Ekonomi Lesu, Perusahaan Migas Kacangan Bertumbangan

redaksi.co.id - Ekonomi Lesu, Perusahaan Migas Kacangan Bertumbangan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas menyatakan pelaku industry sektor migas sudah mulai terdampak...

27 0

redaksi.co.id – Ekonomi Lesu, Perusahaan Migas Kacangan Bertumbangan

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas menyatakan pelaku industry sektor migas sudah mulai terdampak krisis ekonomi. Perusahaan migas level kecil dan menengah sudah banyak hengkang menyusul anjloknya harga minyak dunia yang mencapai di bawah US$ 50 per barel.

Menurut Kepala Humas SKK Migas, Elan Biantoro, perusahaan-perusahaan ini adalah merek yang tidak mempunyai komitmen pasti dalam proses eksplorasi dan eksploitasi blok migasnya. Setidaknya ada 54 perusahaan migas dari total 181 s yang hingga kini tidak melaksanakan kewajiban eksplorasi dan eksploitasi blok migasnya.

Elan mengatakan mayoritas adalah mereka yang tidak punya pengalaman dalam industri migas. Mereka adalah orang-orang yang hanya coba-coba saja masuk industri migas. Sudah punya lima SPBU saja sudah mengaku punya modal untuk masuk industri migas. Itu tentunya tidak cukup. Menurut Elan, industri migas membutuhkan perusahaan yang memiliki modal serta kemampuan SDM yang sudah teruji bertahun tahun. Proses eksplorasi pencarian sumber migas setidaknya membutuhkan modal mencapai puluhan juta US dolar.

“Sepuluh kali pencarian, belum tentu saja mendapatkan sumber minyak. Kalau tidak memperoleh minyak, tidak akan mendapatkan biaya pengembalian dari negara dalam skema perhitungan cost recovery,” ujarnya. SKK Migas, kata Elan baru baru memanggil 15 perusahaan migas yang dianggap tidak punya komitmen dalam pelaksanaan kewajiban pengelolaan bloknya.

Sebagian besar terganjal permasalahan finansial, sharing risk, kesiapan manajemen hingga perubahan operator. “Kami telpon tidak bisa, kami datangi kantornya ternyata hanyalah sebuah komplek rumah toko saja,” kata Elan. Menurut Elan, hanya perusahaan yang teruji yang hingga kini masih bertahan memenuhi kewajiban kontraknya dengan pemerintah. “Seperti seleksi alam saja, hanya perusahaan kelas atas yang bertahan. Karena memang sektor migas tidak boleh dilakukan perusahaan sembarangan,” katanya.

(red/udhi/wi/nggoro/YDA)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!