Status Tweet Ungkap Status Sosial Penggunanya

redaksi.co.id - Status Tweet Ungkap Status Sosial Penggunanya Sering kali Twitter dijadikan sebagai tempat untuk berbagi momen, berbagi informasi, bahkan bertransaksi. Banyak ragam aktivitas yang bisa...

10 0

redaksi.co.id – Status Tweet Ungkap Status Sosial Penggunanya

Sering kali Twitter dijadikan sebagai tempat untuk berbagi momen, berbagi informasi, bahkan bertransaksi. Banyak ragam aktivitas yang bisa dieksplor dari sebuah akun jejaring sosial Twitter, bergantung dari bagaimana si empunya akun mengolahnya.

Namun jangan salah, apa yang Anda tulis atau unggah selama ini bukan tanpa perhatian. Apa yang Anda tulis di sosial media bisa mencerminkan bagaimana status sosial dan psikologis Anda.

Sebuah studi penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan komputer dari Universitas Pennsylvania mengungkapkan bahwa bahasa yang digunakan oleh seseorang, dapat mengungkapkan bagaimana status sosial mereka.

Dilansir dari Dailymail, Jumat (2/10) hasil menyebutkan bahwa, kata-kata seseorang dalam Twitter mencerminkan usia, jenis kelamin, dan juga status sosial.

Misalnya pada segi penghasilan, untuk mereka yang berpenghasilan tinggi cenderung mengekspresikan kata-kata yang terselip rasa takut, khawatir, bahkan marah, di Twitter mereka. Sedangkan bagi yang berpenghasilan rata-rata atau sedikit rendah justru cenderung lebih optimis menatap kehidupan.

“Orang-orang yang berpenghasilan rendah cenderung menjadikan Twitter sebagai komunikasi di antara mereka sendiri, sedangkan bagi mereka yang berpenghasilan tinggi cenderung lebih profesional untuk menggunakan jejaring Twitter mereka, misalnya untuk menyebarkan informasi,” ujar peneliti.

Kemudian dari segi penidikan, mereka yang memiliki pendidikan rendah cenderung memilih atau menggunakan kata-kata yang mengandung umpatan. Sedangkan mereka yang mengenyam pendidikan lebih tinggi, cenderung lebih banyak menjadikan Twitter untuk membahas politik, perusahaan, dan dunia nirlaba.

Penelitian ini dilakukan oleh Daniel Preotiuc-Pietro, peneliti pasca doktoral, di School of Science and Arts. Ia bersama Svitlana Volvoka dari Universitas Johns Hopkins, Vasileios lampos dan Nikolaos Aletras dari London dan terakhir Yoram Bachrach dari Microsoft Research.

Penelitian dilakukan terhadap 5 ribu pengguna jejaring sosial twitter.

(red/ambertus/usi/urek/LLH)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!