/6/2015 tentang Ketentuan Impor Ban.

Dari 9 Permendag tersebut, lanjut Mendag, ada 5 Permendag yang langsung berlaku segera setelahditandatangani yaitu Permendang mengenai perdagangan gula antarpulau, impor cengkeh, cakram optik,STPP, dan impor ban. “Permendag tersebut dapat segera berlaku karena sifatnya pencabutan,” imbuh Thomas.

Untuk Permendag mengenai Label akan berlaku 1 Oktober 2015, hari ini. Sementara itu, Permendagmengenai API berlaku pada 1 Januari 2016, Permendagmengenai impor hortikultura berlaku pada 1Desember 2015, dan Permendag SNI berlaku satu bulan setelah ditandatangani. (Fik/Gdn)

(red/endarmono/l/idarto/HAS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!