Barack Obama Marah, Kasus Penembakan Jadi Hal Rutin di AS

261

redaksi.co.id – Barack Obama Marah, Kasus Penembakan Jadi Hal Rutin di AS

Kemarahan Presiden AS Barack Obama sudah di ubun-ubun. Dalam keterangan persnya mengenai insiden penembakan massal yang baru saja terjadi di Roseburg, Oregon, AS, ia mengaku geram mengapa penembakan sudah menjadi hal rutin di Amerika Serikat.

“Bagaimanapun, ini menjadi hal yang rutin. Laporan juga rutin. Dan saya, berdiri di podium mengecam tiap insiden, manjadi hal yang rutin pula,” ucap Obama marah, seperti dikutip New York Times, Kamis 1 Oktober 2015.

Kemarahannya juga memuncak dan mengatakan bahwa berduka saja tidak cukup. Perlu ada tindakan keras mengenai peraturan senjata api.

“Siapapun kalian, mau Demokrat, Republikan, atau siapapun harap memikirkan kembali perwakilan mereka, apakah mereka benar mengutamakan pengawasan senjata api atau tidak. Lihat lagi, renungkan lagi, benar atau tidak, berlangsungnya pembunuhan orang-orang tak bersalah seharusnya ada hubungnanya dengan pengetatan peraturan senjata api,” kecam Obama.

Obamajuga mengkritik laporan media yang selalu menyandingkan korban tewas karena kekerasan senjata di AS dengan jumlah kematian oleh serangan terorisme, tanpa menyentil isu peraturan senjata itu sendiri.

“Ini sesuatu yang saya tidak bisa lakukan sendiri. Saya butuh anggota kongres, gubernur dan legislatif untuk mendukung saya,” pinta Obama.

“Saya berharap, di sisa jabatan saya sebagai presiden, saya tidak perlu lagi berdiri di sini untuk mengucapkan duka cita lagi atas kejadian yang sama,” kata Obama sambil meninggalkan podium.

Saksi Mata: Semua Murid Panik

Penembakan massal terjadi pada pukul 10.38 waktu Oregon di Kampus Umpqua, Oregon. Salah satu saksi mata, Cassandra Welding yang baru saja memulai kelas mendengar tembakan.

Tatkala mendengar suara tembakan, salah satu pengajar segera berlari ke arah pintu untuk menutupnya. Malang, ia tertembak dan tersungkur.

“Semua murid panik, ‘dia tertembak-dia tertembak!’ salah seorang temanku berhasil menariknya dan mengunci pintu. Ia mencoba memberikan CPR kepadanya, namun tak berhasil. Aku merinding. Kami memanggil 911 meminta bantuan,” cerita Welding.

“Aku menelpon ibuku selama kejadian itu berlangsung, barangkali ini adalah telepon terakhirku untuknya,” tambahnya sambil terisak.

Salah satu saksi mata mengatakan, bahwa penembak yang diperkirakan masih berusia 26 tahun, sebelum menembak menanyakan agama ke pada calon korbannya.

“Ia meminta semua berdiri dan bertanya apa agamanya. Lalu ia menembak kami semua,” kata Kortney Moore.

“Aku melihat guruku jatuh tersungkur tertembak di kepala,” tambah More.

Jumlah korban diketahui mencapai 13 orang, sementara 20 orang terluka.

Kampus Umpqua adalah sebuah komunitas di mana seluruh lapisan masyarakat dan tingkatan umur boleh bersekolah di situ untuk peningkatan kariernya.

“Ini adalah kampus komunitas. Jadi banyak teman-teman dan keluarga kami sekolah di sini,” kata Sheriff Hanlin yang menjelaskan bahwa kampus yang tenang dan damai itu memiliki 3.000 murid.

Sebuah organisasi pengawasan senjata Everytown for Gun Safety mengeluarkan pernyataan, kasus ini adalah penembakan di sekolah AS ke-45 di tahun 2015. Dan penembakan ke-142 di seluruh sekolah AS semenjak insiden yang sama terjadi di Sandy Hook pada Desember 2012.

“Amerika adalah satu-satunya negara maju yang ketika orang bertanya,’apakah kamu mendengar penembakan di sekolah?’ lantas kau akan menjawab, ‘yang mana?’. Ini benar-benar tidak bisa diterima dengan akal sehat,” kata Colin Goddard, salah seorang korban selamat penembakan Virgina Tech dan juga menjabat advokasi di organisasi itu.

“Harus ada yang diubah. Sekaranglah saatnya.” (Rie/Tnt)

(red/iti/mi/anik/SUH)

loading...

Comments

comments!