Ada yang Janggal di Proyek Gas Masela!

redaksi.co.id - Ada yang Janggal di Proyek Gas Masela! Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Kardaya Warnika mengungkapkan adanya kejanggalan dari rencana pembangunan kilang gas cair...

41 0

redaksi.co.id – Ada yang Janggal di Proyek Gas Masela!

Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Kardaya Warnika mengungkapkan adanya kejanggalan dari rencana pembangunan kilang gas cair (LNG) di Blok Masela. Kejanggalan dipicu pengalamannya ketika masih menjadi Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Kardaya bercerita, pada saat itu ia didatangi oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Migas untuk membahas soal LNG. Mereka bilang mau bikin di darat karena darat lebih murah, lebih gampang, dan resiko lebih kecil, katanya dalam Forum Senator di Jakarta pada Ahad, 11 Oktober 2015. Namun, Kardaya menolak karena mereka berencana membangun kilang tersebut di Darwin, Australia. Jika itu yang terjadi Indonesia tidak akan mendapatkan multiply effect dari kilang tersebut. Saya tidak akan menyetujui kalau bangun di negara lain.

Namun, sekarang KKKS justru mengajukan membangun kilang di laut dengan dalih pembangunan di darat akan menyedot banyak biaya. Itu sebabnya, Kardaya menilai para pengusaha itu hanya mencari alasan. Dulu dia bilang kalau on shore lebih murah, berarti dia dulu bohong, ujar politikus Partai Gerakan Indonesia Raya itu. Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli juga mengkritik rencana proyek gas lapangan abadi Masel. Menurut dia, rencana pembangunan proyek itu perlu dikaji ulang agar dapat memberikan banyak manfaat untuk negara.

Dia pun berpendapat, pembangunan pipa di darat lebih bermanfaat buat negara dan masyarakat ketimbang dengan FLNG. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi pun mengatakan, pemasangan pipa di laut sulit karena di area Blok Masela, di Laut Arafura, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, terdapat beberapa palung laut dengan kedalaman bervariasi hingga 1.500 meter di bawah permukaan laut.

Tapi, SKK Migas mendukung rencana Inpex Masela Ltd mengembangkan kapasitas gas alam cair secara terapung menggunakan kapal FLNG (floating liquid natural gas). Fasilitas produksi ini dinilai lebih efisien dan hemat biaya. “Dari sisi ekonomi, jauh lebih murah FLNG,” ujar Amien Sunaryadi.

Perbedaan pendapat juga mencuat di tubuh pemerintah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menginginkan pembangunan LNG dilakukan di permukaan laut (off shore). SKK Migas sependapat dengan Sudirman. Sedangkan Rizal Ramli menginginkan di daratan (on shore).

(red/hmad/yaiku/AS)

In this article

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!