Pemerintah Yakin Rupiah Terus Bergerak Menguat

    185

    redaksi.co.id – Pemerintah Yakin Rupiah Terus Bergerak Menguat

    Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan faktor penguatan rupiah terjadi karena berbagai faktor. Antara lain, kata dia, kondisi ekonomi Amerika Serikat tidak terlalu baik dan bisa karena perbaikan-perbaikan yang dilakukan pemerintah seperti deregulasi kebijakan. Menurut dia, penguatan rupiah ini sebenarnya bergerak ke arah normalisasi kurs yakni mendekati nilai fundamental.

    “Kalau kita ukur sebenarnya rupiah masih under value, terlalu rendah nilainya. Jadi rupiahnya arahnya akan bergerak menguat,” kata dia.

    Penguatan rupiah ini tergantung oleh perkembangan kondisi ekonomi global. Darmin mengaku sulit menentukan faktor dominan yang mempengaruhi penguatan rupiah, baik melalui faktor eksternal atau internal. Soalnya, kedua faktor tersebut sama-sama bekerja. Dia berharap dalam paket kebijakan ketiga, rupiah dapat terdorong lebih lanjut.

    Begitu pula, saat pemerintah nanti mengeluarkan paket kebijakan keempat. Darmin mengakui sebenarnya paket kebijakan keempat sudah ada, namun dia menolak membocorkan isinya.

    “Nanti lah seminggu lagi baru kita cerita. Jangan lagi begini, kamu tanya keempat, habis itu you enggak cerita yang ketiga lagi,” kata dia. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara berharap penguatan rupiah terus berlanjut karena mengubah competitivnes dari ekspor manufaktur. Senada dengan Darmin, dia menilai penguatan ripiah belum mencapai batas fundamental atau masih undervalue.

    “Dihitung Bank Indonesia sampai Rp 13 ribu masih bagus. Rp 13 ribu lebih-lebih dikit itu masih bagus,” kata dia. Mirza mengatakan adanya paket kebijakan satu, dua dan tiga menunjukan komitmen pemerintah melakukan structural reform meski masih membutuhkan waktu untuk eksekusi dan kebijakan tersebut benar-benar terealisasi sehingga menjadi sumber valas. Seperti dari kebijakan sektor pariwisata.

    “Kalau jangka pendek, ‎oleh Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia terkait menambah suplai valas di spot dan foward market itu jangka pendek. Tapi enggak cukup dengan jangka pendek, structural reform deregulasi ini harus diapresiasi karena itu yang diperlukan,” kata dia. Saat mendapat pertanyaan kekhawatiran penguatan rupiah terlalu tajam, Mirza mengaku tak tertarik dengan hal itu. Dia mengaku dirundung pertanyaan tersebut selama dua hari ke belakang.

    “Saya yakin itu pertanyaan dari mereka yang loss, mereka ingin bahwa rupiah jangan menguat karena mereka sudah loss money karena spekulasi dan sebagainya,” kata dia.

    (red/urista/urnamasari/NP)

    loading...

    Comments

    comments!