Pembukuan Bisnis Anda Bermasalah, Begini Cara Mengatasinya

redaksi.co.id - Pembukuan Bisnis Anda Bermasalah, Begini Cara Mengatasinya Ada berbagai macam persyaratan agar bisa membangun usaha yang kuat dan besar. Salah satu di antaranya adalah...

63 0

redaksi.co.id – Pembukuan Bisnis Anda Bermasalah, Begini Cara Mengatasinya

Ada berbagai macam persyaratan agar bisa membangun usaha yang kuat dan besar. Salah satu di antaranya adalah memiliki sistem pembukuan yang handal: setiap transaksi keuangan tercatat dengan benar dan rapi. Sistem pembukuan idealnya menyajikan informasi pengeluaran dan pendapatan, disusun secara sistematis dan terperinci. Ini agar mampu memberikan gambaran valid tentang segala kegiatan perusahaan yang berkaitan dengan uang, barang, dan komponen lain seperti utang dan piutang.

Tak bisa dipungkiri, keuangan adalah bagian penting dari setiap bisnis sehingga perlu diberi perhatian khusus. Dengan menyusun data keuangan yang sistematis, pelaku usaha dapat melihat dan menganalisa perputaran modalnya serta mengambil langkah korektif jika terjadi penyimpangan dari rencana semula. Sayangnya, belum semua pelaku usaha memiliki kesadaran akan pentingnya pembukuan keuangan. Nanik Yuniarti, pelaku usaha di bidang pengolahan tepung dengan merek Hasil Bumiku di Bantul, Yogyakarta, adalah salah satunya. Dia mengaku belum membuat pencatatan keuangan yang rapi sehingga sulit mengalkulasikan jumlah omzet dan laba bersih yang bisa didapatnya setiap bulan. Omzetnya saat ini berkisar Rp10 juta Rp 50 juta per bulan dengan margin laba sekitar 30-50 persen. Nanik, yang memiliki sekitar 17 varian tepung olahan seperti tepung ubi ungu dan tepung labu, kesulitan menjawab ketika ditanya berapa persentase masing-masing varian.

Sejauh ini yang paling laris ubi ungu, dulu bahkan sering dipesan konsumen dari Korea. Yang lainnya juga laris, tetapi saya jarang membuat pembukuannya. Pencatatannya masih belum rapi, tuturnya. Dampak dari kondisi tersebut, antara lain membuatnya sulit mengambil strategi jitu untuk mendongkrak bisnis.

Nanik merasa masih belum bisa mengoptimalkan potensi pasar yang sesungguhnya sangat tinggi, baik domestik maupun ekspor, karena belum punya taktik pemasaran untuk menjangkau konsumen secara masif dan tepat sasaran.

Setali tiga uang dengan pengalaman yang dirasakan Eva Irma Muzdalifah pada masa-masa awal menjalankan usaha yang bergerak di bidang penjualan oleh-oleh haji. Dia teledor dan jarang mencatat tiap transaksi di tokonya yang bernama Al Barokah di blok F Tanah Abang, Jakarta.

Mengingat dia tidak disiplin dalam mencatat setiap transaksi, dia pun akhirnya tak mengetahui dengan jelas kondisi yang sedang dialami usahanya, baik untung maupun rugi. Penjualan secara tradisional memang membuka peluang karyawan berbuat tidak jujur. Prosesnya tak seperti di ritel modern, tinggal scan barcode langsung ada keterangan harga dan jumlah sisa stok.

Sistem perdagangan tradisional lebih ribet karena sistemnya jual secara grosiran dan eceran, tuturnya. Akibatnya mudah ditebak. Usaha Eva yang dirintis sejak Oktober 2008 silam menjadi sulit berkembang dan tidak jelas arahnya pada tahun pertama.

Padahal dari segi angka, jumlah penjualan di tokonya terbilang besar, bahkan mencapai jutaan rupiah per hari. Kini, kondisinya memang sudah jauh berbeda. Perubahan mulai terjadi ketika dia mengikuti pelatihan kewirausahaan.

