6 Insiden 'Salah Serang' AS yang Mematikan saat Perang

redaksi.co.id - 6 Insiden 'Salah Serang' AS yang Mematikan saat Perang Pihak Doctors Without Borders atau Medecins Sans Frontieres (MSF)meminta tim independen untuk menginvestigasi pengeboman fasilitas...

13 0

redaksi.co.id – 6 Insiden 'Salah Serang' AS yang Mematikan saat Perang

Pihak Doctors Without Borders atau Medecins Sans Frontieres (MSF)meminta tim independen untuk menginvestigasi pengeboman fasilitas kesehatan milik organisasinya di Afghanistan. Namun, Amerika Serikat bersikukuh kejadian itu murni salah sasaran.

Sampai hasil penyelidikan tuntas, MSF belum mencabut pernyataan jika AS telah melakukan kejahatan perang.

Komandan pasukan koalisi AS di Afghanistas, Jenderal John Campbell mengatakan rumah sakit di kota utara Kunduz itu tak sengaja dibom. Hal itu terjadi saat pasukan Afghanistan meminta dukungan udara.

“Pada 3 Oktober, pasukan Afghanistan meminta bantuan udara AS karena mereka dihujani peluru oleh Taliban,” kata Campbell pada Rabu (7/10/2015) seperti dikutip dari CNN. “Serangan udara pun kami lakukan. Namun, AS ‘tak menyangka’ posisi musuh dekat dengan Rumah Sakit itu,” lanjut dia.

Campbell mengatakan Amerika Serikat bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Namun, sebelumnya AS menyebut pengeboman itu adalah insiden ‘kerusakan kolateral.’

Benarkah begitu?

Terminologi ini muncul pada 1960 oleh militer AS. Hal ini memunculkan banyak kecaman dan kritikan. Seharusnya hak masyarakat sipil terlindungi selama perang oleh undang-undang perang. Termasuk tidak menyerang fasilitas kesehatan, sekolah, dan shelter pengungsi yang dilindungi oleh PBB.

“Menurut hukum perang adalah ilegal menyerang pihak musuh tanpa menggunakan teropong. Apakah di lokasi itu ada penduduk sipil atau tidak?” tulis Frederic Rosen, penulis bukuCollateral Damage: A Candid History of a Peculiar Form of Death.

Berikut adalah tragedi ‘salah sasaran’ oleh AS, yang hingga kini mereka akui akibat dampak dari perang.

Pesawat AS F4 phantom menjatuhkan bom di Kota Ben Tre pada November 1965 selama Perang Vietnam. Kota ini merupakan wilayah padat penduduk yang dikendalikan Vietkong di Vietnam Selatan.

“Penting untuk menghancurkan kota demi memenangkan pertempuran,” kata salah anggota militer AS kepada sebuah media Negeri Paman Sam itu. Serangan ini menjadi perdebatan sengit dalam aksi militer.

Ini merupakan indikasi dari strategi AS untuk menghancurkan siapa saja, termasuk sipil. Lebih dari 864.000 ton bom dijatuhkan selama Operasi Rolling Thunder itu sendiri.

Menurut Departemen Pertahanan AS, jumlah bom ini lebih banyak jika dibandingkan dengan seluruh bom di Pasifik selama Perang Dunia II yang berakhir pada 1945. Pada Perang Dunia II jumlah bom yang diledakkan sekitar 503.000 ton.

Baca juga: ‘Hantu’ Bom Napalm Membayangi Korban Perang Vietnam

Selama Perang Teluk pertama pada 13 Februari 1991, pesawat AS mengebom pengungsian di lingkungan perumahan Amiriyah Baghdad, Irak. Pengeboman ini menewaskan 408 warga sipil.

Bom-bom itu tepat mengenai sasaran ke tempat penampungan tersebut. Serangan ini sengaja ditargetkan.

Pejabat Pentagon dan CIA berpendapat, tempat penampungan itu digunakan sebagai pos komando alternatif. Penilaian ini didukung oleh laporan Gedung Putih.

