Tisu asal Indonesia Diboikot

169

redaksi.co.id – Tisu asal Indonesia Diboikot

JAKARTA – Kementerian Perindustrian akan berkomunikasi dengan Singapura supaya pemboikotan penjualan produk kertas dan tisu nasional ditinjau kembali. Sebab, pemboikotan akan mengurangi pendapatan devisa negara dan tenaga kerja.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perindustrian Saleh Husin di sela acara pembukaan pameran 22 Years Experience Da Vinci Indonesia di JCC, Rabu (14/10) malam.

“Kami menyayangkan hal ini terjadi di Singapura,” ujarnya, Rabu (14/10/2015) malam.

Selaku Menteri Perindustrian yang merupakan pembina industri tanah air, dirinya akan kerja keras melindungi produk-produk industri nasional supaya tidak ditolak penjualan di negara lain apalagi sampai diboikot penjualannya.

“Kami sangat berkepentingan melindungi produk yang dihasilkan industri tanah air bisa berproduksi,” katanya.

Boikot penjualan tisu, kata dia, akan mengganggu produksi industri dalam negeri. Jika boikot ini berlanjut seterusnya, produksi akan menurun dan mengganggu tenaga kerja.

Industri kertas dan pulp, kata dia, merupakan salah satu penghasil devisa buat negara. Selain itu, industri perkebunan menyerap banyak tenaga kerja. Untuk industri kertas, jumlah tenaga kerja langsungnya mencapai 2,7 juta pekerja dan industri sawit mencapai 5 juta pekerja langsung.

Jika ditotal, kata dia, jumlah tenaga kerja industri hasil hutan mencapai di atas 10 juta pekerja.

“Devisa yang dihasilkan produk-produk tersebut mencapai 21,7 miliar dolar AS dan pulp 2 sekian miliar dolar as. Tentu ini cukup mengganggu daripada apa perolehan devisa,” katanya.

Pemerintah dan kementerian terkait lainnya akan berkomunikasi dengan Pemerintah Singapura supaya boikot tisu yang dilakukan oleh beberapa supermaket disana dihentikan. Menurut dia, jangan sampai kejadian ini mengganggu hubungan kedua negara.

“Apalagi kerja sama kedua negara sangat erat,” katanya.

Seperti diketahui, pada 7 Oktober lalu, produk tisu Indonesia yang beredar di Singapura ditarik oleh jaringan supermarket NTUC Fair Price atas rekomendasi Pemerintah Singapura dan Singapore Environment Council (SEC), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berbasis di Singapura.

Ada lima perusahaan yang produknya oleh Singapura, yaitu Asia Pulp And Paper (APP), PT Rimba Hutani Mas, PT Sebangun Bumi Andalas Wood Industries, PT Bumi Sriwijaya Sentosa, dan PT Wachyuni Mandira.

NTUC FairPrice menilai Asia Pulp & Paper bertanggung jawab atas kebakaran hutan serta kabut asap yang “menyiksa” banyak negara tetangga. Sejumlah produk yang akan ditarik di antaranya merek Paseo, Nice dan Jolly.

Kami berinisiatif melakukan pertemuan dengan berbagai pihak yang terkait untuk membahas langkah atas sejumlah perusahaan–yang salah satunya APP–karena otoritas menengarai perusahaan tersebut berkontribusi terhadap terjadinya kabut asap,” ujar CEO NTUC FairPrice, Seah Kian Peng.

Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menilai tindakan boikot produk tisu Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah Singapura merupakan sikap diskriminatif.

Direktur Eksekutif APKI Liana Bratasida mengatakan, produsen pulp dan kertas di Indonesia, kata Liana, saat ini sudah sangat memperhatikan lingkungan karena pasar sudah sangat selektif mengenai hal ini.

Sebagai contoh, ia menyatakan salah satu group besar penghasil pulp dan kertas telah menerapkan Forest Conservation Policy (FCP), di mana terdapat komitmen untuk tidak membuka lagi hutan alam.

(red/udhi/wi/nggoro/YDA)

loading...

Comments

comments!