Pikirannya mulai terbuka terkait dengan manfaat pembukuan. Dia melatih diri agar disiplin mencatat setiap transaksi sehari-hari. Cara yang dia gunakan masih sederhana, yakni menggunakan buku tulis dan dia menulis sendiri setiap transaksi yang ada.

Semua penjualan dia catat serapi mungkin dan langsung dibuat neracanya agar tahu jumlah untung atau rugi setiap harinya. Dia juga menjadi lebih mudah mengawasi pergerakan penjualan ritel dan grosir sehari-hari yang setiap bulan beromzet Rp300 juta Rp400 juta. Jika ada masalah, kini dia dapat langsung mengambil tindakan agar kerugian tidak bertambah banyak.

Bingung dan Tidak Disiplin <!-more-/>

Banyak yang masih memandang pembukuan sebagai urusan nomor sekian karena berbagai macam alasan, mulai dari proses akuntansi yang dianggap membingungkan hingga alasan ketidakdisiplinan.

Pembina UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Nining I. Soesilo mengatakan pelaku UMKM, khususnya skala mikro memang masih enggan membuat laporan pembukuan.

Padahal, menurutnya, setiap perusahaan termasuk skala mikro dan kecil wajib memiliki sistem pembukuan. Laporan keuangan usaha adalah alat manajemen kinerja.

Manfaatnya antara lain dapat digunakan sebagai peta dalam membuat keputusan yang tepat untuk memaksimalkan profit, pengaturan arus kas, hingga mengambil perencanaan strategis.

Syarat usaha mikro menjadi besar harus bisa membuat perencanaan strategis. Kalau tidak punya perencanaan, usahanya tidak akan pernah bisa menjadi besar, kata dia ketika menjadi pembicara di depan puluhan alumni kontes wirausaha Citi Microentrepreneurship Award, beberapa waktu lalu.

Dosen akuntansi Prasetiya Mulya Business School Sandy Harianto menuturkan pelaku usaha yang tidak menerapkan pembukuan biasanya tidak mampu memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan perusahaan.

Kondisi itu membuat pelaku usaha tidak dapat melihat jelas apakah bisnisnya benar-benar menguntungkan. Efek negatif lainnya, perusahaan juga tidak bisa mengetahui perkembangan, keuntungan, dan prospek usahanya.

Dia merasa sepertinya sudah banyak yang laku, tetapi kok usahanya tidak ada untung. Padahal uang dari usahanya itu mungkin digunakan untuk membeli televisi, handphone, dan lain-lain. Jumlah uang dan utang perusahaan juga tidak benar-benar diketahui karena bercampur dengan uang pribadi, tutur Sandy.

Dia menyarankan pelaku usaha untuk memisahkan keuangan pribadi dan perusahaan. Caranya, misalnya dengan membeli mesin kasir sehingga dapat terhitung jelas berapa uang yang masuk dan keluar, hingga jumlah omzet per hari.

Dengan memisahkan keuangan dan mencatat setiap transaksinya, pelaku usaha akan lebih mudah menerapkan akuntansi biaya berupa pelacakan, pencatatan, dan analisis terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan.

Akuntansi biaya berperan membantu manajemen usaha dalam proses pengendalian dan perencanaan untuk memperbaiki efisiensi serta kualitas, baik untuk keputusan rutin maupun strategis atau jangka panjang.

Dengan sistem yang terkendali, perusahaan dapat mengatur biaya-biaya cadangan yang diperlukan untuk kondisi tertentu, misalnya renovasi tempat usaha ataupun mengajak karyawan berlibur.

Manfaat besar lainnya adalah untuk memudahkan perusahaan dalam meminjam modal tambahan. Biasanya lembaga keuangan mensyaratkan perusahaan yang layak diberi pinjaman harus berjalan minimal berjalan dua tahun dan memiliki prospek yang baik.

Kegunaan yang tak kalah penting yakni untuk urusan pajak UKM. Jika tidak mengetahui dengan jelas berapa jumlah omzet yang sebenarnya, nanti justru malah susah karena nanti angkanya asal ditembak.

(red//ur/sikin/MNA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!