Laporan tersebut menuduh rezim Saddam Hussein sengaja menjadikan perumahan warga sipil di instalasi militer sebagai ‘perisai manusia’.

Baca juga: Pembocor Rahasia AS: Sejak Awal, Perang Irak Penuh Kebohongan…

Selama Perang Kosovo, pesawat NATO yang terlibat dalam Operasi Sekutu menembak sebuah kereta api. Alat transportasi itu mereka yakini sebagai kendaraan militer milik Serbia. Ternyata, target tersebut merupakan kereta pengungsi yang melarikan diri konflik.

Tercatat 73 pengungsi tewas.

NATO awalnya mengklaim, pilot melakukan pengeboman untuk membela pengungsi yang ada di kereta api. Mereka menuding para pengungsi meninggal karena pasukan Yugoslavia yang menembaki gerbong itu. Pada akhirnya, aliansi mengakui pesawat telah keliru menjatuhkan bom di kendaraan sipil.

Insiden lain selama Operasi Sekutu, 5 bom milik AS dijatuhkan di Kedutaan China di Belgrade. Peristiwa ini menewaskan 3 wartawan China dan memicu reaksi internasional.

Presiden Bill Clinton meminta maaf atas pengeboman itu. Dia mengatakan pengeboman tersebut tidak disengaja.

Dia berkilah, awalnya, AS mengebom akan salah satu instalasi militer di jalan sama yang teridentifikasi oleh CIA.

Beijing menyebut pengeboman itu adalah sebuah ‘tindakan barbar’, dan insiden itu memicu protes dan kerusuhan di seluruh China. Hubungan AS-China sempat rusak selama bertahun-tahun.

Padatahun-tahun awal perang di Afghanistan, 2 pesawat AS menyerang sebuah pesta pernikahan di provinsi Uruzgan. Peristiwa itu membunuh 48 orang.

Pentagon mengatakan pilot bereaksi terhadap tembakan antipesawat bersenjata berat.

Namun, Kepala Departemen Afghanistan Pertahanan, Gulbudin mengatakan para tamu hanya menembakkan senjata kecil ke udara dalam perayaan pernikahan. Keterangan Gulbudin ini diiyakan oleh tamu yang selamat.

Dua hari setelah serangan itu, Presiden George W Bush menelepon Presiden Afghanistan Hamid Karzai untuk mengungkapkan simpati bagi para korban. Namun, Pentagon menyatakan mereka tidak bersalah dalam insiden itu.

Ini bukan pertama kalinya pesawat militer AS mengebom pernikahan selama konflik Afghanistan.

Serangan serupa terjadi pada Juli dan November 2008. Lebih dari 100 orang tewas.

Pada kedua kasus, militer AS menyatakan penyesalan karena ada warga sipil yang tewas. Mereka mengklaim target sebenarnya adalah militan Taliban yang beroperasi di daerah tersebut.

Tak lama setelah terpilihnya Obama, Karzai menyerukan kepada Presiden AS yang baru itu untuk mengakhiri pembunuhan korban sipil.

Juli 2007, helikopter militer AS menyerang gerilyawan di Irak. Serangan ini mendapat perhatian internasional setelah organisasi ‘pembocor’ WikiLeaks merilis sebuah video yang menunjukkan pesawat menembak sekelompok orang yang berdiri di persimpangan. Tempat yang sama pasukan darat Amerika telah diserang sebelumnya.

Serangan itu diarahkan pada van di sebuah persimpangan. Sedikitnya 12 orang tewas dalam serangan tersebut, termasuk 2 wartawan Reuters. 2 anak dilaporkan terluka.

Wartawan tersebut tidak mengenakan pakaian yang mengidentifikasi diri mereka sebagai pers.

Tak hanya itu, dalam video yang dirilis oleh WikiLeaks, pilot salah mengasumsikan lensa tele yang dibawa oleh salah satu wartawan sebagai RPG atau granat lontar.

Setelah video itu dipublikasikan oleh Wikileaks, Pentagon mengubah pernyataannya. Mereka mengatakan pilot tidak tahu siapa wartawan, siapa pemberontak.

(red/ovi/riawan/NT)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!