Suasana Belakang Panggung Pertunjukan "The Sound of Music"

386

redaksi.co.id – Suasana Belakang Panggung Pertunjukan "The Sound of Music"

PEMENTASAN “The Sound of Music” yang dipersembahkan Andrew Lloyd Weber dan David Ian melalui West End Musical Theater, London Palladium bersama Sorak Gemilang Entertainment hadir untuk pertama kalinya di Jakarta mulai 6 Oktober hingga 18 Oktober 2015 di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta.

Dengan pertunjukan kelas dunia seperti ini, tentunya dibutuhkan persiapan maksimal dalam menghadirkan setiap detil di atas panggung. Ini tak lepas dari para pemain, kostum, latar panggung, tata cahaya dan berbagai detil lainnya.

Kami pun mendapatkan kesempatan melakukan tur backstage, Selasa (6/10) untuk melihat suasana dan persiapan yang terjadi di belakang panggung pertunjukan “The Sound of Music”.

Persiapan yang dibutuhkan pun luar biasa mengingat banyaknya properti yang diboyong dari Inggris.

Diungkapkan Guy Ongley, Technical Stage Director dibutuhkan 10 kontainer untuk membawa properti ke Indonesia dan tiga hari untuk mempersiapkan set panggung hingga akhirnya dapat digunakan untuk pertunjukan.

Menurutnya salah satu kesulitan dalam persiapan merupakan proses pemindahan properti berukuran besar dari satu tempat ke lokasi panggung.

Selain itu, bentuk panggung teater yang berbeda dari satu negara ke negara lainnya khususnya jika dibandingkan antara teater di Asia dan Inggris. Perbedaan ini terletak pada sekat yang membagi panggung dimana dapat diisi oleh area penampilan, latar serta lampu. Namun dijelaskan penyesuaian selalu dapat dilakukan untuk memberikan hasil yang terbaik.

Tak seperti yang diperkirakan, area backstage ternyata tak megah ataupun luas dari segi ukuran. Malah terbilang sederhana untuk sebuah pertunjukan megah seperti ini.

Namun saat melihat sekeliling, terlihat jelas betapa banyaknya detil, kerja kerasa dan persiapan yang dibutuhkan dalam melengkapi keseluruhan pertunjukan.

Lokasi di belakang panggung dipenuhi berbagai elemen dan detil penting yang diperlukan selama pertunjukan. Mulai dari seluruh jenis properti yang dibutuhkan di atas panggung. Kemudian, lemari berisikan kostum pemain yang tersusun rapi sesuai urutan dan nama, rak berisikan properti para pemain serta laci kayu yang dipenuhi berbagai jenis alat.

Lalu ada area pengaturan visual, audio dan pusat pengaturan utama yang bertugas mengendalikan apa yang terjadi di atas panggung sesuai skrip yang sudah ada. Serta satu meja yang berisi seluruh microphone para pemain yang berjejer rapi, masing-masing dengan nama pemain tertera di atasnya.

Ada pun bilik terbuka dilengkapi mikrofon yang digunakan untuk membantu mengisi suara vokal secara live. Ini ditujukan untuk membantu melengkapi suara saat para pemeran bernyanyi membawakan sebuah lagu yang membutuhkan suara tambahan. Pasalnya seluruh vokal dan musik dalam pertunjukan The Sound of Music dihadirkan secara live.

Suatu pengalaman yang menarik melihat sekilas proses yang dibutuhkan untuk menyuguhkan pertunjukan The Sound of Music seperti yang akhirnya disaksikan dari bangku penonton.

Tepuk tangan dan apresiasi sepatutnya tidak hanya diberikan kepada para pemain di atas panggung namun juga orang-orang yang berjasa di balik layar produksi spektakuler ini.

(tika/gur)

(red/aini/J)

loading...

Comments

comments!